Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Minggu, 12 April 2009

Hukum Kartu Kredit

HUKUM KARTU KREDIT
Ulama : Syaikh Ibnu Jibrin

Kategori : Jual Beli - Riba



Pertanyaan:

Saya mempunyai kartu bank yang disebut dengan Kartu Kredit. Melalui keanggotaan ini saya bisa membeli setiap kebutuhan yang saya perlukan, khususnya ketika dalam perjalanan di mana saya sangat antusias untuk tidak menggunakan uang, karena untuk menjaga keamanan dari pencurian dan kehilangan. Mengingat, keanggotaan pada kartu ini mewajibkan saya untuk membayar tagihan tahunan. Dalam hal ini, bank di mana saya berlangganan mengirimkan daftar bulanan bagi barang yang telah dibeli tanpa mengenakan biaya tambahan. Hanya saja, dalam kondisi saya tidak melunasi tagihan bulanan, maka dikenakan bunga atas hal itu. Perlu diketahui, bahwa saya tidak akan terlambat dalam membayar tagihan karena biayanya terpenuhi (ada). Apa hukum kartu tersebut?



Jawaban:

Dalam pandangan saya, tidak boleh berlangganan pada kartu seperti ini karena adanya tagihan tahunan diambil dari para anggota. Di samping itu, karena hal itu membuat anda dibatasi untuk tidak membeli kecuali dari orang-orang tertentu saja, atau bila anda terlambat melunasinya, maka bank tersebut akan menambah biaya bagi anda, dan tambahan biaya ini tidak lain adalah riba yang kentara, akan tetapi bila anda takut terjadi pencurian terhadap uang anda dalam kondisi perjalanan, maka mungkin dibolehkan menggunakan kartu tersebut sesuai ukuran keperluannya saja.



Rujukan:

Al-Lu’lu’ Al-Makin Min Fatawa Ibn Jibrin, Hal.206,207.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Nasehat Untuk Penuntut Ilmu

Nasehat Untuk Penuntut Ilmu

1. Wajib bagi penuntut untuk memulai dari masalah Tauhid dalam menuntut ilmu dan juga memulai dakwah dari masalah Tauhid. [1]

2. Wajib bagi penuntut ilmu untuk ikhlas dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berdakwah. [2] Karena memang sesungguhnya untuk Ikhlas dalam menuntut ilmu amatlah sulit, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Dzahabi, “Demi Allah saya tidak pernah berkata menuntut ilmu karena Allah.” Sehingga sudah menjadi kebiasaan ulama terdahulu apabila mereka telah beramal maka mereka berdoa agar amalnya diterima walaupun mereka telah Ikhlas.

3. Bersungguh-sungguh untuk ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik pada masalah yang sepele maupun besar.[3]

4. Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman salafusshaleh[4]. Dan hati-hatilah terhadap syubhat dan syahwat.

5. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Sebab banyak Keutamaan yang didapat dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, seperti Allah memudahkan jalan baginya menuju surga[5], naiknya derajat bagi orang-orang yang menuntut ilmu[6] dan sebagainya [penjelasan lengkap silahkan baca kitab, “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga”, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas].

6. Berakhlaq dengan akhlaq yang mulia..[7]

7. Berperilaku lemah lembut, sabar, berhati-hati (tidak terburu-buru) dalam mengahadapi masalah. Sebab semua hal yang terjadi telah Allah takdirkan dan pandanglah setiap permasalahan dengan pandangan syariat dan bukan dengan emosi.

8. Kebenaran hanya ada satu dan tidak berbanding. Sehingga bila ada perbedaan tentu ada yang rajih (silahkan baca mukadimah buku, “Sifat Sholat Nabi”, karya Syaikh Nashirudin Albani.

9. Tidak terburu-buru dalam membawa berita dan tidak menyebarkan dan membenarkan isu (gosip). Sehingga berhati-hatilah dengan media yang ada saat ini dimana para pemiliknya berasal dari orang kafir, munafik dan orang-orang yang tidak mengenal Al-Qur’an dan As-Sunnah.[8] Sehingga jika kita mendengar suatu berita jangan langsung disebarkan, tabayun dahulu dan pertimbangkan manfaatnya.

10. Manfaatkan waktu walaupun hanya sedikit.[9]

11. Bersungguh-sungguh dalam menyampaikan ilmu kepada manusia. Sampaikanlah dari yang paling mudah (masalah tauhid) baru kemudian yang seterusnya.

12. Bersungguh-sungguh dalam beribadah.[10]

13. Tidak larut dalam kelompok-kelompok yang ada. Ikatan yang terjalin hanya kepada Allah dan bukan pada yang lain. Wala’ hanya kepada Allah dan Rasul-Nya..[11]


Sumber Hadist:
[1] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda,"Artinya : Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah pesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ….. dan seterusnya sampai akhir hadits. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1395) dan ditempat lainnya, dan Muslim (19), Abu Daud (1584), At-Tirmidzi (625), semuanya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu].

[2] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan Ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi maka ia tidak mendapatkan harumnya surga pada hari kiamat. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (II/338), Abu Dawud (3664), Ibnu Majah (252), al-Hakim (I/85), Ibnu Hibban (78) dan lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu].

[3] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan tercerai-berai sehingga keduanya mengantarku ke telaga (surga).” [Dishahihkan Albani dalam Shahihul Jami’]

[4] Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata : “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,"Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat" Rasulullah bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat." [HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih]

[5] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah memudahkan jalannya menuju surga.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (2641), Ibnu Majah (223) dan Ibnu Hibban (80), lafadz ini milik Ahmad dari Abu Darda Radhiyallahu anhu]

[6] Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Qs. Al-Mujaadilah : 11]

[7] "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang palng baik diantara mereka akhlaknya dan sebaik baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri istrinya." (Silsilah Hadits Shahih no. 284).

[8] Allah berfirman dalam kitabNya yang mulia. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [Al-Hujarat : 6]

[9] Rasulullah shallallahu’alaihi wassallam bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh : al-Bukhari (6412), at-Tirmidzi (2304), Ibnu Majah (4170), Ahmad (I/258, 344), ad-Darimi (II/297), al-Hakim (IV/306) dan lainnya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu]

[10] Allah berfirman dalam kitabNya yang mulia. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [An-Nisaa : 142]

[11] Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api." (Muttafaq ‘alaih)

Jumat, 10 April 2009

Yakinlah bahwa Silaturahhim akan Memperluas Rizqi dan Memperpanjang Umur

Telah termasyur hadis Rasulullah SAW tentang Silaturahhim . Bahwa orang yang bersilaturahim akan memperluas rizqi dan memperpanjang umur. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa apa-apa yang dijanjikan Allah dan Rasulullah pasti akan terpenuhi. Begitu juga masalah silaturahhim banyak orang yang sudah membuktikan bahwa silaturahim akan memperluas rejeki. Ada diantaranya orang yang bisnis berkembang pesat karena diantaranya rajin silaturahim. Dengan Silaturahim orderan ada - ada saja jalannya. Tidak disengaja dalam forum silaturahim muncul begitu tiba-tiba, ada yang cerita kemana-mana kemudian bisa menimbulkan jalannya rejeki. Saya sendiri telah banyak membuktikan akan hal ini. Saya saat berwiraswasta dengan usaha membuka toko bangunan dan setiap saya habis bersilaturahhim ke tempat ibu saya . Hari besoknya pasti toko saya ramai. Hal ini berulang beberapa kali, dan slalu berulang. Inilah salah satu bukti nyata manfaat silaturahim didunia dan mungkin lebih baik lagi manfaatnya diakhirat yang belum dapat kita ketahui tapi janji Allah pasti.

Selasa, 07 April 2009

Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-qur"an

Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-Qur`an


وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ. قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)

“Pucuk di cinta ulam tiba”, begitulah sebuah ungkapan yang terucap dari seorang yang merasa senang dan bahagia, atas tercapainya suatu dambaan yang selama ini dicari dan dicitakan, bahkan melebihi dari apa yang diduga dan dikira.
Adalah kesempatan emas, yang disenangi oleh banyak manusia, khususnya bagi para pengembara kursi (jabatan), tahta, dan dunia, tatkala dihadapkan pada sebuah tawaran, untuk duduk di atas kursi (jabatan).
Bisa jadi seseorang akan menanggapi dan berkata: “Ini namanya kejatuhan rezeki, susah dicari, dan untuk mendapatkannya sulit sekali. Belum tentu seumur hidup bisa ketemu sekali. Mengapa ditolak?” Atau mungkin…
“Betul, di dalamnya banyak penyimpangan dan pelanggaran. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengubah, lantas siapa lagi?”
“Kalau kursi jabatan diduduki oleh orang luar, siapa yang akan melakukan perubahan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan syariat Islam dan sistem kenegaraan yang bernuansa Islam?”
“Segala sesuatu itu apabila sudah dikuasai dan dipegang kepalanya, yang lain akan mudah dikendalikan dan dikuasai.”

Penjelasan dan Makna Ayat
وَقَالَ الْمَلِكُ
“Dan raja berkata.”
Al-Imam Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir rahimahullahu (224-318 H), dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (16/147) menerangkan bahwa raja yang dimaksud dalam ayat ini adalah raja yang terbesar (terkemuka). Ia bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari jalan Ali bin Hussain, dari Muhammad bin Isa, dari Salamah, dari Muhammad bin Ishaq. (lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 4/275, Ibnu Abi Hatim 8/383)
أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي
“Aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku.”
Maknanya adalah: “Aku jadikan dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagi diriku.” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi).
Ibnu Abi Hatim, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi rahimahullahu (wafat pada th. 327 H), menyebutkan dalam kitab tafsirnya (8/386), riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Raja mengatakan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku menyukai agar kamu menemaniku dalam setiap keadaan, kecuali dalam urusan keluargaku. Karena aku tidak suka makan bersamamu.”
Mendengar hal itu, Nabi Yusuf ‘alaihissalam marah sambil berkata: “Aku lebih berhak untuk menjauhkan diri, karena orangtuaku adalah Ibrahim Khalilullah, orangtuaku Ishaq dzabihullah.” Pada riwayat lain dengan lafadz: “Yusuf bin Ya’qub, Nabiyullah bin Ishaq dzabihullah bin Ibrahim Khalilullah.”
فَلَمَّا كَلَّمَهُ
“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengannya.”
Al-Imam Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud rahimahullahu wafat th. 516 H, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil (4/250-251) menyebutkan riwayat dari Wahb (bin Munabbih, pen.). Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendatangi sang raja dan mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa Arab. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, “Ini bahasa pamanku, Nabi Ismail.” Kemudian Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendoakannya dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Dijawab, “Ini bahasa ayah-ayahku dan raja tidak tahu dengan dua bahasa tersebut.”
Wahb juga bercerita bahwa sang raja (Ar-Rayyan bin Al-Walid) ini menguasai 70 bahasa. Setiap kali berbicara dengan suatu bahasa, Nabi Yusuf menjawabnya dengan bahasa yang sesuai, bahkan menambah dengan dua bahasa, yaitu Arab dan Ibrani. Melihat hal ini, sang raja heran dan terkesan, dalam keadaan Nabi Yusuf masih muda. Usia beliau pada waktu itu baru mencapai 30 tahun. Maka raja mendudukkannya, dan berkata, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’.”
Sebagian meriwayatkan, bahwa raja ingin mendengarkan secara langsung tentang ta’bir mimpi yang pernah diceritakan sebelumnya (lihat apa yang tersebut dalam surat Yusuf dari ayat 43 sampai 49, pen.).
Setelah mendengar seluruh penuturan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, Sang Raja bertanya, “Siapa yang akan mendampingiku dalam hal ini, serta mampu menyelesaikan, mengerjakan, dan mengatur semua urusan ini?”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Raja berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.”
Ibnul Jauzi rahimahullahu (588-587 H), menyebutkan dalam tafsirnya riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna مَكِينٌ أَمِينٌ adalah “Aku telah mengokohkan, menguatkan, dan memercayakan urusan kekuasaan (kerajaan/negara) kepadamu.”
Al-Muqatil rahimahullahu berkata, makna الْـمَكِينُ yaitu orang yang punya kedudukan (terkemuka). Sedangkan الْأَمِينُ yaitu yang menjaga, memelihara, dan melindungi. (Lihat Zadul Masir 3/439)
Al-Baghawi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya, الْـمَكِينُ yaitu berpangkat, berkedudukan. Sedangkan الْأَمِينُ adalah yang dipercaya.
Al-Alusi rahimahullahu dalam kitabnya Ruhul Ma’ani juga menyebutkan, Al-Makin yaitu berpangkat dan berkedudukan yang tinggi. Al-Amin yaitu dipercaya atas segala sesuatu.
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).”
Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari خَزَانَةٌ artinya tempat menyimpan, yaitu tempat peyimpanan makanan dan harta. Sedangkan الْأَرْضُ alif-lam di sini berfungsi sebagai pengganti idhafah, maknanya خَزَائِنُ أَرْضِكَ yaitu bendahara negaramu (Mesir).
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Sa’id bin Manshur rahimahullahu ia berkata, “Saya mendengar dari Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Negeri Mesir adalah خَزَائِنِ الْأَرْضِ. Tidakkah kalian mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
yaitu untuk menjaganya (menjadi bendahara negara), dengan menghilangkan mudhaf.
إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu setelah menyebutkan ayat ini, mengatakan bahwa para ulama berselisih dalam menafsirkannya hingga menjadi tiga pendapat:
Pertama, mereka berpendapat, maknanya adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dititipkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap apa yang telah diserahkan/dilimpahkan kepadaku.”
Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq.
Kedua, pendapat yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dilimpahkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap perkara (urusannya).”
Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari jalan Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id, dari Qatadah.
Ketiga, ada pula yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah seorang yang pandai menjaga untuk hisab/perhitungan (perihal pengeluaran dan pemasukan harta milik negara, pen.), mengetahui beberapa bahasa.”
Pendapat ini disandarkan kepada sebuah riwayat, dari jalan Ibnu Waqi’, dari ‘Amr, dari Al-Asyja’i.
Setelah memaparkan tiga pendapat di atas, beliau berkata: “Menurut kami pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Karena ucapan ini terjadi setelah Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan kepada raja: ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).” Bentuk permohonan Nabi Yusuf kepada raja, bahwa ia mampu mengurusi (sebagai bendahara) negara Mesir, menunjukkan, bahkan sekaligus sebagai pemberitaan bahwa beliau memiliki kemampuan dalam hal ini. Makna ini lebih sesuai untuk memaknai kalimat ﭻ ﭼ ketimbang dimaknakan dengan makna sebagaimana yang tersebut pada pendapat ketiga (tersebut di atas).”
Abul Fida Isma’il bin Umar, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir rahimahullahu (700-774 H), berkata setelah menyebutkan dua ayat di atas: “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang Raja Mesir (Ar-Rayyan bin Al-Walid), setelah memastikan terbebasnya Nabi Yusuf ‘alaihissalam, bersih dan sucinya kehormatan beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Raja mengatakan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي
“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku”, yakni jadikanlah dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagiku.
فَلَمَّا كَلَّمَهُ
“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengan dia” yakni raja telah bercakap-cakap dengannya, mengetahui serta melihat keutamaan, kepandaian, kemahiran, dan kecakapan serta keutamaan dan kesempurnaan pada rupa dan perangainya, berkatalah raja kepadanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” yakni, sesungguhnya kamu di sisi kami telah menjadi seseorang yang berkedudukan dan dipercaya. Yusuf ‘alaihissalam berkata, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam memuji dirinya. Hal ini diperbolehkan bagi seorang yang belum diketahui tentang keadaan dirinya, pada saat yang dibutuhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa ia adalah orang yang حَفِيظٌ (pandai menjaga), penjaga/bendahara yang dipercaya, عَلِيمٌ (berpengetahuan), yakni memiliki pengetahuan, ketelitian, dan kejelian terhadap segala perkara yang diurusinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/275)
Perlu diketahui sekali lagi, bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.

Faedah
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya: “Sebagian ulama berkata, pada ayat ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya bagi orang yang baik (shalih), bekerja untuk orang yang buruk (fajir) atau penguasa yang kafir. Dengan syarat, orang tersebut tahu, bahwa segala pekerjaan/tugas diserahkan kepadanya (diberi kekuasaan penuh untuk mengaturnya), dan bukan diatur oleh (orang-orang yang fajir atau penguasa yang kafir tersebut, pen.). Sehingga, ia akan mengatur sesuai dengan apa yang dia kehendaki (untuk hal yang baik dan bermanfaat). Adapun kalau pekerjaan tersebut harus berdasarkan pada kemauan dan kehendak orang yang fajir atau (penguasa yang kafir), menuruti hawa nafsu dan kekufurannya (di bawah aturan mereka), hal yang demikian ini tidak diperbolehkan.
Sebagian mereka berpendapat, perihal ini (bekerja untuk orang buruk/ penguasa yang kafir) khusus hanya untuk Nabi Yusuf ‘alaihissalam saja. Adapun sekarang tidak diperbolehkan. Pendapat yang pertama lebih kuat (boleh dan bukan kekhususan), dengan syarat yang telah disebutkan tadi.
Al-Mawardi rahimahullahu berkata: “Apabila yang berkuasa adalah orang yang zalim, para ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya, seorang untuk bekerja dengannya.
Pendapat pertama, membolehkan. Apabila seorang bekerja dengan baik dan benar (memenuhi hak), pada perkara yang telah diserahkan penuh kepadanya (untuk mengaturnya). Karena dalam ayat ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam bekerja (menerima pekerjaan) dari raja (Fir’aun)1. Pertimbangan ini berdasarkan pekerjaan (kemampuan) beliau dan bukan pada orang lain.
Pendapat kedua, tidak membolehkan. Hal ini berdasarkan adanya bentuk/unsur menolong atas kezaliman yang mereka lakukan. Memuji mereka, dengan meniru (melakukan) perbuatannya.
Para ulama yang berpendapat membolehkan bekerja dengan orang yang zalim, menjawab perihal yang terjadi pada Nabi Yusuf ketika menerima pekerjaan dari Fir’aun, dengan dua jawaban:
Pertama, Fir’aun (raja)-nya Nabi Yusuf waktu itu seorang yang shalih (muslim). Adapun Fir’aun yang membangkang (kafir), adalah Fir’aun (raja)-nya Nabi Musa ‘alaihissalam.
Kedua, hal ini melihat pada kekuasaan dan bukan pada pekerjaannya.”
Al-Mawardi berkata: “Yang benar dalam hal ini adalah merinci masalah menjadi tiga kesimpulan:
1. Boleh bagi orang yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukannya. Dengan catatan, tidak ada unsur berijtihad (berpendapat) dalam melaksanakan tugasnya seperti menyalurkan shadaqah dan zakat.
Boleh seseorang menerima pekerjaan dan tugas dari orang yang zalim. Karena, adanya nash/dalil yang menerangkan kepada siapa shadaqah dan zakat itu disalurkan telah mencukupi, sehingga tidak memerlukan lagi adanya ijtihad. (Maka kebebasan bertindak dalam hal ini, telah menjadi cukup baginya [terbebaskan] dari mengikuti perintah [peraturan orang zalim tersebut, pen.]).
2. Keadaan di mana seseorang tidak diperbolehkan untuk bertindak sendiri, adanya keharusan untuk berijtihad (berpendapat, berinisiatif) dalam mengatur urusan, seperti menangani harta rampasan.
Keadaan seperti ini tidak boleh bagi seseorang untuk menerima penugasan dari orang yang zalim. Hal ini dikarenakan ia telah melakukan tindakan yang tidak benar dan berijtihad (berpendapat, mengatur) pada perkara yang tidak berhak untuk melakukannya.
3. Keadaan yang boleh melimpahkan tugas kepada orang yang ahli dan boleh baginya berijtihad, seperti menangani hukum dan pidana. Apabila terjadi kesepakatan dari kedua belah pihak dan tidak ada yang dipaksa, (maka boleh baginya bekerja untuk orang yang zalim, pen.). Namun apabila terjadi pemaksaan, tidak diperbolehkan.
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu dalam Taisir Al-Lathiful Mannan, berkata setelah menyebutkan ayat di atas: “Pada ayat ini terdapat keutamaan ilmu, ilmu syar’i dan hukum, ilmu ta’bir mimpi, ilmu mengatur dan mengurusi negara, serta ilmu kepemerintahannya. Yang menjadi salah satu sebab Nabi Yusuf ‘alaihissalam memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat kelak, yaitu adanya ilmu yang beragam dan banyak (mengetahui berbagai macam ilmu). Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu ta’bir mimpi termasuk bagian dari fatwa. Maka tidak boleh bagi siapapun untuk mena’birkan suatu mimpi dan memastikannya, sebelum mengetahui secara pasti. Sebagaimana halnya (dalam hukum/perkara), tidak boleh bagi siapapun berfatwa dalam hal apapun tanpa ilmu. Karena dalam surat Yusuf ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai kemampuan mena’birkan mimpi, dengan nama ilmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ
“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi.” (Yusuf: 6)
Ayat ini juga menerangkan, tidak mengapa seseorang memberitakan tentang dirinya, berupa sifat-sifat yang baik dan sempurna, berilmu pengetahuan dan yang lainnya. Hal ini boleh dilakukan selama membawa maslahat, selamat dari berdusta, dan tidak bermaksud untuk memperlihatkan diri (riya’). Seperti yang tersebut dalam ayat: Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

Catatan: Beberapa rujukan yang tersebut di atas, keumumannya dinukil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah. Mengingat keterbatasan rujukan yang ada pada kami.
Wallahu a’lam bish-shawab, wal ‘ilmu ‘indallah.

1 Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, fir’aun (pharao) adalah nama yang dipakai untuk penyebutan raja-raja Mesir zaman dahulu. Sebagaimana Qaisar (Kaisar) atau Hiraql (Heraklius) untuk penamaan raja-raja Romawi. Adapun Persia terkenal penyebutannya dengan Al-Akasirah, bentuk jamak dari Kisra. Sedangkan raja-raja Yaman dikenal penamaannya dengan At-Taba’ah, jamak dari Taba’. Kemudian beliau menyebutkan riwayat dari Muhammad bin Ishaq, bahwa fir’aun-nya Nabi Yusuf adalah raja terkemuka bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, dan masuk Islam (mengikuti ajaran Nabi Yusuf ‘alaihissalam). Sedangkan fir’aun-nya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah raja yang bernama Al-Walid bin Mush’ab bin Ar-Rayyan (dan menentang ajaran Nabi Musa ‘alaihissalam)

Sabtu, 04 April 2009

Permintaan Sederhana

Raja Negeri Batu Gamping memangil keempat menterinya. Dia merasa puas dengan hasil kerja mereka. Negeri Batu Gamping yang tandus kini menjadi subur dan makmur. Sudah selayaknya keempat menteri itu diberi anugrah.

" Plagioklas, Menteri Pengairan , yang pintar, apapun yang kamu minta akan aku beri," kata Raja batu Gamping. Plagioklas mengangguk. " Sudah lama aku ingin memiliki vila dinegeri ini, Tuan Raja." Itu Mudah saja , akan aku kabulkan kata Raja yang sedang bermurah hati itu.
Dan kau Horblende, Menteri Perdagangan yang cerdik, apakah yang akan kau inginkan ? " Aku ingin memiliki perusahaan pemboran sendiri, " sahut Horblende. Dibayangkannya dia akan menguasai Pemboran di negeri ini.
" Boleh. Kau akan mendapatkan perusahaan itu." Raja tertawa puas. " Bagaimana dengan kau, Feldspar, Menteri Keamanan yang tangguh?" " Aku ingin menginginkan seratus ekor kuda perang lengkap dengan istalnya." Raja menganguk anguk. " Bisa diatur. " Tunggu saja ". Lalu Raja menoleh ke menteri termudanga, Kwarsa." Ah menteri Keuangan yang hebat. Apa yang kau minta ?
" Mohon hamba ijinkan untuk cuti seminggu, Tuan Raja. Sudah lama aku tidak menjenguk orang tua dikampung dan silaturahim ke saudara- saudara." Raja tergelak mendengarnya . "Oh Kwarsa kamu memang pemuda yang sederhana. Ku ijinkan kamu cuti mulai besok."
Dengan gembira keempat menteri itu meninggalkan ruang Raja . Di luar, Kwarsa segera dikerubuti teman-temanya. " Kenapa kamu minta yang sepele? tanya " Horblende ".
"Ya, padahal inilah kesempatan untuk kaya. Tak akan datang dua kali, " kata Plagioklas. " kau ini bodoh atau penakut?" ejek Feldspar.
Kwarsa tersenyum. " Permintaan kalian terlalu besar dan rumit . Raja tak akan ada waktu untuk mengurusnya . Dia akan menyuruh patihnya . Patihnya juga sibuk. Lama-lama permintaan kalian akan terlupakan."
"Kami akan menagih Raja kalau begitu ". " Raja tak akan ingat, " kata Kwarsa." Dan lagi , uang negara bukan untuk foya-foya pejabat. Rakyat harus diutamakan. Bukankah begitu ??? Nah sekarang aku mau bersiap-siap untuk berlibur dan pulang kampung untuk bersilaturahim ke kerabat dan kawan-kawan. wakilku akan mengantikan aku.
Sambil bersiul, Kwarsa meninggalkan teman-temannya yang tertegun....

Kamis, 02 April 2009

Nasihat Untuk Para Hamba

I. Dua Hal yang Sangat Utama
Nabi Muhammad SAW bersabda : "Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaanya oleh yang lain, yaitu:
1. Iman kepada Allah dan
2. Memberi manfaat kepada sesama muslim "


II. Tiga Penyelamat, Perusak, Peninggi Derajat dan Penghapus Dosa

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : " Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan manusia ( dari siksa Allah ): ada tiga perkara yang dapat membinasakan manusia: ada tiga perkara yang dapat meninggikan derajat manusia: dan ada tiga perkara yang dapat menghapus dosa."

Tiga Hal yang dapat menyelamatkan manusia ( dari siksa Allah ) adalah :
1. takut kepada Allah ta'la, baik ketika berada ditempat sepi maupun ketika berada ditempat ramai:
2. berpola hidup hemat dan sederhana, baik saat tidak punya maupun saat berkecukupan:
3. selalu berlaku adil, baik saat senang maupun marah.

tiga hal yang dapat membinasakan manusia adalah :
1. sangat bakhil:
2. senantiasa memperturutkan hawa nafsunya : dan
3. membanggakan diri sendiri.

Tiga hal yang dapat meninggikan derajat manusia ialah :
1. membudayakan ucapan salam ( di kalangan kaum muslimin ):
2. suka memberi makan kepada tamu dan orang yang lapar : dan
3. sholat tahajud pada tengah malam saat orang orang sedang tidur nyenyak.

adapun tiga hal yang dapat menghapuskan dosa adalah:
1. menyempurnakan wudhu' meskipun cuaca sangat dingin
2. melangkahkan kaki untuk untuk melakukan sholat berjamaah dan:
3. menunggu tibanya waktu sholat yang kedua usai mengerjakan sholat yang pertama.

III. Empat Alamat Celaka dan Bahagia
Rasulullah SAW pernah bersabda :
" tanda orang celaka itu ada empat, yaitu :
1. melupakan dosa-dosa masa lalu, padahal semuanya tercatat rapi dengan rapi dan detail disisiNya:
2. selalu mengenang kebaikan masa lalu, padahal belum diketahui diterima Allah atau tidak:
3. dalam soal duniawi selalu memandang ke yang lebih atas dan
4. dalam soal agama selalu memandang ke yang lebih rendah ( ibadah dan keutamaanya kepada Allah )

Allah berfirman : "" Aku menghendaki dia ( dengan memberikan sedikit keduniaan kepadanya dan menolongnya untuk melakukan ketaatan) tetapi ia tidak menghendaki Aku ( dengan bersikap ridho dan bersyukur), maka aku tinggalkan dia.""
tanda orang bahagia juga ada empat yaitu:
1. mengingat dosa yang telah lalu
2. melupakan kebaikan yang pernah ia lakukan
3. dalam urusan agama senang melihat kepada orang yang lebih tinggi ( dalam beribadah dan ketaatanya kepada Allah): dan
4. dalam urusan dunia senang melihat orang yang lebih rendah ( sehingga mendorongnya lebih mensyukuri nikmat-Nya)."


IV. Lima Macam Kegelapan dan Penerangnya
Abu Bakar Ash-Shidiq berkata :" Kegelapan itu ada lima dan lampu penerangnya pun ada lima yaitu :
1. Cinta dunia adalah suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya adalah ketaqwaan.
Rasulullah SAW bersabda : " Cinta dunia adalah biang segala kesalahan ."
2. Berbuat dosa adalah suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya adalah taubat.
Nabi Muhammad SAW bersabda :" Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali maka didalam hatinya timbul satu titik noda hitam. Apabila ia berhenti dari perbuatan dosanya dan memohon ampun serta bertaubat. maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa maka bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya. Inilah arron ( penutup hati ) sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam (QS. Al-Muthaffifin (83):14 ): sekali kali tidak (demikian).sebenarnya dosa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." ( HR. Ahmad , tirmidzi, Ibnu Majah, Nasaai' Ibnu Hibban dan Hakim ).
3. Kubur adalah kegelapan, sedangkan lampu penerangnya adalah : bacaan " Laa ilaaha illallah Muhammadar Rasuulullah."
Nabi Muhammad SAW bersabda :" Sesunguhnya Allah ta'ala mengharamkan masuk neraka bagi orang yang membaca "Laa ilaaha illallah Muhammadar Rasuulullah." dengan niat semata-mata karena Alla ta'ala. ( HR. Bukhori dan Muslim )
4. Alam akhirat itu penuh kegelapan, sedangkan penerangnya adalah amal shalih
Nabi Muhammad SAW bersabda :" Sesungguhnya ALlah suka jika rukhshah-Nya dilaksanakan sebagaimana Allah suka jika 'azimah-Nya dilaksanakan. Sesunguhnya Allah telah mengutus aku dengan membawa agama yang mudah, yaitu agama Nabi Ibrahim ( HR. Ibnu Asakir )
5. Shirath ( jembatan penyeberangan diatas neraka ) sangat gelap, sedangkan penerangnya adalah yaqin ( membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang ghoib dengan menghilangkan segala bentuk keraguan )

Rabu, 01 April 2009

Rejeki Tak Kan Kemana

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Menjelang pemilu tahun 2009 yang sebentar lagi akan diadakan yang tingal menunggu hari, saya kira semua caleg dari berbagai partai sudah mempersiapkan diri apa apa yang akan terjadi. Ada yang mengambil jalan tanpa memandang jalan kebenaran yang penting berprinsip aku harus jadi. Ada yang pergi ke dukun, ada yang katanya ke Kyai pinter, ada yg sikut sini sikut sana dan berbagai cara yg menghalalkan segala cara. taoi mungkin ada segelincir Caleg yang menumpukan segala hidupnya hanya kepada Allah SWT. Peristiwa ini mengingatkan kepada saya pada tahun 2004 , dimana peristiwanya sama saat ini yaitu menjelang pemilu. Dimana saat itu saya diberikan kenikmatan dari Allah berupa truk colt Diesel. Waktu itu ada beberapa partai yang membutuhkan jasa truk saya, kebetulan kebutuhan untuk mengunakan truk saya mendadak sekali. Dan kebetulan truk saya baru saja berangkat ke Kali Woro Klaten untuk mengambil pasir, selang waktu mungkin hanya 5 menit atau kurang dari itu salah seorang tim sukses caleg dari partai tertentu membutuhkan jasa truk saya. Kebetulan untuk sewa truk yg digunakan kampaye biayanya mengiurkan dari pada untuk mengambil pasir. Lalu saya suruhan tenaga saya untuk mengejar truk saya , aku pikir karena berangkat baru 5 menit kalau dikerjar mungkin masih dapat. Tapi tenaga saya sudah mengejar dengan kecepatan tinggi.Dia berkata " alah mas..mas.. aku wis ngebut koyo pembalap , tur wis tak kejar nganti adoh ora ketemu. Yo wis aku akhire aku balik mulih " . dia bilang sambil tergapah gapah. Dalam hati aku ndongkol , masalahnya mau dapat rejeki banyak kok hilang , akhirnya tak dapat rejeki dari partai tersebut. Habis itu saya merenung dan berpikir ternyata rejeki itu sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta segala ciptaan. " Kalau sudah Rejeki tak Kan Kemana ". Kalau belum rejeki, dikejar sampai kemanapun tak kan di dapat.

Usaha saya saat ini buka usaha Toko Bangunan dimana ihtiar dan tawakal adalah harapan rejeki didapat dari sang pemberi rejeki.
Pada suatu hari ada seorang pembeli yang kebetulan orangnya sangat sulit ( riwin ), dia bertanya tanya tentang harga semua barang yang saya jual. Orangnya bertujuan untuk membandingkan harga harga dengan toko yang lain. Kebetulan pada saat itu saya beri harga yg limit sekali mungkin keuntungan kurang lebih hanya 2% itupun harus mengantar sampai tempat tujuan. Dengan harapan rejeki kan kudapat, tapi apalah daya rejeki sudah ada yang menentukan. Kalaupun kita tdk mengambil untung sama sekali kalau belum rejeki belum tentu pembeli itu mau membeli. Aklhirnya pembeli tadi tidak jadi beli tempat saya dan pergi begitu saja meskipun saya sudah mengambil limit yg kecil. Tapi dengan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa dikirimlah rejeki lewat orang lain dan rejeki itu datangnya tak dinyana nyana. Selang beberapa menit setelah pembeli pertama datang kemudian datang pembeli kedua , orangnya enak sekali dia tidak membanding bandingkan dengan yang lain yang penting dia mendapatkan barang yang diharapkan sesuai dengan harapannya. Dan Al-hamdulillah pada waktu itu rejeki saya yang diperantarakan lewat pembeli yang kedua cukup banyak. Al-hamdulillah...

" Kalau Sudah rejeki Tak Kan Kemana mana " Itulah Maha Adilnya Allah sehingga semakin membuat saya lebih menata hati untuk lebih Ihtiar yang diikuti dengan Tawakal. Kalau hari ini kita diberi rejeki dan besok tidak diberi rejeki kita harus ihklas dan bersyukur, karena sudah ada yang mengatur. tapi kita harus menguatkan ihtiar kita dan tidak lupa diiringi do'a yang berharap hanya kepada Allah dan rejeki yang didapat tidak lupa untuk sebagian diperjuangkan di jalan Allah.
Ku Mohonkan Ampunan Kepada Allah atas segala kesalahan yang telah aku perbuat baik itu yang saya sadari maupun tidak dan semoga selalu mendapatkan Taufik dan Hidayahnya ke jalah yang Haq, diberi kebahagian dunia dan akhirat dijauhkan dari segala mara bahaya dan mala petaka dan istiqomah dalam menjalankan ibadah dan berislam ( Aamien )

Maha suci Allah, Tidak Ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar

Wassalamu'alaikum Wr. wb.
islam Pictures, Images and Photos

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran