Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Minggu, 19 Juli 2009

Cara Beragama yang Shahih...?

Bekal Menuju Jalan yang Lurus -Shirathal Mustaqim-....bag 1
(Tiga Pondasi Dasar dalam Mengikuti Shirathal Mustaqim)

Pondasi Pertama : ”Mengikuti al-Quran dan mengamalkan nya”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu)
Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba'du, (adapun selanjutnya)
Wahai saudara ku... semoga Allah menjaga kita semua dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus yaitu jalan orang – orang yang Allah berkenikmatan kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya didalam al-Quran surat Al-Fatihah.

”Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Q.S Al-Fatihah ayat 6 -7)

Jika engkau bertanya, Siapakah orang – orang yang telah diberi rahmat oleh Allah...? mereka adalah para Nabi, para Shiddiiqiin, orang yang mati syahid dan orang shaleh. Sebagaimana firman-Nya.

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Q.S 4. An Nisaa' ayat 69 – 70)

Wahai saudara ku... -semoga Allah merahmati kita semua-
Perhatikanlah pembahasan ini dan pembahasan sebelum nya (Islam Agama yang Haq...), karena pembahasan ini adalah pokok agama. Pondasi dasar dari agama mu, jika engkau tidak mengindahkan apa yang kami bawakan ini. Niscaya engkau tidak akan selamat dan jalan yang luruspun tertutup bagi dirimu.

Ketahuilah, jalan yang Lurus itu hanya satu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Q.S 6 Al-An’aam ayat 153)

”Lafaz Sirat atau Jalan-Nya didalam ayat ini. Ini dalam bentuk tunggal karena perkara yang haq itu hanya satu. Lafazh Subul bentuk jamak dari Sabil, Sabil adalah bentuk tunggal. Sedangkan Subul adalah bentuk jamaknya. Subul adalah jalan – jalan yang bercabang – cabang dan bercerai berai.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Jalan inilah yang selalu kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala minimal 17 kali dalam sehari semalam didalam Shalat lima waktu, yaitu didalam surat Al-Fatihah ayat 6.

”Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (Q.S 1 Al-Fatihah ayat 6)

Apakah jalan lurus itu....?
”(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Q.S 1 Al-Fatihah ayat 7)

Siapa mereka...?
Orang yang diberi nikmat itu adalah para Nabi, para Shiddiiqiin, orang yang mati Syahid dimedan perang dan orang Shaleh.

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 69 – 70)

Dengan demikian maka jelaslah bagi kita bahwa, jalan yang lurus itu (Islam yang Shahih) adalah jalan nya para Nabi, para Shidiiqiin, para Syuhada, para Shalihin. Mereka itulah orang yang Allah bernikmat.

Lalu timbul pertanyaan...? Bagaimana meniti Jalan mereka itu (jalan yang lurus itu). Karena pada zaman sekarang betapa banyak nya orang yang mengajak kepada Islam tetapi hanya kedok saja.
Semoga Allah menyelamatkan kita semua dan menjaga kita semua dari mereka.

Ketahuilah... wahai saudaraku...
Barangsiapa yang ingin meniti jalan yang lurus yaitu Islam yang Shahih (yang benar) maka hendaklah ia mengikuti tiga pondasi dasar ini. Yaitu Pertama : Mengikuti Al-Quran, Kedua : Mengikuti As-Sunnah (Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam), dan yang Ketiga : Mengikuti Manhaj Sahabat dan Orang – Orang yang mengikuti mereka dengan baik yaitu Tabi’in, Tabi’ Tabi’in, Baik mengikuti mereka dalam Ilmu, Amal dan Dakwah mapun yang lain nya.

Kita Masuki Pembahasan yang pertama yaitu Mengikuti Al-Quran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup manusia, firman-Nya

”Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (Q.S 2.Al-Baqarah ayat 1 – 2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita dan mewajibkan kepada kita untuk mengikuti Al-Quran, sebagaimana firman-Nya.

”Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (yaitu Al-Quran) sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (Q.S 39 Az-Zumar ayat 55)

Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu." Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Q.S 10 Yunus ayat 108 – 109)

”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Q.S 7 Al-A’raaf ayat 3)
”Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Q.S 6 Al-An’aam ayat 155)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam terhadap orang yang berpaling dari al-Quran
”Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Q.S 43 Az-Zukhruf ayat 36 – 37)

”Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.” (Q.S 72 Jin ayat 17)

”Barangsiapa berpaling dari pada Al qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.” (Q.S 20 Thaahaa ayat 100 – 101)

Kesimpulan
Suatu kesimpulan yang dapat kita tarik dari ayat – ayat yang mulia ini, yang telah kami sebutkan diatas adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kepada orang – orang beriman untuk mengikuti Al-Quran yang telah diturunkan kepada mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam dengan ancaman yang sangat keras bagi orang – orang yang berpaling dari al-Quran. Maka dari itu Wajib Hukum nya Mengikuti Al-Quran, karena al-Quran adalah petunjuk dan menjadi sebab kemulian bagi orang yang mengikuti nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab (Al-Quran) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S 21. Al Anbiyaa' ayat 10)

Dengan demikian pondasi pertama didalam meniti jalan yang lurus adalah mengikuti al-Quran dan selalu merujuk kepada al-Quran dan ini adalah permasalahan yang sangat jelas.

Cara Beragama yang Shahih...? (bag kedua)

Permintaan pertemanan terkirim.
18 Juli jam 16:11
Bekal Menuju Jalan yang Lurus -Shirathal Mustaqim-....bag 2
(Tiga Pondasi Dasar dalam Mengikuti Shirathal Mustaqim)

Pondasi Kedua : ”Mengikuti as-Sunnah (Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam) yang Shahih”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu)
Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba'du, (adapun selanjutnya)
Wahai saudara ku... semoga Allah menjaga kita semua dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus. Alhamdulillah, kita sudah mengetahui pondasi yang pertama, yaitu mengikuti al-Quran. Sekarang kita masuk kepada pondasi yang kedua, yaitu Mengikuti As-Sunnah (Hadit) yang Shahih.

Wahai Saudara ku -semoga Allah menjaga kita semua-
Al-Quran tidak bisa berdiri sendiri, al-Quran tidak bisa dipahami sendiri, al-Quran tidak bisa diamalkan dengan sendirinya kecuali harus ada yang menafsirkan al-Quran. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, sebagai penafsir al-Quran.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

”Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Q.S 16 An-Nahl ayat 44)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sebagai timbangan ketaatan kepada-Nya. Barangsiapa yang mencintai Allah, maka hendaknya dia mengikuti Rasulullah, dan barangsiapa yang Taat kepada Rasulullah, maka dia telah taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Katakanlah (Muhammad kepada Mereka) : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (Q.S 3 Ali Imran ayat 31 – 32)

”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 80)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikkan (menghilangkan) keimanan bagi orang – orang yang tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sebagaimana firman-Nya.

”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 65)

Kesimpulan nya : Salah satu bentuk mengikuti al-Quran adalah mengikuti as-Sunnah. Mengikuti al-Quran saja tidak cukup, karena al-Quran tidak bisa kita amalkan kecuali dengan as-Sunnah (Hadit Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam). Dengan demikian maka wajib hukum nya mengikuti As-Sunnah yang Shahih. Selalu merujuk kepada kedua nya, ini adalah sumber yang bersih dan ma’sum (terbebas kekeliruan). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita mengembalikan semua perkara kepada kedua nya, yaitu al-Quran dan as-Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 59)

Peringatan.
Seorang muslim yang masih lurus dan masih bersih di atas fitrahnya, maka tidak ada yang mengingkari hal ini. Namun sangat kita sayangkan... ada diantara kelompok yang mengatakan mereka dari Islam tetaoi mereka mengingkari Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Kami bawakan ini supaya kita bisa berhati – hati terhadapa mereka. Dan membentengi diri dari mereka. Mereka ini Inkaras Sunnah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sudah memberitahukan kepada kita, 14 abad yang lalu, sebelum orang – orang ini (Inkar Sunnah) ini muncul. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :

” Telah dekat datangnya masa, seorang laki – laki yang bersandar pada difan yang penuh hiasan, sambil berbicara mengenai hadits dari hadits – hadits ku, tetapi dia mengatakan kepada orang – orang di sekeliling nya : ”Diantara kami dan kamu sekalian hanya ada Kitabullah (Al-Quran). Apa yang kita temui dari sesuatu yang dihalalkan dalam kitab itu, maka kitapun menghalalkan nya dan apa yang kita temui dari sesuatu yang diharamkan, maka kitapun mengharamkan nya.” (Selanjtnya Rasulullah bersabda) ”Ketahuilah, bahwa apa yang diharamkan oleh Rasulullah itu sama seperti apa yang diharamkan Allah.” (Hadits Shahih, Di Shahihkan oleh Imam Al-Albani, dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dan yang lain nya)

Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.
Perlu kami beritahukan as-Sunnah (atau Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam) adalah merupakan wahyu yang Allah turunkan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al-Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S 2. Al Baqarah ayat 231)

”Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S 53 An-Najm ayat 3 – 4)

Imam Ibnu Katsir berkata : ”Apa yang diucapkan nya itu bukanlah keluar dari hawa nafsunya dan bukan pula karena dilatarbelakangi tujuan. Sesungguhnya ucapan yang diucapkan nya itu hanyalah semat-mata berdasarkan wahyu yang diperintahkan kepadanya untuk ia sampaikan kepada manusia dengan sempurna dan apa adanya tanpa penambahan dan pengurangan.” selanjutnya Imam Ibnu Katsir membawakan beberapa hadits. Insa’ Allah akan kami sebutkan diantar nya

Maka perhatikan hadits ini baik – baik, semoga Allah memperjelas permasalahan ini bagi kita.

Abdullah bin Amr Radhiyallahu’anhu yang mengatakan (atau menceritakan) bahwa ia mencatat semua yang pernah ia dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan maksud untuk menghafalkan nya. Kemudian orang Quraisy melarangku berbuat demikian. Mereka (orang Yahudi) mengatakan, ”Sesungguhnya kamu mencatat semua yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah seorang manusia yang juga berbicara di saat emosinya.” (Kata Abdullah bin Amr) Maka aku menahan diri dari memulis, kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Dan Beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda.
”(Tulislah) Teruskan tulisan mu, Demi Tuhan yang jiwa ku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak ada yang keluar dari mulutku (lisanku) melainkan hanya kebenaran semata.” (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Imam Ahmad)

Dan Hadits yang lain nya, Beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda. “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (As-Sunnah).” (Hadits Shahih, Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 6 / 8, Imam Abu Daud, 4604 dan Imam Tirmidzi, 2660)

Maka dari itu, jika ada orang yang menolak hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam yang telah sah datang nya dari beliau menurut para ulama ahli Hadits. Maka ketahuilah mereka telah sesat dan menyesatkan dan yang mereka ikuti bukanlah Islam. Karena Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Barbahari didalam kitabnya.

Kenapa Islam adalah as-Sunnah dan as-Sunnah adalah Islam....? Karena seorang muslim yang tidak berpegang kepada Sunnah, maka ia tidak akan bisa mengamalkan Islam. Saya berikan contoh.
Shalat adalah ibadah yang paling agung didalam Islam dan bahkan menjadi rukun Islam. Pernahkan kita mendapatkan tata cara shalat yang lengkap didalam al-Quran...? pernahkan kita mendapatkan ayat tetang berapa jumlah rakaat nya, bagaimana cara duduk nya dan seterusnya...? Jawab nya ”Tidak Akan Pernah Kita Dapatkan didalam Al-Quran penjelasan secara lengkap tetang Tata cara Shalat, maka dari Itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda.

”Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.”
(Hadits Shahih, riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad)

Maka dari itu benarlah apa yang dikata oleh Imam al-Barbahari, dan terakhir lihatlah perkataan ulama ini.
Imam Besar, Imam Ayyub Sikhtiyani, ia berkata : “Jika kamu membicarakan As-Sunnah (Hadits) kepada seseorang, lalu ia berkata : “Buanglah ini (hadits) dari kami, cukup bagi kami al-Quran,” (maka) ketahuilah bahwa dia adalah orang sesat.” (Lihat Dzammul Kalam wa Ahluuhu, 2/56)

Kesimpulan, Maka Jelas sekali kesesatan dan kekufuran orang – orang yang menolak hadits Rasulullah.

Siapa yang mau membahas permasalahan ini lebih dalam lagi, silahkan merujuk kepada kitab “Adillatu wa asy-Syawahidu ‘ala wujuubil akhdi bikhabaril waahidi fie al-Ahkam wal A’qaaid,” karya seorang Ahli Hadit yaitu al-Allamah al-Muhaddits Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilaly. Alhamdulillah sudah diterjamahkan dengan judul “Hadits Ahad Hujjah Dalam Hukum dan Aqidah” penerbit Pustaka As-Sunnah. Atau kitab guru beliau yaitu al-Imam al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Bekal Menuju Jalan yang Lurus -Shirathal Mustaqim-....bag 3
(Tiga Pondasi Dasar dalam Mengikuti Shirathal Mustaqim)

Pondasi ketiga : ”Mengikuti Manhaj (Jalan) Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu)
Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba'du, (adapun selanjutnya)
Wahai saudara ku... semoga Allah menjaga kita semua dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus yaitu jalan orang – orang yang Allah berkenikmatan kepada mereka. Ketahuilah ini adalah pembahasan yang terakhir dari pembahasan kita ini. Perlu kami sampaikan, al-Quran dan as-Sunnah adalah Sumber Islam yang Shahih yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jaga kedua nya sampai hari Kiamat. Karena al-Quran adalah kalamullah (perkataan Allah) sedangkan as-Sunnah adalah Pentafsir al-Quran. Sebagaimana yang telah kami bahas sebelum nya. Orang – orang zindiq ingin merubah al-Quran tetapi mereka tidak mampu merubahnya meskinpun satu huruf. Karena al-Quran mendapat penjagaan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya.

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S 15 Al-Hijr ayat 9)

Lalu mereka (orang – orang zindiq) ingin memalsukan hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, tetapi mereka tidak juga mampu. Berapa banyak hadits – hadits yang telah dijelaskan oleh para ulama yang tidak ada asal usul nya dan berapa banyak ulama yang menghabiskan umur mereka untuk menjaga hadits yang mulia ini. Para ulama berkata : ”Tidaklah seseorang berdusta atas Nama Rasulullah dibarat bumi, melainkan akan diketahui oleh Ulama ditimur bumi.” -semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada para ulama yang telah menjaga as-Sunnah-karena mereka kita bisa mengikuti as-Sunnah ini.

Al-Quran dan As-Sunnah adalah dua sumber Islam yang Shahih dan yang Mutlak. Yang keduanya masuk kedalam penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya mereka (kaum Zindiq) mencoba memasuki kaum muslimin dengan merasuki pemahaman mereka. Merubah tafsir dan makna – makna al-Quran dan as-Sunnah, sedikit demi sedikit. Maka dari itu para Ulama pun membersihkan pemikiran – pemikiran (orang zindiq) dengan membuat sebuah penyaringan dan filterisasi yaitu dengan mendakwahkan Manhaj Sahabat dan mengikuti Manhaj Sahabat, yang semua nya ini adalah diambil dari al-Quran dan as-Sunnah.

Apa itu Manhaj...?
Manhaj adalah النهح , والمنهخ , والمنهاخ “Jalan yang nyata dan terang.”
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman didalam al-Quran surat al-Maidah ayat 48.
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Q.S Al-Maidah ayat 48) Yaitu syariat dan jalan terang dan jelas.

Kesimpulan nya adalah yang dimaksud dengan “Manhaj adalah Jalan yang nyata”. (Al-Wajiz fi Manhajis Salaf)

Apa itu Manhaj Sahabat...?
Manhaj Sahabat adalah Jalan yang nyata dan terang yang telah dilalui oleh para Sahabat, yang mana mereka adalah generasi Umat Islam yang terbaik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S Ali Imran ayat 110)

Apa Hukum Mengikuti Mereka (Para Sahabat)...?
Hukum mengikuti Manhaj mereka adalah wajib berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama.

1. Dalil dari al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S At-Taubah ayat 100)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : ”Segi pengambilan dalil dari ayat ini, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang – orang yang mengikuti mereka (para sahabat) dan meridhai mereka.”

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Q.S Al-Baqarah ayat 143)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : “Segi pengambilan dalil dari ayat ini, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa Dia menjadikan sahabat sebagai umat terbaik lagi adil, inilah hakekat pertangahan. Mereka adalah sebaik – baik umat, paling adil dalam ucapan, perbuatan, kemauan dan niat mereka, karena itu mereka berhak untuk menjadi saksi bagi para rasul atas umatnya ketika hari kiamat.”

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S Luqman ayat 15)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : “Setiap orang dari generasi sahabat adalah orang yang kembali (tobat) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka wajib mengikuti jalannya, sedangkan ucapan – ucapan, serta keyakinan (aqidah) mereka adalah jalan mereka yang terbesar.”

2. Dalil dari as-Sunnah
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda didalam hadits yang derajat nya Mutawwatir
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلو نهم
“Sebaik – baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Qayyim berkata : “Nabi Shallallahu'alahi wa Sallam memberikan bahwa sebaik – baik masa adalah masa beliau secara mutlak, ini berarti keharusan untuk (mengikuti) mengutamakan mereka dalam setiap pintu kebaikkan, sebab jikalau tidak demikian andaikan mereka baik dalam beberapa segi saja, niscaya mereka bukan sebaik – baik masa secara mutlak.”

Dan Sabda beliau Shallallahu'alahi wa Sallam. “Janganlah kalian mencaci maki sahabatku, karena andaikan salah seorang dari kalian menginfakkan emas seberat gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan menyamai satu mud atau setengahnya dari infak mereka.”(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, di Shahihkan oleh Syaikh Salim)

Imam Ibnu Qayyim berkata : “Nabi Shallallahu'alahi wa Sallam memberitakan bahwa sebaik – baik masa adalah masa beliau secara mutlak, ini berarti keharusan untuk mengutamakan mereka dalam setiap pintu kebaikkan, sebab jikalau tidak demikian andaikata mereka baik dalam beberapa sisi saja, niscaya mereka bukan sebaik – baik masa secara mutlak.”

Manhaj inilah yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk kita ikuti, Sabdanya,

”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendengar dan taat sekalipun yang memerintahkan kamu adalah seorang hamba. Karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian kelak akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kelian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidun yang mendapat pentujuk, gigitlah ia dengan gerhammu.” (Hadits Shahih, Dikeluarkan oleh Imam Abu Daud dan Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih)

3. Dali dari Ijma’ (Kesepakatan Ulama)
Cukuplah apa yang dikatakan oleh Sahabat yang Mulia, yaitu Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu,
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu : “Barangsiapa yang ingin mengambil teladan, maka ambilah (dari) sahabat Muhammad, mereka (para Sahabat Nabi) adalah kelompok umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit tindakkan anehnya, paling lurus petunjuknya, dan paling bagus keadaan nya. Mereka adalah kaum pilihan Allah berkat kebersamaan nya dengan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi wa Sallam, maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah ajaran dan tuntunan mereka, karena sesungguhnya mereka senantiasa berada diatas petunjuk yang lurus.” (Jami’ bayani Ilmi Wafadlihi, 2 / 947, No, 1810)

Kesimpulan nya, Wajib mengikuti Manhaj (Jalan nya) Para Sahabat, baik dari mengikuti didalam hal ilmu, amal, dakwah dan yang lain nya. Dan inilah madzhab para Ulama dan mereka (para Ulama) selalu menyeru kepada Manhaj yang Haq ini. Tidak ada ulama yang menyelisihi nya.

Imam Al-Khatib al-Bagdadi Rahimahullah berkata : ”Ini adalah Madzhab seluruh Ulama dan orang yang patut di ikuti pendapatnya dari kalangan Fuqaha’ (ahli fiqih).” (Al-Kifayah fi ’Ilmi al-Riwayah, hal 48 – 49)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancaman bagi orang menyelisihi Jalan nya Para Sahabat.
”Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (Sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S An-Nisa’ ayat 115)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai orang yang mengikuti Manhaj Sahabat.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S At-Taubah ayat 100)

Mengikuti mereka (para Sahabat) adalah mengikuti didalam pemahaman, mengikuti didalam amal, mengikuti didalam dakwah dan lain – lain nya, terlebih lagi didalam aqidah. Karena manhaj sahabat adalah al-haq, kebenaran itu sendiri. Tanpa mereka (para sahabat) kita tidak mengetahui tetang Islam. Maka wajib kita berpegang dengan tiga pondasi ini, dan inilah jalan yang lurus dan tidak ada jalan selainnya.

Kesimpulan dari penjelasan tiga pondasi ini (Mengikuti al-Quran, Mengikuti As-Sunnah dan Mengikuti Manhaj Sahabat), Faidah yang dapat kita ambil dari pembahasan ini.

1. Inilah Pegangan dan Bekal bagi seorang Muslim untuk menuju Islam yang Sempurna dan yang benar, yaitu mengikuti al-Quran, as-Sunnah dan mengikuti Pemahaman Sahabat, baik dalam hal pemahaman (Ilmu), dalam hal Ibadah (Amal), dakwah dan lain nya. Tiga pondasi ini adalah Jalan Yang Lurus, Barangsiapa yang mengikuti nya maka mereka tidak akan tersesat dan barangsiapa yang menyelisihi salah satu nya, maka dia akan tersesat dengan kesesatan yang nyata dan jauh sadar atau tidak sadar.

2. Didalam Ilmu Aqidah, Tiga pondasi ini menjadi Rujukkan bagi para ulama didalam menyusun kitab – kitab mereka didalam masalah aqidah.

3. Didalam Ilmu Fikih, Tiga pondasi ini (al-Quran, as-Sunnah dan Manhaj Sahabat) adalah pengambilan dalil (landasan hukum) didalam Islam. Dan ini adalah urutan pengambilan dalil didalam ilmu fiqih, yaitu Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan) Sahabat, dan Qiyas Sahabat dan ulama yang mengikuti sahabat.

4. Didalam Ilmu Tafsir al-Quran, Tiga pondasi ini adalah tingkatan cara menafsirkan al-Quran. Kaidah para ulama menafsirkan al-Quran adalah menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, menafsirkan al-Quran dengan as-Sunnah dan menafsirkan al-Quran dengan perkataan para Sahabat. (Ushul Tafsir)

5. Didalam Ibadah, Tiga pondasi ini menjadi dasar standar kebenaran nya. (Kami Jelaskan didalam buletin yang berjudul ”Sahabat dan Tabi’in berhujjah dengan Manhaj Sahabat”

Barangsiapa yang membaca kitab Ushul Fiqih, kitab Ushul Tafsir dan kitab Ushul Aqidah. Semua para ulama kembali kepada tiga landasan pokok ini dan mereka tidaklah terlepas dari Tiga Pondasi Dasar ini. Karena mereka mengetahui kebenaran didalam Islam itu adalah mengikuti para Sahabat sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S At-Taubah ayat 100)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita kedalam ayat yang mulia ini dan memasukkan kita kedalam golongan para sahabat dengan syarat kita harus mengikuti mereka.

Untuk menyempurnakan pembahasan ini baca buletin

”Sahabat dan Tabi’in berhujjah dengan Manhaj Sahabat”

Akibat Meninggalkan Sholat Semasa hidupnya

Assalamualaikum Wr.Wb
Kaifa haluk yaa Shodigh???

Kesempatan ini ana akan berbagi cerita tentang Akibat Meninggalkan Sholat.nahhhhh simak baik baik yaaa ceritanya semoga bermanfaat bagi kita semua. ^_~

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.
Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka rosulpun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"
Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."
Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati ayah orang mudah itu telah berubah wajah menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini berubah menjadi babi hutan yang hitam."

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan rosulpun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun berubah bentuk manusia lagi. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.
Ketika mayat itu hendak dimakamkan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mau mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Cerita lain...
Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Ketika mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka ingin membunuh ular itu.

Ketika mereka berusaha untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapa kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyiksanya sehingga sampai hari kiamat."
Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?"
Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :"

1. Ketika dia mendengar azan, dia tidak mau datang untuk sembahyang berjamaah.
2. Dia tidak mau mengeluarkan zakat hartanya.
3. Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya.

Astagfirullah Hal adzin sungguh merugi orang - orang yang diberi kesempatan semasa hidupnya namun menyia- nyiakan waktunya yang tak akan berulang lagi...

masih maukah kita meningkalkan sholat???

Pemahaman Tentang "Dimanakah Alloh ?"

MediaMuslim.Info - Pertanyaan dimanakah Allah mungkin menggelitik sebagian kita kaum muslimin, seakan aneh masih membicarakan masalah ini, bukankah jelas Allah itu dekat sama kita, Allah itu ada dimana-mana selalu menyertai kita ?.

Inilah sebenarnya kesalahan dalam memahami arti pertanyaan "Dimanakah Allah ?". Justru pada dasarnya pertanyaan di atas terlontar manakala apa yang kita pahami selama ini salah. Seringkali kita tidak sadar bahwa pernyataan Allah itu ada dimana-mana, atau Allah itu dekat dengan kita tapi tidak bertempat atau yang lainnya itu keliru, sehingga kita tidak sadar apabila ditanya sesorang akan menjawab dengan mantap jawaban-jawaban di atas.

Perkara ini bukanlah perkara kecil, pemahaman yang benar tentang dimanakah Allah menjadi tuntutan mutlak bagi seorang muslim. Kesalahan fatal dalam memahami ini akan berbahaya bagi diri dan agamanya. Begitu pentingnya pemahaman keberadaan Allah sehingga menjadikan Rasulullah melepaskan seorang budak yang bisa menjawabnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah Allah itu sebenarnya berada ?

Jawabannya sudah jelas sebagaimana dipahami oleh seluruh sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan seluruh ulama Ahlul Hadits bahwa Allah itu berada di atas Arsy di atas langit. Apa dasarnya mengatakan seperti itu ? Berikut kita bawakan tulisan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalil-dalil yang mendukung kenyataan bahwa Allah itu berada di atas Arsy : Al-Qur’an, Hadits shahih, naluri dan cara berfikir yang sehat mendukung kenyatan bahwa Allah Subhanahu wa ta’alla berada di atas ‘Arsy.

Firman Allah yang artinya: "Allah yang Maha Rahman bersemayam di atas ‘Arsy". (Thaahaa: 5)
Pengertian ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari beberapa tabi’in.

Firman Allah yang artinya: "Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu…"(Al-Mulk: 16). Menurut Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa yang dimaksud dengan "Yang di langit" adalah Allah, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab tafsirnya.

Firman Allah yang artinya: "Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka". (An-Nahl: 50).

Firman Allah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihi sallam yang artinya: "Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya…".(An-Nisaa:158
).

Firman Allah yang artinya: "Dan Dialah Allah (yang disembah) di langit…".(Al-An’aam:3). Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut, "Para ahli tafsir sependapat, kita tidak akan berkata sperti ucapan kaum Jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan Allah itu berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka."

Adapun firman Allah yang artinya: "Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada…".(Al-Hadid:4). Maksudnya, Dia bersama kita, mengetahui, mendengar, dan melihat kita di mana pun kita berada. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut, seperti keterangan dalam Tafsir Ibnu Katsir Rahimahullahu ta’alla


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mi’raj ke langit ke tujuh dan difirmankan kepada beliau oleh Allah ‘azza wa jalla serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam , "Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku ini dipercaya oleh Allah yang ada di langit?" (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : "Sayangilah orng-orang yang ada di bumi maka Yang di langit (Allah) akan menyayangimu." (HR. At-Tirmidzi).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seorang budak wanita, "Di manakah Allah?", Jawabnya, "Di langit.", Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, "Siapakah saya?" Dijawab lagi. "Engkau Rasul Allah" Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Merdekakanlah ia karena ia seorang mukminah." (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, "’Arsy itu berada di atas air, dan Allah berada di atas ‘Arsy, Allah mengetahui keadaan kamu." (HR. Abu Dawud, hasan)

Abu Bakar Ash-Shidiq berkata , "Barangsiapa menyembah Allah maka Allah berada di langit, Dia Maha Hidup dan tidak Mati," (HR. Imam Darimi dalam Radd ‘alal Jahmiyyah)

‘Abdullah ibnul Mubarak Rahimahullahu ta’alla pernah ditanya, "Bagaimana kita mengetahui Rabb kita?" Maka beliau menjawab, "Rabb kita berada di atas langit di atas ‘Arsy, berbeda dengan makhluk-Nya". Maksudnya Dzat Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, berbeda dan berpidah dengan makhluk-Nya, dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy tersebut tidak sama dengan makhluk

Para Imam yang empat telah sepakat bahwa Allah Subhanahu wa ta’alla berada di atas ‘Arsy tidak ada seorang pun dari makhluk yang serupa dengan-Nya

Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan Subhana Rabiyal a’laa (Maha Suci Rabb yang Maha Tinggi). Ketika ia berdo’a juga mengangkat tangannya ke langit dan menengadahkan wajahnya ke langit

Anak kecil ketika anda tanya di mana Allah dia akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit

Cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan Allah berada di langit, seandainya Allah Subhanahu wa ta’alla berada di semua tempat, niscaya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para shahabatnya. Kalau Allah berada di segala tempat , berarti Allah bisa berada di tempat-tempat yang najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan yang demikian itu.

Pendapat yang mengatakan Allah berada di segala tempat berarti Dzat Allah itu banyak, karena banyaknya tempat. Akan tetapi karena Dzat Allah itu satu dan mustahil banyak, maka pendapat tersebut adalah batil, jadi jelaslah Allah itu berada di langit, di atas ‘Arsy-Nya dan Dia bersama kita, Mengetahui, Mendengar, dan Melihat kita di mana pun kita berada.

(Dikutip dengan penambahan yang disesuaikan dari: ‘Naashirussunnah’ Al-Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala )




Nasihat Berharga

Ketahuilah bahwa umurmu adalah hartamu yang paling berharga, maka jangan disia-siakan tanpa guna.
Pilihlah olehmu teman-teman yang baik dan jauhilah teman-teman yang jahat.
Jagalah sholatmu karena sholat jalan keselamatan, janganlah engkau tidur saat azan subuh berkumandang.
Perbaguslah wudhu dan perbanyaklah langkah menuju masjid dan tunggulah waktu sholat.
Bersegeralah ke masjid saat mendengar azan, ketahuilah bahwa Allah Maha Besar dari segala sesuatu.
Perbanyaklah shaum, karena shaum merupakan obat bagi penyakit para pemuda.
Bersedekahlah karena sedekah dapat menghilangkan kebanyakan dari musibah.
Laksanakan haji jika telah mampu dan jangan ditunda, antara umroh yang satu dengan umroh berikutnya adalah penghapusan dosa.
Bacalah olehmu Al Qur'an setiap hari dan hafalkanlah, sebaik-baiknya hamba adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya.
Perbanyaklah dzikir dan do'a siang dan malam, karena Allah mencintai dzikirnya orang-orang yang berdzikir dan do'anya orang yang berdo'a.
Pelajarilah sejarah nabi dan para sahabatnya, semoga engkau tersiram oleh siraman sifat-sifat mereka yang mulia.
Rutinkanlah hadir di majelis ilmu, karena menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.
Rendah hatilah dan jauhi sifat sombong, karena tidak masuk surga orang yang sombong.
Buanglah rasa dengki, karena sesungguhnya dengkilah yang membuat iblis menjadi makhluk yang dilaknat.
Patuhilah kedua orangtuamu dan janganlah membuat keduanya marah, karena tidak masuk surga anak yang durhaka.
Jenguklah orang sakit dan uruslah jenazah serta ziarahilah kuburan, karena yang demikian itu menambah iman dan mengingat akhirat, maka janganlah engkau lalai darinya.
Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah dan sikap yang sebaik-baiknya sikap saat engkau bertemu dengannya.
Jauhilah musik-musik, karena tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba cinta musik dengan cinta Al Qur'an, maka pilihlah olehmu cinta mana yang engkau inginkan.
Jagalah pandangan, karena menjaga pandangan adalah ibadahnya para muttaqin.
Penuhilah kebutuhan saudaramu, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah juga memenuhi kebutuhannya.
Jauhilah ketamakan, karena Adam diturunkan dari Surga disebabkan ketamakannya.

MENJADIKAN SHOLAT KHUSYU' SEBAGAI SOLUSI HIDUP

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya (yang demikian itu) sulit, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 45)

Kalau melihat rangkaian ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, sebenarnya ayat ini ditujukan khususnya kepada kaum Bani Israil yang hobi membangkang perintah Allah. Kaum Bani Israil adalah anak-cucu Nabi Ya'qub as. Dengan kata lain, mereka masih punya hubungan dekat dengan Nabi Muhammad saw. Jelas sekali bahwa Allah SWT sangat menyayangi mereka, sehingga ada banyak sekali ayat yang memberikan nasihat pada Bani Israil untuk segera taubat. Saya sendiri melihat rangkaian ayat ini bukan berupa kutukan, melainkan sebuah panggilan penuh kasih sayang dari Allah agar mereka segera kembali ke jalan yang benar. Oleh karena itu, meskipun seruan ini muncul dalam rangkaian ayat yang bicara tentang Bani Israil, namun umat Islam jaman sekarang pun masih sangat relevan untuk mencermatinya.
Allah SWT secara eksplisit mengatakan bahwa sabar dan shalat adalah dua instrumen yang bisa kita gunakan sebagai alat penolong. Dalam hal apa? Tidak ada keterangan. Hal ini memperkuat pendapat bahwa sabar dan shalat bisa menolong kita dalam hal apa saja. Jika kita dijepit oleh perasaan khawatir, maka sabar dan shalat bisa menyelesaikan masalah. Jika kita dililit hutang, maka sabar dan shalat adalah jalan keluarnya. Jika kita kesal pun, maka sabar dan shalat tetap manjur.
Tapi benarkah?
Teorinya begitu, tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Shalat itu soal mudah. Tinggal menghapal beberapa gerakan dan bacaan, maka kita sudah bisa melaksanakan shalat. Skill tambahan yang kita perlukan hanya teknik berwudhu. Nyatanya, masih banyak orang-orang yang rajin shalat fardhu, bahkan menambahnya dengan shalat-shalat sunnah, namun mereka tidak luput dari depresi karena tidak bisa menemukan jalan keluar dari masalah-masalahnya.
Apakah Al-Qur'an salah? Apakah shalatnya salah? Apakah shalat memang tidak semanjur yang kita kira?
Inilah yang dinamakan korupsi. Bangsa Indonesia memang gemar mengkorupsi segala sesuatunya, termasuk ayat. Kalau kita jeli, ayat di atas memberikan solusi, sekaligus memberitahukan kendalanya. Solusinya adalah sabar dan shalat, sementara kendalanya adalah khusyu'. Dengan kata lain, sabar dan shalat memang bisa jadi solusi, tapi ada syaratnya : khusyu'.
Sabar dan shalat tidak bisa berfungsi optimal tanpa khusyu'. Shalat dalam keadaan terpaksa, misalnya, jelas tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Jangankan solusi, barangkali ia justru tambah kesal setelah selesai shalat, karena merasa shalat itu sebagai sesuatu yang dipaksakan. Orang yang shalat sambil terus memikirkan hal-hal lain juga barangkali tidak akan pernah berhasil mendapatkan jalan keluar dari permasalahan-permasalahann
ya dengan shalat. Khusyu' dulu, baru bicara tentang manfaat shalat!
Masalah khusyu' ini memang selalu menjadi bahan perbincangan. Di satu sisi, Ali ra. pernah tertusuk panah, dan panah itu dicabut ketika ia sedang shalat. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak merasakan sakit ketika shalat, pertanda khusyu'. Di sisi lain, Rasulullah saw. pun pernah menunjukkan cara shalat sambil mengasuh anak. Beliau benar-benar sadar akan tugasnya sebagai hamba Allah yang sedang shalat, sekaligus juga seorang ayah yang sedang menjaga anaknya. Apakah ini pertanda tidak khusyu'? Adakah yang lebih khusyu' daripada Rasulullah saw.?
Al-Qur'an punya definisinya sendiri tentang orang-orang yang khusyu' :
(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali pada-Nya. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 46)
Sederhana saja. Orang-orang yang khusyu' adalah orang-orang yang memenuhi dua kriteria : (1) mereka yakin akan bertemu dengan Tuhannya, dan (2) mereka yakin akan kembali pada-Nya. Orang-orang yang khusyu' dalam shalat adalah orang-orang yang benar-benar merasa bahwa mereka tengah menghadap wajah Allah dalam shalatnya. Mereka pun benar-benar menghayati takdirnya yang sudah pasti, yaitu akan kembali pada-Nya.
Konsekuensinya banyak. Tidak ada orang khusyu' yang berantakan ketika shalat. Jika memang ia yakin bahwa ia sedang menghadap Allah, maka ia akan merapikan pakaiannya, merapikan sisirannya, dan menyempurnakan postur tubuhnya. Ia bahkan akan mengatur napas, arah penglihatan dan pikiran sebagai etika ketika hamba bertemu Sang Pemiliknya.
Orang yang khusyu' juga akan merasa khawatir jika Allah melihat kejelekannya. Bulu romanya berdiri merinding karena merasakan kehadiran Allah. Ia tidak takut apa-apa lagi, karena yang paling menakutkannya telah berdiri di hadapannya dan mengamati gerak-geriknya. Allah SWT telah hadir untuk menyaksikan shalatnya, dan hanya kepada Allah-lah kelak kita akan kembali.
Orang yang khusyu' pun tidak akan berbasa-basi dengan Allah. Kata-katanya bukan ucapan kosong belaka. Ia paham betul apa-apa yang diucapkannya dalam shalat, dan benar-benar bermaksud sesuai ucapannya. Tidak ada janji-janji palsu kepada Allah, karena Allah pasti tahu apa yang disembunyikan. Bahkan niat untuk menyembunyikan sesuatu dari hadapan Allah pun tidak akan ada dalam hati orang yang khusyu'. Mereka benar-benar merasa berhadapan dengan Allah SWT.
Begitu sulitkah mencapai derajat khusyu'? Wajar bila sulit. Itulah sebabnya Allah memperingatkan kita tentang kesulitan itu di dalam Al-Qur'an. Akan tetapi, sulit bukan berarti tidak mungkin. Lagipula, semua orang pasti ingin mendapatkan jalan keluar dari setiap permasalahannya.
Mulailah berlatih khusyu', dan temukanlah semua solusi yang Anda butuhkan! Mulailah dengan menyadari bahwa Allah benar-benar tengah mengamati Anda.

Jangan Buang Bom Sembarang Tempat


Sebenarnya apa hukum dari bom bunuh diri dalam agama Islam..?

Pembaca yang budiman -semoga dirahmati Allah-,

Membunuh Diri

Dalam rangka “jihad” memerangi Amerika dan sekutunya, sekian banyak aksi peledakan dan bom bunuh diri terjadi di negeri-negeri kaun muslimin yang dilakoni oleh sebagian pemuda yang tak berbasis ilmu yang kuat. Akibatnya, korban berjatuhan dari kalangan warga sipil muslim sendiri. Padahal Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah melarang seorang muslim membunuh dirinya sendiri di dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sungguh Allah maha penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa`: 29)

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah memperingatkan:

“Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka besinya itu akan berada ditangannya. Dia akan menikam perutnya dengan pisau itu didalam neraka dalam keadaan kekal didalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang menenggak racun, lalu ia membunuh dirinya dengan racun itu, maka ia akan meminumnya sedikit-demi sedikit dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang menghempaskan dirinya dari gunung sehingga dia membunuh dirinya, maka dia akan terhempas dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya selama-selamanya.” [Muslim dalam Shohih-nya (109)]

Ini adalah perbuatan yang konyol -bukan jihad-. Perbuatan ini tidaklah mendatangkan kemaslahatan bagi Islam, karena bila seandainya dia membunuh dirinya dan membunuh 10 orang atau 100 orang atau 200 orang, maka hal tersebut tidak akan bermanfaat bagi Islam dan tidak membuat manusia ber-Islam. Malah membuat orang lari dari Islam. Karena itulah, perbuatan ini tidak dapat dibenarkan, dan menyebabkan pelakunya diazab di neraka, dan orang yang bunuh diri dengan cara yang seperti ini bukanlah mati syahid. Jika seorang mau berdakwah dan mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam Islam, maka dakwahilah mereka dengan cara hikmah, bukan dengan cara emosi dan membabi buta yang mencoreng citra Islam dan kaum muslimin.

Membunuh Seorang Muslim

Jika kita memperhatikan orang-orang yang menjadi korban pemboman, maka kebanyakannya adalah kaum muslimin sendiri. Duhai, sungguh celakanya orang yang membom ini…! Karena Allah telah mengancamnnya di dalam firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An-Nisa`: 93)

Lihatlah pembaca yang budiman! Allah mengancamnya di dalam ayat ini dengan neraka jahannam dan tidak sampai disitu saja, bahkan ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan siksa yang pedih baginya. Ini baru satu orang muslim, bagaimana lagi jika yang dibunuhnya adalah puluhan sampai ratusan orang muslim? -Nas alulllaha ‘afiyah wassalamah-

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Sungguh hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada membunuh (jiwa) seorang muslim”. [HR. At-Tirmizy dalam As-Sunan (1399), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (7/82), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2393), dan lain-lain. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ghoyatul Maram (4390)]

Mereka berteriak ketika kaum kuffar AS dan sekutunya membantai jutaan kaum muslimin dengan mengatakan bahwa nyawa seorang muslim itu sangat mahal di sisi Allah. Namun di sisi lain mereka sendiri ternyata juga turut menumpahkan darah kaum muslimin. parahnya lagi kesalahan tersebut berusaha ditutupi dan dibenarkan dengan berjuta dalih: “Ini kan jihad”, “Mereka adalah Mujahid”, “Mereka adalah penghuni surga”, dan “Mereka mati syahid”. Padahal orang-orang yang melakukan aksi teror tersebut adalah orang-orang yang mati konyol, diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam. Bagaimana mereka dianggap mati syahid ??!

Membunuh Kafir Musta’man

Pembaca budiman, ketahuilah bahwa tidak semua orang kafir boleh dibunuh di dalam syariat agama kita, karena sesungguhya orang kafir itu ada empat macam, yaitu:

kafir dzimmy

Mereka adalah orang kafir (penduduk asli) yang membayar jizyah (upeti) yang dipunguti tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. kafir, seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya adalah hadist Al-Mughirah bin syu’bah -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata,

“Kami diperintah oleh rasul robb kami -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah satu-satunya atau kalian membayat jizyah ”.[HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shohih (3158)]

kafir mu’ahad ,

Mereka adalah orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Orang kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh, sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

"Siapa yang mebunuh kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun ". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (3166), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (8/25), dan Ibnu Majah (2686)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Ingatlah, siapa yang menzholimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebani diatas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya, tanpa keridoan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat." [HR Abu Daud dalam As-Sunan (3052) dan Al Baihaqy (9/205). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (445)]

kafir musta’man

Mereka adalah orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh, sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan. Dalilnya, firman Allah -Ta’ala-,

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 6)

kafir harby

Mereka adalah kafir selain yang tiga di atas. kafir jenis inilah yang disyariatkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Mengapa harus diperangi? Karena mereka memerangi Islam. Demikianlah ketentuan syariat Allah.

Namun orang kafir harbiy yang masuk ke negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah muslim berubah statusnya menjadi kafir musta’man, haram untuk diperangi selama dalam perlindungan. Mereka (para pembom) ini tidak peduli lagi dengan syariat Allah dalam hal ini. Padahal pada saat yang sama, mereka selalu meneriakkan, “Ayo tegakkan syari’at Islam”. Namun untuk kali ini, mereka injak-injak sendiri slogan-slogan tersebut. Akibatnya, semua orang kafir sah dan halal darah dan hartanya; perang dan pembunuhan terhadap mereka boleh dilakukan kapan dan di mana saja!! Wahai Pembaca yang budiman, tentunya ini merupakan sikap serampangan yang menyelisihi Al-Kitab, Sunnah, dan tuntunan para ulama’.

Menzholimi Orang Lain

Allah -‘Azza wa Jalla-, Pencipta kita telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Nya dan hamba-hamba-Nya sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsiy, Allah berfirman,

“Wahai segenap hamba-hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Ku dan Aku telah menjadikan hal tersebut sebagai perkara yang haram antara sesama kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2577) dari Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu-)

Dalam berbagai nas, baik Al-Qur’an, maupun sunnah, telah diterangkan bahwa perbuatan zhalim tidak pernah membawa kebaikan bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat. Allah -Subhanahu wa Ta'ala- menyatakan dalam berbagai ayat tentang bahaya perbuatan zholim. Diantaranya, Allah -Subhanahu wa Ta'ala- berfirman,

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. dan adalah setan ti tidak mau menolong manusia.”
(QS. Al-Furqan: 27 - 29 )

“Dan berapa banyak penduduk negeri yang zholim yang telah kami binasakan, dan kami adakan setelah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya)”. (Al-Anbiya`: 11)

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga mengingatkan:

“Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat.” [HR. Al-Bukhary dalam Shohihb-nya(2447), Muslim dalam Shohih-nya (2579), dan At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2035) dari sahabat Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu-]

Wahai saudaraku, wahai para Pengangkat bendera “jihad”, pernahkah engkau bertanya pada dirimu,
“Apakah termasuk jihad, menumpahkan darah kaum muslimin??! Apakah termasuk jihad, menghalalkan darah orang-orang yang haram untuk dibunuh dan? Apakah merupakan jihad menghancurkan harta benda kaum muslimin? Apakah engkau telah berjihad membenahi dirimu dalam mempelajari ilmu dan mengamalkannya? Sudahkah engkau berjihad mengikuti Al-Qur’an dan sunnah? Apakah engkau telah mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, walaupun menyelisihi hawa nafsumu. ketahuilah saudaraku, jihad di jalan Allah bukanlah untuk pelampiasan dan pemuas hawa nafsu, namun dia adalah ibadah yang sangat agung dan salah satu simbol agama yang suci. Ingatlah, memperbaiki masyarakat adalah tanggung jawab bersama, sebarkan ilmu syari’at Islam di tengah ummat, tegakkan hukum Allah, dan jauhilah segala sebab kerusakan dan kehancuran”

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 11 Tahun I.

Jangan sekali-kali dekati zina

Pendahuluan

Bahaya Zina
Melihat bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh praktek zina merupakan bahaya
yang tergolong besar, dan praktek tersebut juga bertentangan dengan aturan
universal yang diberlakukan untuk menjaga kejelasan nasab keturunan, menjaga
kesucian dan kehormatan diri, juga mewaspadai hal-hal yang menimbulkan
permusuhan serta perasaan benci di antara manusia disebabkan pengrusakan
terhadap kehormatan isteri, putri, saudara perempuan dan ibu mereka. Dan ini
jelas akan merusak tatanan kehidupan. Melihat hal itu semua, pantaslah bahaya
praktek zina itu -bobotnya- setingkat di bawah praktek pembunuhan. Oleh karena
itu, Allah I menggandeng keduanya di dalam Al-Qur'an dan juga Rasulullah
dalam keterangan hadits beliau.
Al-Imam Ahmad berkata: "Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah dosa
membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina."
Dan Allah menegaskan pengharamannya dalam firmanNya:
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)
yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya
dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab
untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan
terhina kecuali orang-orang yang bertaubat ..." (Al-Furqan: 68-70).
Dalam ayat tersebut, Allah menggandengkan zina dengan syirik dan membunuh
jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat yang berlipat ganda,
selama pelakunya tidak menetralisir hal tersebut dengan cara bertaubat, beriman
dan beramal shalih. Allah I berfirman:
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk." (Al-Isra': 32).
Di sini Allah menjelaskan tentang kejinya praktek zina dan kata "fahisyah"
maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang
tinggi dan dapat diakui kekejiannya oleh setiap orang berakal bahkan oleh
sebagian banyak binatang, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dalam
Shahih-nya dari Amr bin Maimun Al-Audi, dia berkata: "Aku pernah melihat -pada
masa jahiliyah- seekor kera jantan yang berzina dengan seekor kera betina. Lalu
datanglah kawanan kera mengerumuni mereka berdua dan melempari keduanya
sampai mati."
Kemudian Allah juga memberitahukan bahwa praktek zina adalah seburukburuk
jalan; karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan kehinaan di
dunia, siksaan dan azab di akhirat nanti.
Dan karena menikahi mantan isteri-isteri ayah itu termasuk perbuatan yang
sangat jelek sekali, Allah I secara khusus memberikan "cela" tambahan bagi
praktek menikahi isteri orang tua. Allah berfirman (setelah secara tegas
melarang kaum muslimin untuk menikahi isteri-isteri ayah mereka, pent):
"Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan
(yang ditempuh)." (An-Nisa': 22).
Allah I juga menggantungkan keberuntungan seorang hamba pada
kemampuannya dalam menjaga "kehormatan"nya. Tak ada jalan menuju
keberuntungan tanpa menjaga "kehormatan". Allah berfirman:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang
khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan
dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang me- nunaikan zakat,
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka
atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang
melampaui batas." (Al-Mukminun: 1-7).
Dalam ayat-ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan, yaitu, pertama, bahwa orang
yang tidak menjaga kemaluannya, tidak akan termasuk orang yang beruntung,
kedua , dia akan termasuk orang yang tercela, dan ketiga, dia termasuk orang
yang melampaui batas. Jadi, dia tidak akan mendapat keberuntungan, serta
berhak mendapat predikat "melampaui batas' dan jatuh pada tindakan yang
membuatnya tercela, padahal beratnya beban dalam menahan syahwat itu, lebih
ringan ketimbang menanggung sebagian akibat yang disebutkan tadi.
Selain itu pula, Allah telah menyindir manusia yang selalu berkeluh kesah,
tidak sabar dan tidak mampu me- ngendalikan diri saat mendapatkan
kebahagiaan, demikian pula kesusahan. Bila mendapat kebahagiaan, dia menjadi
kikir, tak mau memberi, dan bila mendapat kesusahan, dia banyak mengeluh.
Begitulah sifat umum manusia, kecuali orang-orang yang memang dikecualikan
dari hambaNya, yang diantaranya adalah mereka yang disebut di dalam
firmanNya:
"Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam
hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah
orang-orang yang melampaui batas." (Al-Ma'arij: 29-31).
Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasulullah r untuk memerintahkan
orang-orang mukmin agar menjaga pandangan dan kemaluan mereka, juga
diberitahukan kepada mereka bahwa Allah selalu menyaksikan amal perbuatan
mereka.
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan
oleh hati." (Ghafir: 19).
Dan karena ujung pangkal dari perbuatan zina yang keji ini dari pandangan mata,
maka Allah lebih mendahulukan perintah untuk memalingkan pandangan mata
sebelum perintah untuk menjaga kemaluan, karena banyak musibah besar yang
asal muasalnya adalah dari pandangan; seperti kobaran api yang besar asalnya
adalah percikan api yang kecil. Mulanya hanya pandangan, kemudian khayalan,
kemudian langkah nyata, kemudian terjadilah musibah yang merupakan
kesalahan besar(zina).
Oleh karenanya, ada yang mengatakan, bahwa barangsiapa yang bisa menjaga
empat hal maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya: Al-Lahazhat
(pandangan pertama), Al-Khatharat (pikiran yang melintas di benak), Al-Lafazhat
(lidah dan ucapan), Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan).
Dan seyogyanya, seorang hamba Allah itu bersedia untuk menjadi penjaga dirinya
dari empat hal di atas dengan ketat, sebab dari situlah musuh akan datang
menyerangnya, merasuk ke dalam dirinya dan merusak segala sesuatu.
Empat Pintu Masuk Maksiat Pada Hamba
Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seorang hamba melalui empat pintu yang
telah kita sebutkan di atas. Sekarang, marilah kita ikuti pembahasan tentang
empat pintu tersebut di bawah ini:
1. Al-Lahazhat (Pandangan Pertama)
Yang satu ini bisa dikatakan sebagai 'provokator' syahwat atau 'utusan' syahwat.
Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga
kemaluan. maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali,
niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.
Rasulullah bersabda:
"Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya).
Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan
selanjutnya."
Dan di dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah :
"Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa
yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena
Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari
Kiamat." Inilah kurang lebih makna hadits tersebut.
Beliau juga bersabda:
"Palingkanlah pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian."
Dalam hadits lain beliau bersabda:
"Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi-tepi) jalan." Mereka berkata: "Ya Rasulullah,
tempat-tempat duduk kami pasti di tepi jalan." Beliau bersabda: "Jika kalian
memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu." Mereka
bertanya: "Apa hak jalan itu?" Jawab beliau: "Memalingkan pandangan (dari hal
yang dilarang Allah, pent), menyingkirkan gangguan dan menjawab salam."
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab,
pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu
akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari
syahwat itu timbullah keinginan. Kemudian keinginan ini menjadi kuat dan
berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas
dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang
menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa:
"Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan
dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya."
Seorang penyair mengatakan:
! Setiap kejadian musibah(praktek zina) itu bermula dari pandangan, seperti
kobaran api berasal dari percikan api yang kecil.
! Betapa banyak pandangan yang berhasil menembus ke dalam hati
pemiliknya, seperti tembusnya anak panah yang di lepaskan dari busur dan
talinya.
! Seorang hamba, selama dia masih mempunyai kelopak mata yang dia
gunakan untuk memandang orang lain, maka dia berada pada posisi yang
membahayakan.
! (Dia memandang hal-hal yang) menyenangkan matanya tapi membahayakan
jiwanya, maka janganlah kamu sambut kesenangan yang akan membawa
malapetaka.
Di Antara Bahaya Pandangan
Yaitu pandangan yang dilepaskan begitu saja itu dapat menimbulkan perasaan
gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas-panasi. Seseorang bisa saja
melihat sesuatu, yang sebenarnya dia tidak mampu untuk melihatnya secara
keseluruhan, namun dia tidak sabar untuk melihatnya. Tentu, merupakan
siksaan yang berat pada batin Anda bila ternyata Anda melihat sesuatu yang Anda
tidak bisa sabar untuk tidak melihat walaupun sebagian dari sesuatu tersebut,
namun Anda juga tidak mampu untuk melihatnya.
Seorang penyair berkata:
! Bila -suatu hari- engkau lepaskan pandangan matamu mencari (mangsa)
untuk hatimu, niscaya apa-apa yang dipandangnya akan melelahkan
(menyiksa) diri kamu sendiri.
! Engkau melihat sesuatu yang engkau tidak mampu untuk melihatnya secara
keseluruhan dan engkau juga tidak bisa bersabar untuk tidak melihat (walau
hanya) sebagian dari sesuatu itu.
Lebih jelasnya, bait syair di atas maksudnya: Engkau akan melihat sesuatu yang
engkau tidak sabar untuk tidak melihatnya walaupun hanya sedikit, namun saat
itu juga engkau tidak mampu untuk melihatnya sama sekali walaupun hanya
sedikit.
Betapa banyak orang yang melepaskan pandangannya tanpa kendali akhirnya dia
binasa dengan pandangan-pandangan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh
seorang penyair:
! Wahai orang yang memandang, tidaklah dia sampai tuntas menyelesaikan
pandangannya, sehingga dia sendiri akan menjauh dan jatuh binasa karena
pandangan-pandangannya sendiri.
Ada untaian bait lain yang mengatakan:
! (Mungkin) dia sudah bosan selamat, hingga dia biarkan pandangannya
menyaksikan apa yang menurutnya indah.
! Begitulah; dia terus melanjutkan satu pandangan dengan pandangan yang
lain, sehingga akhirnya dia menjauh dan jatuh binasa karena pandanganpandangannya
sendiri.
Suatu hal yang lebih mengherankan, yaitu bahwa pandangan yang dilakukan oleh
seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran
yang dipandang, sementara anak panah itu benar-benar mengena di hati orang
yang memandang. Ada untaian bait syair yang mengatakan:
! Wahai orang yang dengan sungguh-sungguh melempar anak panah
pandangannya; Engkaulah sebenarnya yang menjadi korban dari apa yang
kamu lempar itu dan engkau tidak berhasil membidik orang yang engkau
pandang.
! Dan orang selalu melepas pandangannya, dia akan kehilangan
kesehatannya. (Oleh karena itu) kurunglah pandanganmu itu, jangan sampai
dia mendatangkan musibah kepadamu.
Suatu hal yang lebih mengherankan lagi, yaitu bahwa satu pandangan (padahal
yang dilarang) itu dapat melukai hati dan (dengan pandangan yang baru) berarti
dia menoreh luka baru di atas luka lama; Namun ternyata derita yang
ditimbulkan oleh luka-luka itu tak mencegahnya untuk kembali terus menerus
melakukannya.
! Kau senantiasa mengikutkan satu pandangan dengan pandangan lainnya
untuk menyaksikan (wanita) cantik dan (pria) tampan.
! Dan kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka (syahwat)mu, padahal,
dengan itu berarti kau menoreh luka di atas luka.
! Kau korbankan matamu dengan pandangan dan ta ngisan, sementara
hatimu juga (menjerit seperti) disembelih habis-habisan.
Oleh karena itu dikatakan : "Sesungguhnya menahan pandangan hatimu itu lebih
mudah daripada menahan langgengnya penyesalan".
2. Khatharat (Pikiran Yang Melintas Di Benak)
Adapun "Al-Khatharat" (pikiran yang melintas di benak) maka urusannya lebih
sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang buruk. Dari
sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah
menjadi tekad yang bulat. Maka, barangsiapa yang mampu mengendalikan
pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu
mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun, orang yang tidak bisa
me- ngendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik
menguasainya. Dan barangsiapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang
melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan, akan terseret pada kebinasaan.
Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang,
sehingga akhirnya dia akan menjadi angan-angan tanpa makna(palsu).
"Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu
apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan
kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
perhitunganNya" (An-Nur: 39).
Orang yang paling jelek cita-citanya dan paling hina, adalah orang yang merasa
puas dengan angan-angan kosongnya. Dia pegang angan-angan itu untuk dirinya
dan dia pun merasa bangga dan senang dengannya. Padahal, demi Allah, anganangan
itu adalah modal orang-orang yang pailit dan barang dagangan para
pengangguran serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong yang bisa
merasa puas dengan gambaran-gambaran dalam khayalan, dan angan-angan
palsu.
Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair:
! mendapatkan Su'da, dapat menghilangkan dahaga. Dengan angan-angan itu
Su'da telah berhasil memberikan pada kita air dingin di kala haus.
! Angan-angan, yang sekiranya dapat menjadi kenyataan, tentu menjadi
kebahagiaan, dan kalaupun tidak, maka sesungguhnya kita hidup senang
beberapa waktu dengan angan-angan itu.
Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari
sikap ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap lalai yang
selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya berangan-angan -
disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita yang diinginkannyasebagai
pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan
ke dalam hatinya; dia akan mendekap dan memeluknya erat-erat.Selanjutnya dia
akan merasa puas dengan gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh
pikirannya.
Padahal, itu semua, sedikitpun tidak akan membawa manfaat. Sama seperti orang
yang sedang lapar dan haus, membayangkan gambaran makanan dan minuman
namun dia tidak dapat memakan dan meminumnya.
Perasaan tenang dan puas dengan kondisi semacam ini dan berusaha untuk
memperolehnya, jelas menunjukkan betapa jelek dan hinanya jiwa seseorang.
Sebab, kemuliaan jiwa seseorang, kebersihan, kesucian dan ketinggiannya, tidak
lain adalah dengan cara membuang jauh-jauh setiap pikiran yang jauh dari realita
dan dia tidak rela bila hal-hal tersebut sampai melintas di benaknya serta dia juga
tidak sudi hal itu terjadi pada dirinya.
Kemudian "khatharat" atau ide, pikiran yang melintas di benak itu, mempunyai
banyak macam, namun pada pokoknya ada empat:
Pikiran yang orientasinya untuk mencari keuntungan-keuntungan dunia/materi.
a. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian dunia/materi.
b. Pikiran yang orientasinya untuk mencari kemaslahatan akhirat.
c. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian akhirat.
Idealnya, seorang hamba hendaklah menjadikan pikiran-pikiran, ide-ide dan
keinginannya hanya berkisar pada empat macam di atas. Bila kesemua bagian itu
ada padanya, maka selagi mungkin dipadukan, hendaklah dia tidak
mengabaikannya untuk yang lain. Kalau ternyata, pikiran-pikiran yang datang itu
banyak dan bertumpang tindih, maka hendaklah dia mendahulukan yang lebih
penting, yang dikhawatirkan akan kehilangan kesempatan untuk itu, kemudian
mengakhirkan yang tidak terlalu penting dan tidak dikhawatirkan kehilangan
kesempatan untuk itu.
Yang tersisa sekarang adalah dua bagian lagi, yaitu:
Pertama , yang penting dan tidak dikhawatirkan kehila- ngan kesempatan untuk
melakukannya.
Kedua, yang tidak penting namun dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk
melakukannya.
Dua bagian terakhir ini sama-sama mempunyai alasan untuk didahulukan. Di
sinilah lahir sikap ragu-ragu dan bingung memilih. Bila dia dahulukan yang
penting, dia khawatir akan kehilangan kesempatan untuk yang lain. Namun bila
dia mendahulukan yang lain, dia akan kehilangan esuatu yang penting. Begitulah,
kadang-kadang seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tidak mungkin
dikumpulkan menjadi satu, yang mana salah satunya tidak dapat dicapai kecuali
dengan mengorbankan yang lain.
Di sinilah, akal, nalar dan pengetahuan itu berperan. Di sini akan diketahui, siapa
orang tinggi, siapa orang yang sukses dan siapa orang yang merugi. Kebanyakan
orang yang mengagungkan akal dan pengetahuannya, akan Anda lihat dia
mengorbankan sesuatu yang penting dan tidak khawatir kehilangan kesempatan
untuk itu, demi melakukan sesuatu yang tidak penting yang tidak dikhawatirkan
kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Dan Anda tidak akan mendapatkan
seorang pun yang selamat (dan terlepas) dari hal seperti itu. Hanya saja ada yang
jarang dan ada pula yang sering menghadapinya.
Dan sebenarnya yang dapat dijadikan sebagai penentu pilihan dalam masalah ini
adalah sebuah kaidah besar dan mendasar yang merupakan poros berputarnya
aturan-aturan syari'at, dan juga pada kaidah inilah dikembalikan segala urusan.
Kaidah itu adalah mendahulukan kemaslahatan yang lebih besar dan lebih tinggi
dalam dua pilihan yang ada walaupun harus mengorbankan kemaslahatan yang
lebih kecil- kemudian kaidah itu pula menyatakan bahwa kita memilih
kemudharatan yang lebih ringan untuk mencegah terjadinya mudharat yang lebih
besar.
Jadi, sebuah kemaslahatan akan dikorbankan dengan tujuan mendapatkan
kemaslahatan yang lebih besar, begitu pula sebuah kemudharatan akan dilakukan
dengan tujuan mencegah terjadinya kemudharatan yang lebih besar. Pikiranpikiran
serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari apa yang kita
jelaskan di atas. Dan karena itu datang berbagai syari'at atau aturan.
Kemaslahatan dunia dan akhirat selalu didasarkan pada hal-hal tersebut. Dan pikiran-
pikiran serta ide-ide yang paling tinggi, paling mulia dan paling bermanfaat
ialah yang orientasinya untuk Allah dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.
Kemudian, pikiran yang orientasinya adalah untuk Allah ini bermacam-macam:
Pertama : Memikirkan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan dan berusaha untuk
memahami maksud Allah dari ayat-ayat tersebut; dan memang untuk itulah Allah
menurunkannya; tidak hanya sekedar untuk dibaca saja, namun membaca itu
hanya media saja.
Sebagian ulama Salaf mengatakan: "Allah menurunkan Al-Qur'an untuk
diamalkan, maka jadikanlah bacaan Al-Qur'an itu sebagai amalan."
Kedua : Memikirkan dan memperhatikan ayat-ayat atau tanda-tanda
kebesaranNya yang dapat dilihat langsung; dan menjadikannya sebagai bukti akan
nama-nama Allah, sifat-sifat, hikmah, kebaikan dan kemurahanNya. Dan Allah
sendiri telah mendorong hamba-hambaNya untuk merenungkan tanda-tanda
kebesaranNya, memikirkan dan memahaminya; Allah menegur dan mencela orang
yang melalaikannya.
Ketiga: Memikirkan nikmat, kebaikan dan berbagai karunia yang Dia limpahkan
kepada seluruh makhlukNya, dan merenungkan keluasan rahmat, ampunan dan
kasih sayangNya.
Tiga hal di atas akan dapat mendorong lahirnya -dari hati seorang hambama'rifatullah
(pengetahuan tentang Allah), kecintaan serta perasaan cemas dan
harap kepada-Nya. Dan bila tiga hal tadi dilakukan dengan kontinyu, disertai
dengan dzikir kepada Allah, maka hati seorang hamba akan tercelup secara
sempurna dengan ma'rifah dan kecintaan kepadaNya.
Keempat : Memikirkan aib, cela dan kelemahan yang ada pada jiwa dan amal
perbuatan. Hal ini akan memberikan manfaat yang sangat besar. Ini merupakan
pintu segala kebaikan. Ini juga sangat berperan dalam mengalahkan hawa nafsu
yang selalu memerintahkan kejelekan. Bila nafsu yang jahat itu dapat dikalahkan
maka nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang)lah yang akan hidup, bangkit dan
menjadi penentu segala keputusan. Lalu hatipun menjadi hidup dan kebijakan
ada pada kerajaannya didengar; dia perintah para karyawan dan bala tentaranya
untuk melakukan hal yang membawa kemaslahatannya.
Kelima: Memikirkan kewajiban terhadap waktu sekaligus bagaimana cara
menggunakannya, serta menumpahkan seluruh perhatian terhadap pemanfaatan
waktu. Seorang yang arif, akan selalu memanfaatkan waktunya, karena dia yakin,
bila waktunya disia-siakan begitu saja, berarti dia telah menyia-nyiakan seluruh
kemaslahatan (yang seharusnya dia dapatkan. pent). Sebab, seluruh
kemaslahatan itu, tidak lain bisa timbul dan didapatkan melainkan dari adanya
waktu. Dan bila disia-siakan (dan waktu itu sudah lewat. pent) maka dia tidak
akan bisa mengembalikannya lagi untuk selamanya.
Al-Imam Asy-Syafi'i berkata: "Aku pernah berteman dengan orang-orang sufi dan
aku tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari mereka kecuali dua kalimat saja:
Pertama: "Waktu itu bagaikan pedang, bila engkau tidak memotongnya, dialah
yang akan menebasmu."
Kedua: "Dan nafsumu, bila engkau tidak menyibukkannya de- ngan kebenaran,
maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebathilan."
Waktu yang dimiliki manusia, itulah umur dia yang sebenarnya. Waktu itulah
yang menjadi modal untuk kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan
abadi(Surga), sekaligus juga modal untuk kehidupan yang sengsara dalam adzab
yang pedih(Neraka). Waktu itu berlalu lebih cepat dari perjalanan gumpalan awan.
Maka, barangsiapa yang berhasil menjadikan waktunya untuk Allah dan bersama
Allah, itulah kehidupan dan umurnya yang hakiki. Dan waktu yang tidak
dipersembahkan untuk Allah tidaklah dihitung sebagai bagian dari kehidupannya.
Walaupun dia hidup tapi kehidupannya laksana kehidupan binatang ternak. Bila
seseorang menghabiskan waktunya penuh dengan kelalaian, syahwat dan anganangan
kosong atau yang paling baik hanya digunakan untuk tidur dan
pengangguran, maka bagi orang semacam ini "mati" itu lebih baik daripada dia
hidup.
Bila seorang hamba yang sedang melakukan shalat- tidak akan mendapatkan
nilai dari shalatnya selain pada bagian yang dia pahami dari shalatnya, maka
umurnya yang sesungguhnya adalah waktu yang dia habiskan untuk Allah dan
dengan Allah.
Pikiran-pikiran atau ide-ide yang tidak termasuk salah satu bagian yang disebut di
atas tadi, dapat kita kategorikan sebagai was-was syaithaniyah(bisikan-bisikan
setan), angan-angan kosong atau halusinasi bohong, persis seperti pikiran-pikiran
orang yang kurang waras akalnya, baik karena mabuk atau fly dan lain
sebagainya. Di mana ketika segala hakikat kenyataan itu tampak, kondisi mereka
saat itu mengatakan:
! Bila kedudukanku, saat dikumpulkan bersama kalian, seperti apa yang telah
aku temui sendiri (sekarang ini), maka sungguh aku telah menyia-nyiakan
hari-hariku.
! Angan-angan itu telah menguasai jiwaku dalam jangka waktu yang lama,
dan hari ini, aku menganggapnya hanya sebagai bunga mimpi.
Ketahuilah, sebenarnya pikiran-pikiran yang melintas itu tidaklah
membahayakan, namun yang bahaya bila pikiran-pikiran itu sengaja didatangkan
dan terjadi interaksi dengannya. Pikiran yang melintas itu laksana orang yang di
suatu jalan, bila Anda tidak memanggilnya dan Anda biarkan dia, maka dia akan
berlalu meninggalkan Anda. Namun bila Anda memanggilnya, Anda akan
terpesona dengan percakapan, dusta dan tipuannya. Tindakan ini akan terasa
begitu ringan bagi jiwa yang kosong penuh kebatilan, dan begitu berat dirasa oleh
hati dan jiwa yang suci dan tenang.
Allah telah memasang dua macam nafsu pada diri manusia: Nafsu ammarah
dan nafsu muthmainnah . Keduanya saling bertolak belakang. Segala sesuatu yang
terasa ringan oleh yang satu, maka akan terasa berat oleh yang lain. Apa yang
terasa nikmat oleh yang satu, maka akan terasa menyiksa oleh yang lain. Tak ada
sesuatu yang lebih berat bagi nafsu ammarah melebihi perbuatan yang dilakukan
karena Allah dan lebih mendahulukan keridhaanNya dari pada hawa nafsunya,
padahal tidak ada amal yang lebih bermanfaat baginya dari amal tersebut. Begitu
pula, tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi nafsu muthmainnah dari perbuatan
yang bukan untuk Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsu. Padahal tidak ada
amal yang lebih berbahaya baginya dari amal tersebut.
Dalam hal ini, malaikat itu berada di samping kanan hati manusia, sementara
setan di samping kirinya. Dan pertarungan antara keduanya tidak akan pernah
berhenti sampai ajal ditentukan (oleh Allah) di dunia ini. Seluruh bentuk kebatilan
akan berpihak kepada setan dan nafsu ammarah. Sementara, semua macam
kebenaran itu akan berpihak pada malaikat dan nafsu muthmainnah. Dalam
peperangan itu, kalah dan menang datang silih berganti. Dan kemenangan itu ada
bersama kesabaran. Maka barangsiapa yang benar-benar bersabar, berusaha
keras dan bertakwa kepada Allah, niscaya baginya balasan yang baik, di dunia dan
di akhirat nanti. Dan Allah pun telah menetapkan sebuah ketetapan yang tidak
dapat dirubah selamanya; bahwa balasan baik itu adalah untuk ketakwaan, dan
pahala itu adalah untuk mereka yang bertakwa.
Hati itu laksana papan yang kosong, dan pikiran-pikiran itu bagaikan tulisan yang
diukir di atasnya. Maka, bagaimana bisa dikatakan pantas bagi seorang yang
berakal bila papannya hanya berisi dusta, tipu daya, angan-angan kosong dan
fatamorgana yang tidak ada realitanya? Hikmah, ilmu dan petunjuk macam apa
yang diharapkan dari tulisan-tulisan itu? Apabila ia ingin melukiskan hikmah,
ilmu dan petunjuk di papan hatinya, maka tak ubahnya seperti penulisan ilmu
yang bermanfaat di sebuah tempat yang sudah penuh dengan tulisan lain yang
tidak ada manfaatnya. Bila hati tidak kosong dari pikiran-pikiran kotor, maka
pikiran-pikiran positif yang bermanfaat tidak akan dapat menetap di dalamnya,
karena dia memang tidak dapat menempati kecuali tempat yang kosong. Seperti
yang diungkapkan oleh seorang penyair:
Aku telah didatangi oleh hawa nafsu sebelum aku kenal dengan hawa nafsu itu
sendiri, maka ia temukan hati yang kosong, oleh karena itu ia dapat menguasaiku
Hal seperti ini banyak terjadi terhadap orang-orang tasawuf , mereka membangun
kepribadian mereka dengan cara menjaga pikiran-pikiran yang melintas di dalam
benak, mereka tidak memberikan kesempatan pada pikiran-pikiran tersebut untuk
masuk ke dalam hati, sehingga hati itu dalam keadaan kosong dan dapat untuk
melakukan kasyaf (menyingkap rahasia) dan menerima hakikat-hakikat yang
bermakna tinggi di dalamnya.
Mereka itu menjaga diri mereka dari satu hal, tetapi mereka lalai dan kehilangan
banyak hal yang lain. Sebab mereka kosongkan hati mereka dari lintasan-lintasan
pikiran sehingga menjadi kosong, tidak ada apa-apa di dalamnya, tiba-tiba setan
mendapatkannya dalam keadaan kosong, kemudian setan menanamkan di
dalamnya kebatilan dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang paling tinggi
dan paling mulia, setan meletakkan hal itu sebagai ganti dari jenis pikiran-pikiran
yang merupakan bahan dasar dari ilmu pengetahuan dan petunjuk.
Apabila hati itu sudah kosong dari berbagai macam pi- kiran, maka setan akan
datang dengan menemukan tempat yang kosong untuknya. Setan akan berusaha
untuk mengisinya dengan hal-hal sesuai dengan kondisi pemilik hati tersebut.
Bila tidak berhasil mengisinya dengan pikiran-pikiran kotor, maka setan akan
menyibukkannya dengan keinginan melepaskan diri dari keinginan-keinginan -
yang sebenarnya- tidak ada kebaikan dan kesuksesan bagi seorang hamba kecuali
bila keinginan-keinginan tersebut berhasil menguasai hatinya, yaitu
mengosongkannya dari keinginan untuk mengikuti perintah Allah- yang memang
dicintai dan diridhaiNya-, kemudian menyibukkan hati dan memperhatikan
perintah-perintah tersebut secara rinci untuk kemudian melaksanakannya di
masyarakat, lalu berusaha menyampaikan nya pada orang-orang dengan harapan
mereka juga mau melaksanakannya. Dalam hal ini, setan akan berusaha
menyesatkan orang yang mempunyai keinginan demikian dengan mengajak untuk
meninggalkan keinginan baik tersebut dan melepaskannya, tidak usah
memikirkan dunia dan masyarakat didalamnya.
Setan akan membisikkan kepada mereka bahwa kesempurnaan itu dapat mereka
capai dengan cara melepaskan diri dan mengosongkan hati dari hal itu semua.
Sungguh amat jauh ungkapan tersebut dari kebenaran. Karena, kesempurnaan
itu hanya dapat diperoleh bila hati itu penuh terisi de- ngan keinginan dan
pikiran yang baik serta usaha untuk merealisasikannya. Maka, manusia yang
paling sempurna adalah mereka yang paling banyak memiliki pikiran dan
keinginan untuk tunduk kepada perintah Allah, mencari keridhaanNya.
Sebagaimana manusia yang paling hina adalah mereka yang paling banyak
memiliki keinginan dan pikiran untuk memenuhi hawa nafsunya di mana saja dia
berada. Wallahul musta'an (Allah-lah tempat mohon pertolongan).
Lihatlah, Umar bin Khaththab, pikirannya penuh dengan keinginan dalam mencari
keridhaan Allah. Barangkali dia dalam keadaan shalat, namun saat itu dia juga
sedang mempersiapkan tentaranya (untuk jihad). Dengan demikian dia telah
berhasil mengumpulkan antara jihad dan shalat, sehingga beberapa ibadah masuk
berkumpul dalam satu ibadah.
Ini adalah satu hal yang mulia dan agung, tidak akan tahu tentang hal ini kecuali
mereka yang mempunyai keinginan yang benar-benar kuat dan pandai mencari,
luas ilmunya serta tinggi cita-citanya, di mana dia masuk dalam satu ibadah
namun dia juga mendapatkan ibadah-ibadah yang lain. Itulah karunia Allah yang
diberikan pada siapa yang dikehendakinya.
3. Al-Lafazhat (Kata-Kata Atau Ucapan)
Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal yang satu
ini adalah dengan cara mencegah keluarnya kata-kata atau ucapan yang tidak
bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali
dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan
menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin berbicara, hendaklah seseorang
melihat dulu; apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada
keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkin kan ada
keuntungannya, dia melihat lagi; apakah ada kata-kata yang lebih
menguntungkan lagi dari kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan
menyia-nyiakannya.
Kalau Anda ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang maka lihatlah
ucapan lidahnya. Ucapan itu akan menjelaskan kepada Anda apa yang ada dalam
hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka.
Yahya bin Mu'adz berkata: Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa
yang ada di dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya. Maka perhatikanlah
seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu
apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin dan sebagainya.
Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana "rasa" hatinya, adalah apa yang dia
keluarkan dari lidahnya. Artinya, sebagaimana Anda bisa mengetahui rasa apa
yang ada dalam panci itu dengan cara mencicipi dengan lidah, maka begitu pula
Anda bisa mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang dari lidahnya, Anda
dapat merasakan apa yang ada dalam hatinya dari lidahnya, sebagaimana Anda
juga mencicipi apa yang ada di dalam panci itu dengan lidah anda.
Dalam hadits Anas radhiallaahu anhu yang marfu', disebutkan:
"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqamah (lebih
dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga lidahnya beristiqamah (lebih
dahulu)."
Nabi pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke
dalam Neraka, beliau menjawab: "Mulut dan kemaluan". At-Tirmidzi berkata:
"Hadits ini hasan shahih."
Sahabat Mu'adz bin Jabal pernah bertanya kepada Nabi tentang amal apa yang
dapat memasukkannya ke dalam Surga dan menjauhkannya dari api Neraka. Lalu
Nabi memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari
amal tersebut, setelah itu beliau bersabda:
"Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu?" Dia berkata: "Ya,
Wahai Rasulullah". Lalu Nabi r memegang lidah beliau sendiri kemudian berkata:
"Jagalah olehmu yang satu ini." Maka Mu'adz berkata: "Adakah kita bisa disiksa
disebabkan apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab: "Ibumu kehilangan engkau
ya Mu'adz, tidakkah yang dapat menyungkurkan banyak manusia di atas wajah
mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?" At-Tirmidzi berkata:
"Hadits ini hasan shahih."
Dan yang paling mengherankan yaitu bahwa banyak orang yang merasa mudah
dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina,
mencuri, minum minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan
lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya,
sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan
kezuhudan dan ibadahnyapun, juga masih berbicara dengan kalimat-kalimat yang
dapat mengundang kemurkaan Allah I tanpa dia sadari bahwa, satu kata saja dari
apa yang dia ucapkan dapat menjauhkannya (dari Allah dengan jarak) lebih jauh
dari jarak antara timur dan barat. Dan betapa banyak Anda lihat orang yang
mampu mencegah dirinya dari perbuatan kotor dan aniaya namun lidahnya tetap
saja membicarakan aib orang-orang, baik yang sudah mati ataupun yang masih
hidup, dan dia tidak sadar akan apa yang dia katakan.
Kalau Anda ingin mengetahui hal itu, lihatlah apa yang diriwayatkan oleh Muslim
dalam kitab Shahih -nya dari hadits Jundub bin Abdillah, dia berkata: Nabi
bersabda:
"Ada seorang pria yang mengatakan, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si
Fulan itu'. Maka Allah berfirman, 'Siapa orang yang bersumpah bahwa Aku tidak
akan mengampuni si Fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan
menggugurkan amalmu'."
Lihatlah, hamba yang satu ini; dia telah beribadah kepada Allah dalam waktu yang
cukup lama/panjang, namun satu kalimat yang diucapkannya telah menyebabkan
semua amalnya terhapus.
Dan di dalam hadits Abu Hurairah juga dikisahkan cerita seperti itu, kemudian
Abu Hurairah berkomentar: "Dia telah mengucapkan satu kalimat yang dapat
menghancurkan dunia dan akhiratnya."
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dari Nabi :
"Sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang
termasuk dicintai oleh Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun ternyata
Allah berkenan meninggikannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang
hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang termasuk dibenci Allah, dia
tidak terlalu perhatian dengan itu, namun ternyata dengan kalimat itu dia masuk ke
dalam Neraka Jahannam." Dalam riwayat Muslim: "Sesungguhnya seorang hamba
itu mengucapkan satu kalimat yang tidak jelas apa yang dikandungnya, namun dia
dapat menjatuhkannya ke dalam Neraka (yang jaraknya) lebih jauh dari jarak
antara timur dan barat."
Dan dalam riwayat At-Tirmidzi dari hadits Bilal bin Al-Harits Al-Muzani dari Nabi
:
"Sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan satu kalimat yang
dicintai oleh Allah, dia tidak menyangka (pahalanya) sampai seperti apa yang dia
dapatkan, namun ternyata dengan kalimat itu Allah memberikan kepadanya
keridhaanNya sampai hari dia menjumpaiNya kelak. Dan sesungguhnya seorang
dari kalian terkadang mengucapkan satu kalimat dari yang dimurkai oleh Allah, dia
tidak menyangka (dosanya) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata
Allah memberikan kepadanya kemurkaanNya sampai hari dia menjumpaiNya
kelak." Alqamah mengatakan: "Betapa banyak ucapan yang tidak jadi aku katakan
disebabkan oleh Hadits Bilal bin Al-Harits ini."
Dalam kitab Jami' At-Tirmidzi, juga dari hadits Anas, dia berkata: Ada seorang
sahabat yang meninggal, lalu ada seorang laki-laki berkata, 'Berilah khabar
gembira dengan Surga', maka Nabi bersabda:
"Dari mana kamu tahu? Barangkali dia pernah mengucapkan (kalimat) yang tidak
ada guna baginya atau dia pelit untuk (memberikan) sesuatu yang tidak akan
membuatnya kekurangan." At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan."
Dalam sebuah lafazh hadits disebutkan:
"Ada seorang anak yang meninggal syahid di perang Uhud, lalu ditemukan di
perutnya sebuah batu yang diikat untuk menahan lapar. Kemudian, ibunya
mengusap debu yang ada di wajahnya sambil mengatakan, 'Berbahagialah engkau
hai anakku, engkau akan mendapatkan Surga'. Maka Nabi r bersabda, 'Dari mana
kamu tahu ?, barangkali dulu dia pernah mengucapkan kata-kata yang tidak
berguna baginya dan menahan apa yang tidak memberikan mudharat baginya'."
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dari Nabi :
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia
mengatakan yang baik-baik atau diam saja."
Dalam lafazh Muslim disebutkan:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir -bila dia menyaksikan
suatu perkara- maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja."
At-Tirmidzi menyebutkan dengan sanad yang shahih dari Nabi , bahwa beliau
bersabda:
"Termasuk (salah satu tanda) kebaikan Islam seseorang, yaitu (bila) dia
meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya."
Dan dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi, dia berkata:
"Aku berkata, 'Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam ini suatu kalimat
yang aku tidak akan menanyakannya pada seorang pun setelah engkau'. Nabi
menjawab, 'Katakanlah, Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah
engkau'. Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan
terhadapku?' Kemudian Nabi r memegang lidah beliau sendiri lalu mengatakan, 'Ini'
(maksudnya : lidah, pent)." Hadits ini shahih.
Dari Ummu Habibah isteri Nabi , dari Nabi , beliau bersabda:
"Semua ucapan anak Adam(manusia) itu akan berdampak negatif kepadanya, tidak
akan berdampak positif kecuali; ucapan untuk amar ma'ruf (memerintahkan yang
baik), atau nahyi munkar (mencegah perbuatan munkar), atau dzikir kepada Allah
." At-Tirmidzi berkomentar: "Hadits ini derajatnya hasan."
Dalam hadits yang lain disebutkan:
"Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh memberikan
peringatan kepada lidah dan berkata, 'Takutlah engkau kepada Allah,
sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila kamu istiqamah kami akan
istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng'."
Para ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya, walau
hanya sekedar mengucapkan: "Hari ini panas dan hari ini dingin." Sebagian ulama
juga ada yang tidur kemudian bermimpi dan dia ditanya tentang keadaannya, lalu
dia menjawab: "Aku tertahan oleh satu ucapan yang aku katakan (yaitu : pent),
Aku pernah mengatakan, 'Oh, betapa butuhnya orang-orang ini akan hujan'. Tibatiba
ada yang berkata kepadaku, 'Dari mana kamu tahu itu? Akulah yang lebih
tahu akan kemaslahatan hambaKu'."
Seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: "Tolong ambilkan kain
untuk kita bermain-main."lalu dia berkata: "Astaghfirullah, aku tidak pernah
mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan mengekangnya,
terkecuali kata-kata yang tadi aku katakan, keluar dari lidahku tanpa kendali dan
tanpa kekang ..."
Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, tapi dia juga
yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri ...
Ada perbedaan pendapat antara ulama salaf dan khalaf dalam masalah; apakah
semua yang diucapkan oleh manusia itu semua akan dicatat ataukah ucapan yang
baik dan yang jelek saja? Di sini ada dua pendapat, namun yang lebih kuat adalah
yang pertama.
Sebagian ulama salaf mengatakan: "Semua perkataan anak Adam itu akan
berdampak negatif kepadanya dan tidak akan berdampak positif kecuali ucapan
yang dari Allah dan ucapan yang membela-Nya."
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata: "Inilah yang
memasukkan aku ke dalam berbagai masalah". Ucapan itu adalah tawanan Anda,
bila dia sudah keluar dari mulut Anda berarti Andalah yang menjadi tawanannya.
Allah I selalu memonitor lidah setiap kali berbicara:
"Tidak suatu ucapanpun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 18).
Bahaya Lidah
Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Bila seseorang bisa selamat dari salah
satu penyakit itu maka dia tidak bisa lepas dari penyakit yang satunya lagi, yaitu;
penyakit berbicara dan penyakit diam. Dalam satu kondisi, bisa jadi salah satu
dari keduanya akan mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain. Orang
yang diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu, dia bermaksiat kepada
Allah, serta bersikap riya' dan munafik bila dia tidak khawatir hal itu akan
menimpa dirinya. Begitu pula orang yang berbicara dengan kebatilan, adalah setan
yang berbicara, dia bermaksiat kepada Allah. Kebanyakan orang sering keliru
ketika berbicara dan ketika mengambil sikap diam. Mereka itu selalu berada di
antara dua posisi ini.
Adapun orang-orang yang ada di tengah-tengah -yaitu mereka yang berada pada
jalan yang lurus- sikap mereka adalah menahan lidah mereka dari ucapan yang
batil dan membiarkannya berbicara dalam hal-hal yang dapat membawa manfaat
pada mereka di akhirat. Sehingga Anda tidak akan melihat mereka mengucapkan
kata-kata yang sia-sia tanpa manfaat, apa lagi sampai mengucapkan kata-kata
yang akan membahayakan mereka di akhirat nanti. Sesungguhnya ada seorang
hamba yang akan datang pada hari kiamat dengan pahala kebaikan sebesar
gunung, namun dia dapati lidahnya sendiri telah menghilangkan pahala tersebut.
Dan ada pula yang datang dengan dosa-dosa sebesar gunung, namun dia dapati
lidahnya telah menghilangkan itu semua dengan banyaknya dzikir kepada Allah
dan apa yang berhubu ngan dengannya.
Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk Sebuah Perbuatan)
Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan), hal ini
bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya
kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala-Nya, bila
ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan
langkah tersebut tentu lebih baik baginya. Dan sebenarnya bisa saja seseorang
memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yang dilakukannya dengan cara
meniatkannya untuk Allah I, dengan demikian maka seluruh langkahnya akan
bernilai ibadah.
Ketergelinciran pada perbuatan salah itu ada dua macam; tergelincir kaki dan
tergelincir lidah. Oleh karenanya dua macam ketergelinciran ini digandengkan oleh
Allah dalam firmanNya:
"Dan hamba-hamba Ar-Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (Al-Furqan: 63).
Di sini Allah menjelaskan bahwa sifat mereka itu adalah istiqamah dalam ucapanucapan
dan langkah-langkah mereka. Sebagaimana Allah juga menggandengkan
antara Al-Lahadzat (pandangan) dan Al-Khatharat (lintasan pikiran) dalam
firmanNya:
"Allah mengetahui khianat mata dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Ghafir:
19).
Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan bagi
penjelasan akan diharamkannya zina dan kewajiban menjaga kemaluan,
Rasulullah bersabda:
"Yang paling banyak memasukkan orang ke dalam Neraka ialah lidah dan
kemaluan."
Dan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi :
"Tidak dihalalkan darah seorang muslim kecuali dengan tiga hal; Orang yang sudah
kawin lalu berzina, jiwa dengan jiwa (qishah karena membunuh orang) dan orang
yang meninggalkan agamanya serta meninggalkan jama'ah."
Dalam hadits ini ada penggandengan antara zina dengan kufur dan membunuh
jiwa, persis seperti yang terdapat dalam ayat pada surat Al-Furqan, juga seperti
yang ada dalam hadits Ibnu Mas'ud.
Penggandengan Antara Zina, Kufur , Dan Membunuh Jiwa
Dalam hadits di atas Nabi menyebutkan hal yang paling banyak terjadi secara
berurutan. Perbuatan zina itu lebih sering terjadi dibanding dengan pembunuhan,
dan pembunuhan lebih sering terjadi dibanding dengan riddah (keluar dari Islam).
Dan kerusakan yang ditimbulkan oleh zina sungguh bertolak belakang dengan
kemaslahatan dalam kehidupan. Sebab, bila seorang wanita telah melakukan zina
berarti ia telah membuat aib keluarga, suami dan kerabatnya serta mencoreng
wajah mereka di hadapan orang-orang. Bila dia sampai hamil kemudian
membunuh anaknya, berarti dia telah menggabungkan perbuatan zina dengan
pembunuhan, dan jika setelah hamil ia tetap dengan suaminya, berarti dia telah
memasukkan pada keluarga si suami dan keluarga si wanita sendiri orang lain
yang bukan bagian dari keluarga. Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan
lain yang ditimbulkan oleh zina. Jika yang berzina itu adalah seorang pria, maka
hal ini -selain hal yang di atas- juga akan menyebabkan simpang siurnya
hubungan nasab, kemudian merusak kehormatan wanita yang terjaga dan
menjadikannya hancur. Jadi, di belakang perbuatan keji ini (zina) terdapat
kerusakan dunia dan agama sekaligus. Sungguh betapa banyak pelanggaran
terhadap larangan-larangan (pelecehan terhadap kehormatan), penyia-nyiaan hak
orang dan penganiayaan yang ada di balik perbuatan zina.
Di antara dampak yang ditimbulkan oleh zina adalah bahwa zina dapat
mendatangkan kefakiran, memperpendek umur dan membuat wajah pelakunya
suram serta mendatangkan kebencian orang.
Termasuk di antara dampaknya pula, bahwa zina itu dapat menghancurkan hati,
membuatnya sakit kalau tidak sampai mematikannya, juga mendatangkan
perasaan gundah gelisah dan takut, serta menjauhkan pelakunya dari malaikat
dan mendekatkannya kepada setan. Tak ada bahaya -setelah bahaya perbuatan
membunuh- yang lebih besar dari bahaya zina. Oleh karenanya, untuk
menghukum pelaku perbuatan zina ini Allah mensyari'atkan hukuman bunuh
(rajam) dengan cara yang mengerikan. Bila ada seseorang yang mendengar kabar
bahwa isterinya dibunuh orang, tentu kabarnya lebih ringan dibanding dia
mendengar bahwa isterinya berbuat zina.
Sa'ad bin Ubadah radhiallaahu anhu berkata: "Sekiranya aku melihat seorang pria
berzina dengan isteriku, tentu aku akan memenggal lehernya dengan pedang
tanpa pikir panjang lagi." Maka sampai perkataan ini kepada Rasulullah , lalu
beliau bersabda:
"Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa'ad? Demi Allah, sungguh aku ini
lebih cemburu dari dia, dan Allah lebih cemburu dari aku, dan oleh karena betapa
agungnya kecemburuan Allah, maka Dia haramkan segala perbuatan keji, baik
yang lahir maupun yang batin."(Muttafaq 'alaih).
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
"Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan sesungguhnya seorang mukmin itu juga
cemburu. Dan kecemburuan Allah itu akan timbul bila seorang hamba melakukan
apa yang diharamkan kepadanya."
Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
"Tak ada seseorangpun yang lebih pencemburu dari Allah, oleh karena itu Allah
mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang lahir maupun yang batin. Tak ada
seorangpun yang lebih senang menerima udzur (permohonan maaf) dari Allah, oleh
karena itu Dia mengutus para rasul untuk memberikan kabar gembira dan
peringatan. Tak ada seorangpun yang lebih senang dipuji melebihi Allah, oleh
karena itu Dia memuji diriNya sendiri."
Juga dalam kitab Ash-Shahihain , diriwayatkan khutbah Nabi di saat shalat
gerhana matahari, beliau bersabda:
"Hai umat Muhammad, demi Allah, tak ada satupun yang lebih pencemburu dari
Allah ketika ada seorang hambaNya yang laki-laki atau perempuan berbuat zina.
Hai umat Muhammad, demi Allah, sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang
aku ketahui tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Kemudian
beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata: "Ya Allah, adakah aku sudah
sampaikan."
Disebutkannya perbuatan dosa besar ini secara khusus setelah shalat gerhana
matahari mengandung isyarat rahasia yang menakjubkan; dan semaraknya
fenomena zina ini merupakan tanda rusaknya alam ini, dan itu semua adalah
salah satu tanda Kiamat; seperti yang disebutkan dalam Ash-Shahihain , dari Anas
bin Malik bahwa dia berkata: Aku akan menceritakan pada kalian sebuah hadits
yang tidak akan ada orang yang akan menceritakannya pada kalian setelah aku.
Aku mendengar Rasulullah bersabda:
"Di antara tanda-tanda Kiamat yaitu bila ilmu (syar'i) menjadi sedikit(kurang), dan
kebodohan menjadi tampak serta zina juga menyebar (di mana-mana). Pria
jumlahnya sedikit dan kaum wanita jumlahnya banyak sehingga untuk lima puluh
wanita (perbandingannya) satu orang pria."
Salah satu sunnatullah yang diberlakukan pada makhlukNya, yaitu bahwa ketika
zina mulai tampak di mana-mana, Allah akan murka dan kemurkaanNya sangat
keras, maka secara pasti kemurkaan itu akan berdampak pada bumi ini dalam
bentuk adzab dan musibah yang diturunkan.
Abdullah bin Mas'ud berkata: "Tidaklah merajalela riba dan zina di sebuah daerah,
melainkan Allah memaklumkan untuk dihancurkan."
Seorang pendeta Bani Israil pernah melihat anaknya sedang merayu seorang
perempuan, lalu dia berkata: "Sebentar, wahai anakku!" Kemudian sang ayah itu
pingsan di atas tempat tidurnya lalu meninggal, sementara isterinya jatuh dan
dikatakan kepadanya: "Beginilah cara engkau marah untukku? Sungguh, orang
sejenis kamu itu tidak mengandung kebaikan selamanya."
Pengkhususan Hukuman Zina Dengan Tiga Hal
Allah mengkhususkan hukuman bagi perbuatan zina dibandingkan dengan
hukuman-hukuman lainnya dengan tiga hal.
Pertama, hukuman zina adalah dibunuh (dirajam) dengan cara yang mengerikan.
Dalam hukuman zina yang ringan saja, Allah menggabungkan antara hukuman
terhadap fisik dengan cambuk dan hukuman terhadap hati/mentalnya dengan
cara diasingkan dari negerinya selama satu tahun.
Kedua , Allah melarang hamba-hambaNya untuk merasa kasihan kepada para
pelaku zina sehingga mencegah mereka untuk memberlakukan hukuman kepada
para pezina itu. Sebab, Allah mensyari'at kan hukuman tersebut didasarkan pada
kasih sayang dan rahmatNya pada mereka. Allah itu sangat sayang kepada kalian,
namun kasih sayang tersebut tidaklah mencegah Allah untuk memerintahkan
berlakunya hukuman ini. Oleh karenanya janganlah kasih sayang yg ada di hati
kalian itu mencegah kalian untuk melaksanakan perintah Allah.
Hal ini -walaupun sebenarnya juga berlaku pada seluruh macam hukuman
(hudud)yang disyari'atkan- namun disebutkan dalam hukuman zina suatu
kekhususan, karena memang sangat penting untuk disebutkan di sini, sebab
kebanyakan orang tidak mempunyai perasaan marah dan sikap kasar terhadap
pezina seperti sikap mereka pada pencuri, atau orang yang menuduh berbuat zina
atau pemabuk. Hati mereka cenderung lebih kasihan pada pezina ketimbang
kepada para pelaku dosa lainnya. Dan realita membuktikan hal itu. Oleh karena
itu Allah melarang mereka, jangan sampai rasa kasihan mereka itu membuat tidak
diberlakukannya hukuman Allah .
Mengapa rasa kasihan pada mereka itu timbul? Penyebabnya yaitu karena
perbuatan zina ini bisa terjadi pada orang golongan atas, menengah dan bawah.
Kemudian, dalam jiwa manusia itu terdapat dorongan yang kuat untuk
melakukannya (melampiaskan libido. pent) dan orang yang melakukannya juga
berjumlah banyak. Dan yang paling ba- nyak menjadi penyebabnya ialah cinta;
sementara hati manusia itu secara tabiat, punya perasaan kasihan pada orang
yang sedang jatuh cinta, bahkan banyak di antara mereka yang siap memberikan
bantuan pada mereka, walaupun sebenarnya bentuk dari percintaan itu termasuk
yang diharamkan. Dan hal seperti ini sudah tidak dipungkiri lagi. Dan hal itu
memang sudah diakui oleh orang-orang.
Selain itu juga, perbuatan dosa ini (zina) kebanyakan terjadi dengan adanya suka
sama suka dari kedua belah pihak, bukan dengan pemaksaan, penganiayaan dan
lainnya yang membuat jiwa orang-orang itu geram.
Dalam hal ini, syahwat banyak berpengaruh, sehingga timbullah perasaan kasihan
yang mungkin akan menghambat ditegakkannya hukuman Allah I. Ini semua
timbul dari iman yang lemah. Kesempurnaan iman itu dapat dicapai dengan
adanya kekuatan yang dengan itu perintah Allah dapat ditegakkan, juga adanya
rahmat (kasih sayang) terhadap orang yang dijatuhi hukuman tersebut, sehingga
dia bisa sejalan dengan Allah dalam perintah dan rahmatNya.
Ketiga, Allah memerintahkan agar hukuman terhadap pelaku zina (baik itu
cambuk ataupun rajam, pent) hendaknya dilakukan di hadapan khalayak orangorang
mukmin, bukan di tempat yang sepi sehingga tidak ada orang yang dapat
menyaksikannya. Hal ini dilakukan agar hukuman tersebut lebih efektif untuk
tujuan "zajr" (membuat jera pelaku dan membuat takut orang lain melakukannya).
Hukuman bagi pezina yang "muhshan" (sudah berkeluarga) diambil dari hukuman
Allah terhadap kaum Nabi Luth' u yang dilempar dengan batu. Yang demikian itu
karena perbuatan zina dan liwath (homoseks yang dilakukan kaum Nabi Luth' u)
adalah sama-sama perbuatan fahisyah (keji dan kotor). Keduanya dapat
menimbulkan kerusakan yang bertentangan dengan hikmah Allah di dalam
penciptaan perintahNya. Kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan oleh praktek
liwath (homosex) itu sungguh sulit untuk dihitung. Orang yang menjadi korban
perbuatan tersebut lebih pantas dan lebih baik untuk dibunuh saja; sebab dia itu
mengalami kerusakan yang tidak bisa diharapkan untuk baik kembali selamanya.
Semua kebaikannya sudah hilang. Bumi sudah menyerap habis rasa malu dari
mukanya, sehingga dia tidak akan malu lagi kepada Allah, juga kepada
makhlukNya. Hati dan jiwa orang tersebut sudah dipengaruhi oleh sperma pelaku
liwath seperti berpengaruhnya racun dalam tubuh seseorang.
Ada perbedaan pendapat di antara sebagian orang; apakah orang yang menjadi
pelaku liwath itu bisa masuk Surga atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat.
Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan dua
pendapat ini.
Mereka yang mengatakan tidak akan masuk Surga memberikan hujjah dengan
beberapa hal:
Di antaranya, bahwa Nabi bersabda:
"Tidak akan masuk Surga anak seorang pezina."
Bila nasib dan kondisi anak hasil zina sudah demikian, padahal dia tidak
mempunyai dosa apa-apa, hanya saja dia dicurigai sebagai tempat berbagai
kejelekan dan kekotoran, serta dia pantas untuk tidak mendatangkan kebaikan
apa pun selamanya, disebabkan karena dia tercipta dari nuthfah (sperma) yang
kotor; bila tubuh yang tumbuh menjadi besar dengan barang yang haram saja
sangat pantas untuk masuk api Neraka, maka bagaimana lagi dengan tubuh yang
memang tercipta dari sperma yang haram?
Mereka mengatakan: Orang yang menjadi pelaku liwath itu lebih jelek dari anak
hasil zina, lebih hina dan lebih kotor pula. Dia itu memang pantas untuk tidak
mendapat taufik kebaikan. Dia juga pantas dihalangi untuk mendapatkan taufik
tersebut. Dan setiap kali dia melakukan amal yang baik, maka Allah akan
menggandengkannya dengan amalan lain yang dapat merusaknya, sebagai
hukuman baginya. Dan memang jarang kita dapati bahwa orang yang sudah
seperti itu di masa kecilnya, kecuali dia akan lebih parah di masa tuanya. Dia
tidak berhasil mendapatkan ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan taubat
yang nashuha.
Namun setelah diteliti, yang lebih pas untuk dikatakan dalam masalah ini, yaitu
bahwa bila orang tersebut bertaubat dan kembali kepada Allah, kemudian
mendapatkan karunia taubat yang nashuha serta amal yang shalih, lalu
kondisinya di masa tua lebih baik dari kondisi di masa kecilnya, lalu merubah
perbuatan-perbuatan jeleknya dengan berbagai macam kebaikan serta mencuci
aibnya dengan beragam ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah, juga menjaga
pandangan matanya, menjaga kemaluannya dari yang haram dan benar-benar
jujur kepada Allah dalam mu'amalah-nya, maka orang yang semacam ini akan
mendapat ampunan dan dia akan termasuk ahli Surga. Sebab, Allah Maha
mengampuni seluruh dosa. Bila taubat itu -kita ketahui- dapat menghapus segala
macam dosa, sampai dosa syirik kepada Allah, membantai para nabi dan para
waliNya, atau sihir, kufur dan lain semacamnya, maka kita tidak boleh membatasi
penghapusan terhadap dosa yang satu ini, padahal, dengan keadilan dan karunia
Yang Maha Kuasa, hikmah Allah menetapkan bahwa:
"Orang yang bertaubat dari dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa."
Dan Allah sendiri telah memberikan jaminan bahwa barangsiapa yang bertaubat
dari perbuatan syirik, pembunuhan jiwa dan zina, Allah akan mengganti
perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan-kebaikan, dan ini adalah
ketentuan hukum yang umum mencakup setiap orang yang bertaubat dari
berbagai macam dosa.
Allah berfirman:
"Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang aniaya terhadap diri mereka, janganlah
kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni
seluruh dosa, seungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Pengasih." (Az-Zumar:
53) Dan tidak akan keluar dari keumuman ayat ini satu macam dosa pun. Namun
hal ini hanya khusus bagi mereka yang bertaubat.
Bila ternyata orang yang menjadi pelaku perbuatan liwath itu di masa tuanya
lebih jelek dari masa kecilnya, tidak mendapatkan karunia taubat nashuha dan
amal shalih, tidak segera mengganti ketaatan yang dia tinggalkan dan tidak pula
mau menghidupkan apa yang sudah ia matikan, juga tidak mengubah perbuatanperbuatan
jeleknya dengan kebaikan, maka orang semacam ini sulit untuk
mendapatkan husnul khatimah yang dapat memasukkannya ke dalam Surga di
saat akan meninggal kelak. Hal itu sebagai hukuman baginya. Sungguh Allah
memberikan hukuman atas perbuatan yang jelek dengan kejelekan lainnya,
sehingga bertumpuklah hukuman perbuatan jelek yang akan diterimanya,
sebagaimana Allah juga memberikan ganjaran bagi sebuah perbuatan baik dengan
perbuatan baik lainnya.
Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati Dalam
Su'ul Khatimah
Bila Anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut menjemput,
Anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan husnul
khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan-perbuatan jelek mereka.
Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-Syibli berkata :
"Ketahuilah bahwa su'ul khatimah itu -semoga Allah menjauhkan kita darinyamempunyai
penyebab-penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu yang
mengantarkan kepadanya. Penyebab, jalan dan pintu yang paling besar ialah larut
dalam urusan keduniaan, tidak acuh dengan urusan akhirat dan berani
melakukan maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang sudah terbiasa
melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, atau sudah terbiasa tidak acuh dan
berani melakukan maksiat, sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh
kebiasaan tersebut, pelita hatinya padam dan terbentuklah hijab yang dapat
menutupinya. Akibatnya, teguran tidak akan lagi berguna, nasihat tidak akan lagi
bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan
demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari sebuah tempat yang jauh,
namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang
diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu
terus mengulangi dan mengulanginya lagi."
Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An-Nashir (salah seorang
pemimpin di masa Abbasiyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut,
kemudian anaknya berkata: "Ucapkanlah, 'Laa Ilaaha Illallah !" Orang itu berucap:
"An-Nashir adalah tuanku." Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun
jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri dan setelah
dia siuman, dia berucap lagi: "An-Nashir adalah tuanku." Begitulah terus
menerus. Setiap kali dikatakan kepadanya ucapan "Laa Ilaaha Illallah" dia malah
berucap: "An-Nashir adalah tuanku." Kemudian dia berkata pada anaknya: "Hai
Fulan, sesungguhnya An-Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan
keberanianmu membunuh/ berperang", kemudian dia meninggal dunia.
Abdul Haq berkata: "Pernah dikatakan juga pada orang lain -yang saya
mengenalnya-: "Ucapkanlah ' Laa Ilaaha Illallah', tiba-tiba dia malah berucap:
"Tolong rumah yang di sana itu diperbaiki dan kebun yang di sana itu, tolong di
kerjakan ..."
Abdul Haq juga berkata: "Diantara riwayat dari Abu Thahir As-Silafiy yang dia
izinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu kisah bahwa ada seorang pria yang
sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya: Ucapkanlah 'Laa Ilaaha
Illallah'. Namun dia malah mengucapkan kata-kata dengan bahasa Persia yang
artinya 'sepuluh dengan sebelas' (maksudnya, boleh berutang sepuluh tapi
bayarnya sebelas, pent)."
Dan pernah pula dikatakan pd orang lain lagi:Ucapkanlah 'Laa Ilaaha Illallah'.Dia
malah mengatakan "Mana jalan ke pemandian Manjab?" (nama pemandian).
Kata Abdul Haq: "Kata yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada
seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut pintunya
menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba lewat di situ seorang
wanita cantik dan bertanya, 'Mana jalan ke pemandian Manjab? Dia menjawab
(sambil menunjuk ke pintu rumahnya), 'Ini dia pemandian Manjab itu!' Maka,
wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai ke belakang. Setelah dia sadar
terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura
menampakkan rasa gembira dan suka citanya karena pertemuannya dengan pria
itu. Kemudian wanita itu berkata, 'Sebaiknya (sebelum kita berkumpul), engkau
harus mempersiapkan untuk kita apa-apa yang dapat membuat indah kehidupan
kita sekaligus menyenangkan hati kita'. Dengan segera pria itu menjawab,
'Sekarang juga aku akan membawakan untukmu semua apa yang kamu inginkan
dan kamu senangi'. Lalu dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam
rumah, namun tidak menguncinya. Kemudian dia pun mengambil apa yang dia
bisa bawa lalu kembali ke rumahnya. Tapi sayang, si wanita itu telah keluar dan
pergi. Sedikitpun wanita itu tidak mengambil apa-apa dari rumahnya. Pria itu
akhirnya menjadi mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita tadi. Dia berjalan
di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan:
"Ya Tuhanku, suatu hari, di kala sudah lelah dia bertanya, 'Mana jalan ke
pemandian Manjab?'.
Suatu saat, di waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita -dari
jendela pintu rumahnya- berkomentar:
"Mengapa -di saat sudah mendapatkannya- tidak dengan segera engkau menutup
rumah itu atau mengunci pintunya?"
Mendengar itu, mabuk kepayangnya tambah menjadi-jadi. Begitulah terus
kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal
dunia."
Suatu malam, Sufyan Ats-Tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu, ada yang
bertanya kepadanya: "Adakah semua yang kau lakukan ini karena takut akan
dosa?" Lalu Sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata: "Dosa itu lebih
ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan su'ul khatimah."
Sungguh, ini adalah pemahaman yang sangat baik, bila seseorang itu khawatir
bahwa dosa-dosanya akan membuatnya terhina di kala meninggal dunia nanti,
sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah .
Al-Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda' di saat sakaratul maut
datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan membaca:
"Dan (begitulah) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka
belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka
bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110).
Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat
menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.
Abdul Haq juga berkata:
"Ketahuilah bahwa su'ul khatimah itu -semoga kita dilindungi oleh Allah darinyatidak
akan terjadi pada orang yang secara lahir dia istiqamah dan secara batin dia
shalih. Su'ul khatimah akan terjadi pada orang yang dasarnya sudah rusak atau
senantiasa melakukan dosa besar dan mengerjakan kemaksiatan. Barangkali hal
itu menjadi kebiasaannya, sehingga kematian datang menjemputnya sebelum
sempat bertaubat, akhirnya dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat
nadinya dicabut sebelum dia kembali pada Allah, sehingga saat itu setan berhasil
merenggut dan menyambarnya di saat yang genting tersebut. Na'udzu billah !"
Diriwayatkan bahwa -di Mesir- dulu ada seseorang yang selalu pergi ke mesjid
untuk adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya
ibadah. Suatu hari dia naik ke menara -seperti biasanya untuk adzan-. Di bawah
menara itu ada rumah seorang Nashrani, dia melongok ke dalam rumah tersebut,
dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu akhirnya dia tergoda dengannya,
lalu dia tinggalkan adzan saat itu, turun menemuinya, dan masuk ke dalam
rumahnya. Anak perempuan itu bertanya: "Ada apa, apa yang kamu inginkan?"
Dia menjawab: "Aku menginginkan kamu." Dia bertanya lagi: "Mengapa demikian?"
Dia menjawab: "Sungguh, engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh
relung hatiku." Perempuan itu berkata: "Aku tidak akan pernah memenuhi
keinginanmu selamanya." Pria tadi menjawab: "Aku akan mengawinimu lebih
dahulu." Perempuan itu berkata: "Engkau seorang muslim dan aku nashrani.
Ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu. Lelaki itu berkata: "Aku akan
masuk agama Nashrani!" Maka wanita itu berkata: "Jika kamu lakukan itu, maka
aku mau!" Akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat kawin dengannya.
Dia pun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia naik ke loteng yang ada di
rumah tersebut, kemudian dia jatuh dan langsung mati. Kasihan, dia tidak
berhasil mendapatkan perempuan tersebut dan dia kehilangan agamanya."
Diriwayatkan pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada seseorang.
Kesenangan dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu menguasai hatinya.
Bahkan, dia sampai jatuh sakit dan harus tidur beristirahat karenanya.
Sementara orang yang dicintai itu tidak mau menemuinya. Dia benar-benar tidak
suka dan menjauh darinya. Sementara itu, orang-orang terus berusaha
mempertemukan keduanya, sehingga, dia pun berjanji untuk menemuinya. Orangorang
datang membawa kabar tersebut, dia pun gembira dan sangat bersuka cita.
Kesempitan di dadanya pun terasa hilang. Jadilah dia menunggu pada waktu yang
sudah ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan
mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan: "Dia sudah berangkat bersamaku
sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus mendorong dan
merayunya, tapi dia berkata, 'Orang itu ingat dan menyebut-nyebut aku dan dia
pun gembira dengan kedatanganku. Namun aku tidak akan masuk ke tempat yang
meragukan. Aku tidak akan mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang
mencurigakan.' Aku terus membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi."
Mendengar hal itu, orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali
sakit dengan kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Tanda-tanda
kematian sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan:
Wahai Salm, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus.
Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku ketimbang rahmat Allah Yang Maha
Pencipta dan Maha Mulia.
Maka (Abdul Haq Al-Asyibly) berkata kepadanya: "Wahai Fulan, takutlah
engkau kepada Allah!!" Dia menjawab: "Semuanya sudah terjadi." Akhirnya
aku meninggalkannya. Dan tidak sampai aku melewati pintu rumahnya,
hingga aku mendengar dengan nyaring suara kematian. Kita berlindung
kepada Allah dari su'ul khatimah.
islam Pictures, Images and Photos

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran