Dahulukala orang-orang beranggapan bumi adalah sesuatu yang rigid atau kaku sementara benua-benua berada pada kedudukannya yang tetap tidak berpindah-pindah. Belakangan setelah orang-orang dapat melakukan pemetaan pantai ternyata terdapat kesesuaian morfologi dari pantai-pantai yang dipisahkan oleh Samudera. Hal ini menjadi titik tolak dari konsep-konsep yang menerangkan bahwa benua-benua tidak tetap akan tetapi selalu bergerak. Kecepatan pergerakan benua bervariasi antara 1 – 10 cm/tahun, tergantung lokasinya. Kalkulasi kecepatan pergerakan lempeng http://sps.unavco.org/crustal_motion/dxdt/model/
Berdasarkan kecepatan pergerakan ini maka diperkirakan pada sekitar 200 – 250 juta tahun lalu semua benua menyatu dan disebut pangea.
Tahun 1857 dua orang ahli kebumian Owen dan Snider mengemukakan bahwa terpisahnya benua disebabkan oleh adanya bencana luar biasa (katastrofik) dalam sejarah bumi. Tahun 1912 Alfred Wegener memperkenalkan konsep apungan benua atau continental drift yang mengemukakan bahwa benua-benua bergerak secara lambat melalui dasar samudera. Akan tetapi teori ini tidak bisa menerangkan adanya dua sabuk gunung api di bumi.
Konsep paling mutakhir yang dianut oleh para ilmuwan sekarang yaitu Teori Tektonik Lempeng. Teori ini lahir pada pertengahan tahun enampuluhan. Teori ini terutama didukung oleh adanya Pemekaran Tengah Samudera (Sea Floor Spreading) dan bermula di Pematang Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge : MOR) yang diajukan oleh Hess (1962). Teori Tektonik Lempeng adalah penyempurnaan dari teori yang diajukan oleh Alfred Wegener tahun 1912. Teori tektonik lempeng ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra
Video: Animasi pergerakan benua sejak 260 juta tahun lalu himgga kini.
Kerakbumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerakbumi ini pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerakbumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya. Arus konvensi tersebut merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang.
Lempeng dan pergerakannya
Menurut teori ini kerakbumi (lithosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut.
Ada dua jenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan sangat basa, yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera.
Kedalaman akar (root) lempeng benua dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang diturunkan dari hukum Pascal & hukum Archimedes sbb:
Kedalaman Lempeng Benua = (ρ1 X h)/( ρ2 - ρ1)
ρ1 = Densitas Lempeng Benua =2.8 gram/cc ρ2 = Densitas Lempeng Samudra = 3.3 gram/cc h= Ketinggian puncak benua dari permukaan laut (meter atau km).
Contoh; misal ketinggian suatu benua adalah 2 km di atas permukaan laut, maka benua itu ”tertanam” atau ”terpasak” ke dalam lempeng samudra sedalam: (2.8 gram/cc X 2 km)/(3.3 – 2.8) gram/cc = 11.2 km
Jenis Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng kerakbumi ada 3 macam yaitu pergerakan yang saling mendekati (convergen), saling menjauh (divergen) dan saling berpapasan/bergeseran (transform).
Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di selatan Pulau Jawa dan jalur gunungapi Sumatera, Jawa dan Nusatenggara dan berbagai cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan Cekungan Jawa Utara.
Video : Animasi pergerakan lempeng samudra serta pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia dan terbentuknya pegunungan (berapi) di sepanjang pulau Jawa.
Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerakbumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur magmatik atau gunungapi. Contoh pembentukan gunungapi di Pematang Tengah Samudera di Lautan Pasific dan Benua Afrika. Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti misalnya sesar (patahan) Semangko di Sumatera atau sesar Besar San Andreas di Amerika.
Pergerakan Benua Menurut Perspektif Quran.
[QS Ar-Rald (13):4] Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.
Ayat ini dengan sangat jelas menginformasikan apa yang sekarang dikenal dengan "plate tectonic", adanya lempengan-lempemgan samudra dan lempengan-lempemgan benua yang berdampingan. Kebun-kebun dan pohon-pohon mempunyai arti adanya daerah-daerah atau tempat-tempat yang subur, dan ini terbukti di perbatasan pertemuan lempeng samudra dan lempeng benua terbentuk barisan pegunungan berapi yang karenanya tempat-tempat itu menjadi subur.
[QS An-Naml (27):88] Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS Ath-Thuur (52):10] dan gunung benar-benar berjalan.
Sains membuktikan bahwa baik benua maupun gunung-gunung (berapi) memang bergerak, sejak semua benua masih menyatu (pangea) pada sekitar 250 juta tahun lalu hingga kini.
[QS An-Nahl (16):15] Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.
[QS An-Nabaa’ (78):7]dan gunung-gunung sebagai pasak ?,
[QS An-Naazi’at (79):32]Dangunung-gunungdipancangkan-Nya dengan teguh,
[QS Al-Anbiya 21:31] Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.
Video : Plate tectonic dan pergerakan gunung-gunung dalam perspektif Al-Quran.
1. Cox and Hart (1986) give a complete and introductory description of plate tectonics and methods of global tectonic investigations. A thorough and detailed presentation of seismology are presented in Lay and
2. Wallace (1995) and Bolt (1982), the later being more geared towards the introductory student 3. Elsom (1992), Marvin (1973), Erickson (1992), Wyllie (1976), Sullivan (1974) and Calder (1972) present a broadly based look at global plate tectonics. 4. Bruce Bolt, Inside the Earth, Evidence from Earthquakes, W.H. Freeman and Co., 1982. 5. Nigel Calder, The Restless Earth, Penguin Books, 1972. 6. Wallace Campbell, Introduction to magnetic fields, Cambridge University Press, 1997. 7. Derek Elsom, Earth, The Making, Shaping and Workings of a Planet, MacMillan Publishing Company, 1992.
Berdasarkan ilmu kebumian, seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi gempa kecuali Kalimantan, yang merupakan satu-satunya daerah bebas gempa dangkal. Salah satu dari gempa bumi tersebut disertai tsunami raksasa, yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Tsunami yang melanda tidak kurang dari 11 negara itu, menewaskan seperempat juta manusia seketika.
Setelah tsunami raksasa tersebut, timbullah beberapa pertanyaan. Ada apa dengan bumi kita? Apakah Tuhan sedang marah karena dosa yang telah kita perbuat? Beberapa orang luar Aceh melemparkan jawaban setengah bergurau, bahwa peristiwa tersebut adalah akibat dosa besar penduduk Aceh yang ingin keluar dari NKRI. Ironisnya, gempa dan tsunami kemudian juga menimpa daerah mereka.
Setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami secara beruntun selama tahun 2004-2007 di daerah Pangandaran, Yogyakarta, Indramayu, Bengkulu, Mentawai dan yang terbaru di Sumatra Barat, barulah masyarakat dan tokoh agama berusaha menyikapi fenomena tersebut dengan lebih bijak.
*******
Para ahli kebumian telah mengetahui bahwa bumi ini terbagi menjadi lempeng-lempeng (plate) tektonik, yang saling bergerak dengan kecepatan 5-10 cm/tahun. Di Indonesia terdapat 3 lempeng besar yang saling berinteraksi, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Interaksi ini menghasilkan serangkaian gunungapi aktif yang dikenal dengan “Ring of Fire” (cincin api).
Pergesekan/tubrukan antar lempeng tersebutlah yang menghasilkan gempa. Jalur gempa bumi di Indonesia pun selaras dengan cincin api ini. Jalur gempa melingkari sebelah selatan Indonesia sejajar dengan Kepulauan Mentawai dan Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok di Laut Banda hingga Halmahera.
Kondisi tektonik Indonesia tersebut, terbentuk melalui proses evolusi panjang sejak 150 juta tahun yang lalu. Cincin api itu terbentuk jauh sebelum manusia ada. Bahkan mungkin jauh sebelum perdebatan antara Allah SWT dengan para malaikat, tentang perlu tidaknya keberadaan manusia sebagai khalifah di Bumi.
Gempa merupakan salah satu pesan Allah SWT bagi umat manusia, bahwa tak ada makhluk yang dapat mencegah kehendak-Nya. Konsekuensi gempa tersebut dapat berupa bencana atau rahmat, tergantung sejauh mana manusia mempersiapkan dirinya. Apabila sinyal Allah SWT ini disambut dengan matang, Insya Allah akan mendatangkan rahmat. Contohnya adalah penduduk Aceh, yang memperoleh perdamaian dan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa setelah tsunami Desember 2004.
Kalaupun gagal, mereka yang tewas akibat gempa dan tsunami insya Allah tetap mendapat predikat syahid. Sesungguhnya Allah sangat menghargai apapun usaha kita. Yang celaka ialah mereka yang tidak siap lahir maupun batin.
Menghindari malapetaka menurut Islam wajib hukumnya. Seperti yang dicontohkan dalam kisah Umar r.a. ketika ia menghindari Kota Amawas karena kota tersebut sedang terjangkit wabah tha’un. Saat ditanya oleh Abu Ubaidah, ”Mengapa engkau lari dari takdir Allah?” Umar r.a. menjawab, ”Aku lari dari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.”
Dengan demikian, kita harus memadukan pemahaman sains dan Al Qur’an agar menghasilkan takdir terbaik bagi umat Islam Indonesia. Dengan demikian, fenomena cincin api dapat menjadi kesempatan yang besar untuk menggapai surga, tidak lagi menjadi bencana yang merugikan. Caranya, menurut Syeikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi ialah berdo’a dan perbanyak istighfar sebelum malapetaka tiba. Atau bertawassul dengan cara menyebutkan amal-amal terbaik yang pernah dilakukan selama hidup. Insya Allah, malapetaka dapat dihindari atau kita syahid bersama malapetaka tersebut.
”Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.”(Q.S. An Nahl: 79)
Surat An-Nahl ayat 79 di atas merupakan ayat yang paling terkait dengan atmosfer. Dalam ayat tersebut, terdapat kata jawwis samaa’i dimana jawwi berarti melindungi dan samaa’i berarti langit. Jadi, kata jawwis samaa’i berarti langit yang melindungi, yang dalam ayat tersebut diartikan sebagai angkasa bebas.
Kata ”burung” yang digunakan dalam ayat di atas, menunjukkan bahwa angkasa tersebut adalah batas tertinggi adanya kehidupan. Sebab burung tidak dapat terbang lebih tinggi dari jawwis samaa’i. Kata jawwis samaa’i ini juga diartikan sebagai ghilaful ardhil hawa’i atau penutup bumi yang masih terdapat hawa (udara yang digunakan untuk bernafas, oksigen).
Jika dihubungkan dengan ilmu meteorologi, maka jawwis samaa’i dapat diartikan sebagai troposfer. Sebab troposfer merupakan lapisan atmosfer terendah yang masih mengandung oksigen dalam jumlah melimpah. Karena posisinya yang paling dekat dengan permukaan, maka densitas udara pada lapisan ini pun paling tinggi dibandingkan lapisan atmosfer lainnya.
Lapisan troposfer atau jawwis samaa’i ini, juga merupakan tempat terjadinya fenomena cuaca seperti hujan dan angin. Dalam Al-Qur’an, fenomena cuaca dijelaskan dengan istilah yang berbeda-beda. Untuk angin kencang yang menyenangkan digunakan kata rih. Lalu kata jawwi untuk udara, dan hawa untuk udara yang bergerak. Khusus untuk hujan, proses terbentuknya diuraikan secara detail dalam surat An-Nuur ayat 43. Hal ini adalah salah satu isyarat ilmiah dari Al-Qur’an karena di Jazirah Arab hujan hanya turun 3 kali dalam setahun.
Isyarat ilmiah lain yang berkaitan dengan cuaca, dapat ditemukan dalam surat Ath-Thariq ayat 11. Dalam ayat tersebut digunakan kata raj’i yang berarti kembali, untuk menyebut kata ”hujan”. Ilmu meteorologi telah menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap air yang naik dari Bumi ke udara, kemudian kembali turun ke Bumi, naik lagi ke atas dan kembali lagi ke Bumi, begitulah seterusnya.
Informasi mengenai lapisan atmosfer dan fenomena cuaca ternyata telah diberikan Al-Qur’an sejak 14 abad silam. Informasi ini baru dapat kita pahami setelah munculnya ilmu meteorologi modern. Namun, di luar isyarat-isyarat ilmiah ini, ada satu hal yang perlu kita perhatikan. Setiap kali sebuah ayat Al-Qur’an membahas ciptaan Allah, ia selalu disertai dengan pertanyaan tentang Allah. Artinya, semua yang diciptakan-Nya telah diatur sedemikian rupa, dan tidak ada kekuatan lain yang mampu mengubahnya selain Allah SWT. Wallahu a’lam bisshowab.
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut siklus batuan atau ROCK CYCLE.
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:
1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi. 2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah “hujan asam” yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia. 3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:
1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah. 2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini. 3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun. 4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.
Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah mineral yang dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang terjadi tergantung dari:
1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi. 2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk. 3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik.
Kadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang. 2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut “gas bubble”.
Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif dalam dan tidak mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di Sierra Nevada – USA yang merupakan batholit granit yang sangat besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang. 2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan angular interlocking.
Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.
Referensi :
* Oxford University Museum - http://www.oum.ox.ac.uk/
Berbagai masalah yang sering menjadi kendala utama dalam pengelolaan dan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia di antaranya adalah aksesibilitas. Ini disebabkan utamanya karena lokasi yang terpencil dan terisolir, sumber daya air dan infrastruktur yang sangat terbatas, tingkat pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang rendah. Setiap pulau kecil atau gugus pulau-pulau kecil memiliki karakteristik dan tingkat kerentanan yang berbeda dibandingkan dengan pulau besar.
Dalam kaitannya dengan optimalisasi pengelolaan guna pemberdayaan pulau-pulau kecil di Indonesia, perlu dilakukan pengelompokan pulau-pulau kecil tersebut berdasarkan proses pembentukan melalui tahapan atau evolusi tektoniknya. Kegiatan ini dilakukan untuk menghimpun data dan informasi spasial tentang karakteristik pulau kecil beserta gugusannya berdasarkan tektonogenesisnya, kondisi fisik perairan disekitarnya, potensi sumberdaya mineral, energi, dan air tanah, serta potensi kebencanaannya. Data dan informasi yang dihimpun pada kegiatan ini merupakan masukan stratejik bagi penyusunan rencana tata ruang darat, laut dan dirgantara guna optimasi pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil itu. Pengelompokan yang dilakukan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang karakteristik geologi kawasan pulau-pulau kecil, yang pada hakekatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup dan kehidupan penghuni di atasnya.
Tataan geologi wilayah Indonesia yang dikenal rumit, terjadi sebagai akibat interaksi 3 lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah barat-baratlaut dengan kecepatan sekitar 10 cm per tahun, Lempeng Samudra India-Benua Australia (Indo-Australia) yang bergerak ke utara-timurlaut dengan kecepatan sekitar 7 cm per tahun, serta Lempeng Benua Eurasia yang relatif diam, namun resultante sistem kinematiknya menunjukkan gerakan ke arah baratdaya dengan kecepatan mencapai 13 cm per tahun. Hasil interaksi lempeng-lempeng tersebut menyebabkan terjadinya berbagai peristiwa geologi yang spektakuler, seperti kegiatan magmatik dan terbentuknya zona-zona kegempaan dengan intensitas tinggi, terangkatnya kerak bumi sehingga topografi lebih tinggi dari muka air laut pada saat pasang maksimum, atau yang kemudian dikenal sebagai pulau, dan pembentukan cekungan-cekungan sedimen yang kaya berbagai potensi energi dan sumber daya mineral.
Berdasarkan genesis dan kedudukan terhadap tataan tektonik regional saat ini, pulau-pulau dan gugusan pulau-pulau di Indonesia, secara garis besar, dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu:
1. Kelompok pulau-pulau yang terbentuk di luar busur magmatik, disebut kelompok pulau-pulau busur muka 2. Kelompok pulau-pulau yang terbentuk pada busur magmatik, disebut kelompok pulau-pulau busur magmatik 3. Kelompok pulau-pulau yang terbentuk pada paparan benua dan busur belakang, disebut kelompok pulau-pulau paparan benua dan busur belakang 4. Kelompok pulau-pulau yang terbentuk sebagai benua renik, disebut kelompok pulau-pulau benua renik
Pengelompokan pulau-pulau tersebut di atas dilakukan berdasarkan atas fenomena konvergensi antara kerak benua dan kerak samudra yang mendominasi tataan tektonik di Indonesia. Pulau-pulau kecil yang dihasilkan oleh konvergensi antara kerak benua dan kerak benua atau pemekaran lantai samudra, tidak ditemukan pada tataan tektonik masa kini di wilayah Indonesia.
Selanjutnya hasil kajian tersebut disajikan kedalam 23 tema atlas peta dengan fokus pada kelompok pulau kecil yang tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peta-peta tersebut meliputi Peta Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Peta Kelompok Pulau Kecil Berdasarkan Tektonogenesis, dan berikutnya masing-masing dilengkapi dengan informasi tentang Karakterisik Geologi, Lokasi dan Tipe Pasang Surut, Kurva Suhu Permukaan Laut, Kurva Anomali Suhu Permukaan Laut, Kurva Deviasi Paras Muka Laut, Kurva Anomali Paras Muka Laut, Kurva Latent Heat Flux, Kurva Net Heat Flux, Kurva Sensible Heat Flux, Kurva Iradiasi Matahari, Kurva Iradiasi Bumi, Kurva Presipitasi, Kurva Anomali Presipitasi, Lokasi Gempa, Lajur Bahaya Goncangan Gempa, Sumber Daya Nirhayati, Karakteristik Hidrogeologi, Terumbu Karang, Tutupan Lahan, Wilayah Provinsi. Disertakan pula Daftar 92 Pulau Kecil di 37 Wilayah Kabupaten.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
1. Hanya menyembah Allah semata,
2. dan tidak mempersekutukannya,
3. serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah.
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
1. Suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar),
2. Banyak bertanya (yang tidak berfaedah),
3. serta menyia-nyiakan harta”