Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Rabu, 29 Juli 2009

Sifat-sifat Istri Shalihah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf6 lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)
Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,7 mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (At-Tahrim: 5)
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:
a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.
b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala
c. Qanitat: wanita-wanita yang taat
d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
e. ‘Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).
f. Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)
Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri yang shalihah adalah sebagai berikut:
1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mempersembahkan ibadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
2. Tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, terus menerus dalam ketaatan kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.
4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bertaubat kepada-Nya sehingga lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa dosa seperti dusta, ghibah, namimah, dan lainnya.
5. Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.
6. Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.

Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya:
1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.
3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)
4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)
7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ

“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)
Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi wanita yang shalihah, amin.

di ambil dari tulisan Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

KEUTAMAAN SHALAT SUBUH BERJAMAAH

KEUTAMAAN SHALAT SUBUH BERJAMAAH

Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak"
(HR. Ahmad)
Andaikata mereka mengetahui pahala shalat ‘atamah (Isya’) dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak (al-Bukhari dan Muslim)

Salah satu shalat yang paling berat dilaksanakan secara berjama’ah adalah shalat subuh. Kita lihat di masjid-masjid, ketika iqamat subuh dikumandangkan, jama’ah yang ada kebanyakan hanya satu shof saja. Bahkan, kebanyakan lagi, satu shof saja tidak full, dari tembok kiri hingga tembok kanan. Bahkan tak jarang shalat subuh di masjid hanya dihadiri oleh beberapa orang yang tidak lebih dari jari satu tangan.

Kondisi ini sangat disadari oleh Rasulullah saw sejak mula, meskipun di saat itu para shahabat senantiasa menjaga shalat secara berjama’ah. Empati dan kehalusan perasaan Rasulullah saw itu kemudian mendorong beliau untuk bersabda seperti di dalam hadis di atas, “Andaikata mereka mengetahui pahala shalat Isya’ dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak”

Bisakah kita bayangkan, orang antri berjam-jam untuk mendapatkan kupon beras murah? Pernahkan kita mendengar orang sampai rela pingsan hanya untuk mendapatkan jatah bantuan tunai yang besarnya hanya Rp. 500.000,-. Tetapi pernahkah kita mendengar orang antri untuk berwudlu sebelum shalat subuh? Kemudian mari kita bandingkan, mengapa mereka rela antri demikian berat hanya untuk keuntungan dunia yang tidak seberapa, sementara untuk mendapatkan besarnya pahala yang tidak terperikan kita enggan?

Subhanallah… Demikian mendalam penjelasan Rasulullah saw tersebut. Untuk mendatangi jama’ah shalat subuh, bahkan kalau tak bisa berjalan, tidak ada pemandu, dengan merangkak pun tetap akan dilakukannya. Kira-kira sebesar apa pahala yang ada pada shalat Subuh itu sehingga orang yang mengetahui keutamaannya akan mau berangkat untuk jama’ah Subuh, meskipun dengan merangkak?

Berikut ini adalah beberapa keutamaan shalat subuh yang dijelaskan di dalam al-Qur’an maupun hadis. Barangkali, ini belum seluruh keutamaan tergambarkan. Meski demikian, dengan mengetahui kutamaan-keutamaan yang ada di dalam shalat subuh ini semoga kita terpacu untuk ikut melakukan shalat subuh secara berjama’ah. Bahkan kalau seandainya harus merangkak pun, semoga kita tetap mau melaksanakannya… Amin;

1. Jaminan Masuk Surga dan Selamat dari Neraka
Disebutkan di dalam sebuah hadits bahwa siapa saja yang menjaga shalat Shubuh dan Ashar maka akan dimasukkan ke dalam Surga dan dijauhkan dari api neraka. Rasulullah saw bersabda,
“Barang siapa yang shalat di dua waktu yang sejuk maka dia akan masuk surga.” (al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim beliau bersabda, “Tidak akan dijilat api neraka seseorang yang shalat sebelum Matahari terbit dan sebelum tenggelam.”
Yang dimaksudkan dengan dua waktu yang sejuk adalah waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Bahkan Imam Muslim meletakkan hadis tersebut di dalam bab tentang Keutamaan Shalat Subuh dan Asar.

2. Disaksikan Malaikat
Allah swt berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah Matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (al-Isra’:78)
Shalat Shubuh, disebut Qur’anul Fajr karena bacaan al-Qur’an pada shalat ini lebih panjang daripada shalat-shalat yang lain. Terkait dengan ini, Nabi saw menjelaskan dalam sebuah haditsnyaْ
“Malaikat saling bergantian dalam mengawasi kalian semua pada waktu malam, dan juga malaikat pengawas di waktu siang, mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian malaikat yang berjaga malam hari naik, lalu Allah bertanya kepada mereka tentang hamba-hamba-Nya sedangkan Allah lebih tahu keadaan mereka, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan? Maka para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan ketika kami datang mereka pun juga sedang dalam keadaan shalat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

3- Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar
Allah swt bersumpah dengan menggunakan waktu itu, Dia berfirman, “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (al-Fajr:1-2)
Sesuatu digunakan untuk bersumpah karena memiliki nilai penting. Orang bersumpah dengan nama Allah untuk menyumpahi sesuatu. Allah digunakan untuk bersumpah oleh manusia karena Allah adalah dzat yang peling penting bagi hidupnya. Demikian juga, ketika Allah bersumpah dengan menggunakan sebuah makhlukNya, ini menunjukkan makhluk tersebut memiliki nilai penting yang besar.

4- Mendapatkan kebaikan yang lebih besar dari kebaikan dunia
Jika sempat melaksanakan dua rekaat qabliyah Shubuh, maka akan mendapatkan kebaikan yang lebih besar dari pada kebaikan dunia dan seisinya, sebagaimana sabda Rasululah saw.
“Dua raka’at Fajar (sebelum Shubuh) lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR Muslim)
Jika kebaikan dunia dengan segala isinya tidak dapat menyamai dua rakaat sebelum Shubuh maka bagaimana lagi keutamaan shalat Shubuh itu sendiri.
Dengan mengingat begitu banyak kebaikan yang ada pada shalat subuh secara berjama’ah di masjid, alangkah indahnya jika itu semua menjadi milik kita. Sebaliknya, betapa ruginya jika kebaikan dan keutamaan sebanyak itu tidak sedikit pun bisa kia raih. Sungguh bahagia orang-orang yang mau memerangi hawa nafsu, bangkit meninggalkan kasur dan selimut mereka. Berjuang keras melawan segala yang menariknya ke tempat tidur, rasa kantuk, dingin, malas dan lain sebagainya.


Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak"
(HR. Ahmad)

Seperti yang mungkin kita alami, Sholat Subuh adalah sholat yang paling sulit dilakukan, padahal faedahnya sungguh banyak, minimal ada 10 keutamaan Sholat Subuh, seperti :
1. Sholat Subuh adalah faktor dilapangkannya rezeki
2. Sholat Subuh menjaga diri seorang muslim
3. Sholat Subuh sama dengan sholat malam semalam suntuk
4. Sholat Subuh adalah tolok ukur keimanan
5. Sholat Subuh adalah penyelamat dari neraka
6. Sholat Subuh adalah salah satu penyebab seseorang masuk surga
7. Sholat Subuh akan mendatangkan nikmat berupa bisa melihat wajah Allah yang mulia
8. Sholat Subuh adalah suatu syahadah (kesaksian, bukti), khususnya bagi yang konsisten memeliharanya
9. Sholat Subuh adalah kunci kemenangan
10. Sholat Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya

CELAAN TERHADAP TAKABUR

Bismillahir Rahmannir Rahimm

Assalammu’alaikum wr.wb.

Takabur atau sombong merupakan sifat yang tercela, Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-A’raaf:146 yang artinya: “ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaa-Ku”.
Allah SWT telah berfirman:”Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang”.(Qs. Aal-Mu’min:35).
Nabi Muhammad saw telah bersabda: “Tidak dapat masuk surga orang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan seberat zarrah (semut kecil)”.

Makna takabur adalah suatu sifat dalam jiwa manusia yang timbul karena memandang dirinya, dan kesombongan yang tampak pada lahiriahnya merupakan pengaruh dari sifat itu. Rasulullah saw telah bersabda: “Aku berlindung kepada Engkau dari hembusan sifat takabur (sombong yang ada dalam diri)”.

Macam-macam sombong:
1.Sombong terhadap Allah; misalnya orang yang bersangkutan tidak mau tunduk kepada perintah-Nya, maka hal itu merupakan kekafiran yang parah.
2.Sombong terhadap para Rasul; yang artinya tidak mau patuh kepada manusia yang semisal dengannya, maka hal itu merupakan kekafiran yang parah.
3.Takabur terhadap sesama manusia dan menyeru mereka untuk melayani dan berendah diri kepadanya; dan hal ini berarti menyaingi keagungan-Nya, karena sesungguhnya selain Allah, sesuatu yang lain tidak pantas sama sekali ditaati.
4.Sombong karena harta dan kedudukan; barang siapa diuji dengan cinta kedudukan, maka cita-citanya hanya terbatas untuk meraih kedudukan dan memburunya untuk makin bertambah serta menjaring hati semua orang, dan yang demikian itu memaksanya untuk berbuat riya dan munafik.
Karena itu Rasulullah saw menyerupakan hal tersebut yakni cinta harta dan kedudukan dengan dua ekor serigala lapar yang dimasukkan ke dalam kandang ternak kambing, beliau bersabda:
“Sesungguhnya cinta kedudukan itu dapat menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran”.
5.Sombong karena memperlihatkan kesalehannnya, maka hal ini bertentangan dengan kesalihan itu sendiri.
Alloh SWT telah berfirman:”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadat dengan Tuhannya”.
Dan Allah pun berfirman dalam Qs. Al-Maa’uun :4-6: “Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, orang yang berbuat riya.
6.Sombong karena kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, ilmu dan amalnya; maka hal itu seharusnya dilakukan hanyalah karena Allah, apabila dia menyombongkan diri dengan terhadap manusia, berarti pahalanya telah diambilnya bahkan pahala amalnya itu hampir digugurkan (dihapuskan).
Jiwa kita bebas apabila dirinya (jiwa kita) bersih dari rasa takabur. Apabila jiwa kita cenderung merasa tinggi di atas orang lain, maka hendaklah ia mengekang diri dengan bersikap rendah diri dan menetapinya, mudah-mudahan Allah membebaskan kita dari sifat yang kotor ini. Apabila jiwa kita merasakan bahwa telah terbebas dari sifat takabur, maka hendaklah kita membuktikannya dengan menguji diri melalui empat perkara berikut:
1.Mencoba diri melakukan debat dengan seorang lawan untuk menguji apakah kita emosi dan marah karena kebenaran berada dipihak lawan, dan apakah kita masih mempunyai perasaan ingin menang ataukah tidak?
2.Hendaklah kita mendahulukan teman-teman kita atas diri kita diberbagai tempat pertemuan
3.Hendaklah kita membawa kebutuhan kita ke rumah kita baik yang berupa makanan atau lainnya, karena demikianlah menurut tuntunan sunah dan hendaknya kita membantu pekerjaan rumah bersama dengan pelayan-pelayan kita, juga makan bersama mereka. Semua itu merupakan hal yang dianjurkan oleh sunnah. Juga memenuhi undangan orang fakir, berangkat bersama mereka dan membantu membawakan kebutuhan mereka.
Nabi telah bersabda:” Barangsiapa yang membawa keperluannya ke rumahnya, sesungguhnya dia telah terbebas dari takabur”.
4.Hendaklah ia memakai pakaian yang sederhana di kalangan orang banyak.
Nabi telah bersabda:” Kesederhanaan itu termasuk bagian dari iman”

Marilah kita renungi, bahwa sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan, dan rendah diri yang terpuji ialah bersikap rendah diri dengan teman-teman tanpa menghinakan diri.

Wassalammu’alaikum wr.wb.
(Dikutip dari Ringkasan Ihya Ulumudin karya Imam Al –Ghazali)

Berdo'a dan Bekerja

"Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu 99, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 2:153) 99, Ada pula yang mengartikan: "Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan shabar dan shalat".

Kita sering mendengar ungkapan Latin "Ora et Labora" yang kurang lebih artinya "Berdoalah sambil bekerja". AlhamdulilLah, dalam Islam ajarannya jauh lebih sempurna, yaitu : berdo'alah dengan SHALAT, walaupun termasuk seluruh do'a secara umum. Adapun bekerja harus disertai dengan SABAR.

Sabar mencakup tiga keadaan :
1. Sabar ketika melaksanakan perintah Allah
2. Sabar ketika meninggalkan hal2 yang dilarangNya
3. Sabar ketika menerima takdirNya yang terasa pahit, untuk kemudian Ridho atas ketentuanNya, dilanjutkan Syukur karena meyakini selalu ada hikmah di balik musibah.

Diriwayatkan bahwa Imam Al Bukhary rahimahulLaah sebelum menulis SETIAP hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang dimuat dalam SHAHIH BUKHARY shalat dulu 2 raka'at, sehingga sampai sekarang kitab SHAHIH BUKHARY adalah buku paling terpercaya setelah Al Qur'an.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw. bersabda, "Do'a seorang hamba akan terus dikabulkan selama ia tidak meminta suatu dosa atau untuk memutus tali silaturami dan tidak tergesa-gesa." Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?" Beliau menjawab, "Yaitu seorang yang berkata-kata, 'Aku sudah berdo'a dan berdo'a namun sampai sekarang belum juga dikabulkan.' Lalu ia merasa rugi dan akhirnya tidak lagi mau berdo'a," (HR Muslim [2735]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Shamit r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada di atas bumi muslim yang berdo'a kepada Allah kecuali Allah akan memberi apa yang ia minta atau Allah akan menghindarkannya dari kejelekan yang semisalnya, selama ia tidak berdo'a untuk suatu dosa atau untuk memutus tali silaturahim." Seorang lelaki dari suatu kaum bertanya, "Kalau begitu kami akan memperbanyak do'a?" Beliau menjawab, "Apa yang Allah berikan lebih banyak daripada apa yang kalian minta," (Shahih, HR at-Tirmidzi [3644]).

Semoga kita dijadikan orang-orang yang konsisten (istiqomah) dalam menetapi kesabaran, sholat, dan berdo'a hanya kepada Allah semata. Aamiin.

Dari catatan ust. Abuyahya (Narasumber)

KEBERANIAN MENYUARAKAN KEBENARAN



Ikhwani wa Akhwati Fillah
1- Sesungguhnya kebenaran itu bersumber dari Allah SWT :

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. [QS 2:147]

2- Dan Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk menyampaikan mebenaran ilahy (risalahNya) kepada manusia:

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[5:92]

3- Resiko dalam menyampaikan kebenaran Ilahy pasti ditemui, seperti para Nabi yang mengalaminya.
Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat". [7:87]

4- Maka bersabarlah atas apapun ocehan mereka

Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. [7:93]

5. Sesungguhnya pengecut, jika karena "takut resiko" ia menjadi menyembunyikan kebenaran, dan menukarnya dengan kesenangan dunia yang fana.

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.[2:228]

6. Peganglah kebenaran itu, dan iringi memegangnya dengan "KEKUATAN" (baik fisik materil maupun mental spirituil)

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [2:87]

Marhamah, 29 Juli 2009
~ Fitnusa ~

Hukum Bekerja Di Bank Yg Mengamalkan Riba


Ini adalah Fatwa Muasarah Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan pada asas memerangi riba dan menganggapnya sebagai dosa besar yang dapat menghapuskan berkah dari individu dan masyarakat, bahkan dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat. Hal ini telah dijelaskan di dalam Al Qur'an dan As Sunnah serta telah disepakati oleh umat.

firman Allah Ta'ala :

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (Al Baqarah: 276)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketabuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu ..." (Al Baqarah: 278-279)

Rasulullah saw. bersabda

"Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah." (hari Hakim)

Dalam peraturan dan tuntunannya Islam menyuruh umatnya agar memerangi kemaksiatan. Apabila tidak sanggup, minimal ia harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya tidak terlibat dalam kemaksiatan itu.

Karena itu Islam mengharamkan semua bentuk kerja sama atas dosa dan permusuhan, dan menganggap setiap orang yang membantu kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya, baik pertolongan itu dalam bentuk moral ataupun material, perbuatan ataupun perkataan.



Jabir bin Abdillah .a. meriwayatkan:

"Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya." Dan beliau bersabda: "Mereka itu sama." (hari Muslim)

Ibnu Mas'ud meriwayatkan:

"Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya." (hari Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:

"Orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dan dua orang saksinya --jika mereka mengetahui hal itu-- maka mereka itu dilaknat lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga hari kiamat." (hari Nasa'i)

Hadits-hadits sahih yang shorih itulah yang menyiksa hati orang-orang Islam yang bekerja di bank-bank atau syirkah (persekutuan) yang aktivitinya tidak lepas dari tulis-menulis dan bunga riba.

Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

"Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya." (hari Abu Daud dan Ibnu Majah)

Keadaan seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan oleh golongan kapitalis ini hanya dapat diubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam.

Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa.

Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.

Setiap muslim yang mempunyai kepedulian akan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya, dan segenap kemampuannya melalui berbagai wasilah (sarana) yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berpaham sosialis.

Di sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang nonmuslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.

Terlepas dari semua itu, perlu juga diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan dunia perbankan tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan perpialangan, penitipan, dan sebagainya; bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram. Oleh karena itu, tidak mengapalah seorang muslim menerima pekerjaan tersebut --meskipun hatinya tidak rela-- dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju keadaan yang diridhai agama dan hatinya.

Hanya saja, dalam hal ini hendaklah ia melaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan Rabb-nya beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya:

"Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan." (hari Bukhari)

Sebelum saya tutup fatwa ini janganlah kita melupakan keperluan hidup yang oleh para fuqaha diistilahkan telah mencapai tingkatan darurat. Keadaan inilah yang mengharuskan saudara penanya untuk menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah SWT:

"... Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Baqarah: 173}

Wallahua'lam

________________________________________

Artikel ini datangnya dari: Portal Komuniti Muslimah -- Hanan.com.my
http://www.hanan.com.my/

DISIPLIN_LAH ENGKAU MENJALANKAN SHALAT 5 WAKTU


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sholat Dzuhur di waktu tengah hari (matahari sudah tergelincir), sholat Ashar ketika matahari masih hidup (panas), sholat Maghrib ketika matahari benar-benar telah tenggelam, beliau mengawalkan Isya ketika jamaah sudah banyak, ketika mereka masih sedikit, beliau mengakhirkannya, dan beliau
sholat Subuh ketika masih gelap. (HR. Imam Bukhari)
Sholat merupakan amalan manusia yang paling pertama ditanyakan oleh Allah swt ketika di pengadilan akhirat nanti. Barangsiapa yang sholatnya dikerjakan dengan baik maka beruntunglah dia, dan sebaliknya, barangsiapa yang sholatnya dinilai kurang, maka kekurangannya hanya bisa ditutup bila ia memiliki amalan sholat sunnah.

“Sesungguhnya hal pertama yang diperhitungkan dari seorang hamba Allah ta’aala pada hari kiamat ialah sholatnya. Jika didapati ia sempurna maka ia dicatat sebagai sempurna. Jika didapati terdapat kekurangan, maka dikatakan ”Coba lihat adakah ia memiliki sholat sunnah yang dapat melengkapi sholat wajibnya?” Kemudian segenap amal perbuatannya yang lain diproses sebagaimana sholatnya. (HR AnNasai)

Disiplin sholat lima waktu adalah salah satu ciri orang yang bertakwa, setiap adzan berkumandang maka ia segera mengambil air wudhu dan memenuhi panggilan Allah swt tersebut. Menegakkan sholat fardhu tepat pada waktunya merupakan perintah Allah swt, dicontohkan pula oleh Nabi Muhammad saw.
Disiplin sholat lima waktu yaitu mengerjakan sholat wajib tepat pada waktunya. Allah swt mencintai hamba-Nya yang mengerjakan sholat tepat pada waktunya, serta menghapuskan dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda: “Seorang muslim bila berwudhu dan ia baguskan wudhunya kemudian ia sholat lima waktu, maka berguguranlah kesalahannya seperti bergugurannya daun ini.” Kemudian beliau membaca ayat sebagai berikut: “Tegakkanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (HR .Thabrani)

Disiplin sholat lima waktu yang sesuai dengan syariat yaitu bukanlah sholat di awal waktunya, melainkan tepat pada waktunya. Karena, di antara sholat wajib ada yang disunnahkan untuk diawalkan dan ada yang disunnahkan untuk diakhirnya. Hal tersebut dikarenakan ada sebabnya.

Sholat yang baik dikerjakan diawal yaitu sholat Subuh, Dzuhur, Ashar, dan Maghrib dikarenakan waktunya yang tidak terlalu panjang, terkecuali ada sebab lain. Misalnya saja waktu sholat Dzuhur yang biasanya panas terik, melaksanakannya lebih baik diakhir hingga cuaca tidak terlalu panas. Rasulullah saw bersabda: “Apabila hari sangat panas, maka tangguhkanlah sholat karena sesungguhnya panas yang menyengat itu termasuk dari bahan api neraka jahanam.” (HR. Bukhari)

Sedangkan sholat yang baik dikerjakan diakhirnya yaitu sholat Isya. Sholat isya disunnahkan untuk diakhirkan hingga sepertiga malam. Waktu sepertiga malam itulah yang paling baik untuk mengerjakan sholat malam, baik sholat wajib (Isya) maupun sholat sunnah (tahajud, witir, dan lain-lain). Namun untuk batas akhir waktu sholat Isya adalah separuh malam pertengahan. Maka disunnahkan untuk mengerjakan sholat Isya pada waktu sepertiga malam yang pertama. Nabi Muhammad saw bersabda: “Waktu shalat Isya hingga separuh malam pertengahan…” (HR. Muslim)

Sedangkan dalam hadits lainnya berbunyi; “Dan sholat Isya lah diantara kamu di sepertiga malam. Jika kamu akhirkan maka hingga separuh malam dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (Diriwayatkan oleh Malik, Ath-Thahawi dan Ibnu Hazm dengan sanad shahih).

Meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja merupakan sebuah dosa besar. Apalagi bila dilakukan dengan sengaja, bisa menyebabkan orang yang meninggalkan sholat tersebut terjerumus pada musyrik dan kufur. Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya antara seorang lelaki dan kemusyrikan serta kekufuran ialah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)

Dari Ummu Aiman ra bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Jangan kamu tinggalkan sholat dengan sengaja. Karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka sungguh lepaslah darinya perlindungan Allah ta’aala dan Rasul-Nya.”(HR. Ahmad)

Displin dalam mengerjakan sholat lima waktu akan membawa kita kepada keridhoan Allah swt. Oleh karena itu, sedapat mungkin bagi kita untuk selalu mgenrjakan sholat tepat pada waktunya. Allah swt selalu memberikan kita kenikmatan, mengabulkan doa dan keinginan kita setiap saat, maka apa salahnya bila kita mengerjakan perintah-Nya dengan taat?

Wallahualam bishshawab.
islam Pictures, Images and Photos

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran