Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Selasa, 14 Juli 2009

BAHAYA KEMEWAHAN


Dari Ali bin Abi Thalib r.a.,
"Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah saw. di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus'ab bin Umair r.a. dan tiada di atas badannya kecuali hanya sehelai selendang yang bertampung dengan kulit. Tatkala Rasulullah saw.melihat kepadanya Baginda menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus'ab ketika berada di Mekkah dahulu (kerana sangat dimanjakan oleh ibunya) dan kerana memandang nasib Mus'ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang terpaksa meninggalkan segala harta benda dan kekayaan diMekkah). Kemudian Nabi Muhammad saw. bersabda, "Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain pula. Dan bila diangkatkan satu hidangan diletakan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sepertimana kamu memasang kelambu Ka'bah?". Maka jawab sahabat, "Wahai Rasulullah, tentunya di waktu itu kami lebih baik daripada di hari ini. Kami akan menberikan penumpuan kepada masalah ibadat sahaja dan tidak usah mencari rezeki". Lalu Nabi saw. bersabda, "Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu di hari itu".

H.R. Termizi


Dalam hadis ini Nabi kita Muhammad saw. menerangkan bahwa umatnya pada suatu masa kelak akan mendapat kekayaan dan kelapangan dalam kehidupan. Pagi petang pakaian silih berganti. Hidangan makanan tak putus-putus. Rumah-rumah mereka indah dan dihias dengan bermacam-macam perhiasan. Dalam keadaan demikian kita juga mungkin akan berkata seperti perkataan sahabat. Di mana, kalau semuanya sudah ada, maka senanglah hendak membuat ibadah.
Tetapi Nabi kita Muhammad saw. mengatakan, "Keadaan serba kekurangan itu adalah lebih baik untuk kita”, artinya lebih memungkinkan kita untuk beribadah.
Kemewahan hidup banyak menghalang seseorang dari berbuat ibadah kepada Allah swt., sepertimana yang berlaku di hari ini. Segala yang kita miliki kalaupun tidak melebihi keperluan, namun sudah mencukupi Tetapi, bila dibanding dengan kehidupan para sahabat, kita jauh lebih mewah daripada mereka, sedangkan ibadah kita sangat jauh ketinggalan. Kekayaan dan kemewahan yang ada, selalu menyibukkan kita dan menghalang dari berbuat ibadah. Kita sibuk menghimpun harta dan juga sibuk menjaganya serta sibuk untuk menambah lebih banyak lagi. Tidak ubah seperti apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw., "Seandainya seorang anak Adam itu telah mempunyai satu jurang emas, dia berhasrat untuk mencari jurang yang kedua, sehinggalah ia dimasukkan ke dalam tanah (menemui kematian)".
Begitulah gambaran yang sebenar terhadap keserakahan manusia dalam menghimpun harta kekayaan. Ia sentiasa mencari dan menambah, sehinggalah ia menemui kematian Maka ketika itu, barulah ia sedarkan dirinya dengan seribu satu penyesalan. Tetapi di saat itu sudah tidak berguna lagi penyesalan. OIeh itu janganlah kita lupa daratan dalam mencari harta kekayaan. Tidak kira halal atau haram, yang penting dapat harta. Tidak kira waktu sholat, bahkan semua waktu digunakan untuk menimbun kekayaan. Biarlah kita mencari harta benda dunia pada batas-batas keperluan. Kalau berlebihan bolehlah digunakan untuk menolong orang lain yang kurang bernasib baik, suka menderma dan suka bersedekah, sebagai simpanan untuk hari akhirat kelak. Orang yang bijak adalah orang yang mempunyai perhitungan untuk masa akhiratnya dan ia menjadikan dunia ini tempat bertanam dan akhirat tempat memetik buahnya.
----------------------------
40 Hadith tentang Peristiwa Akhir Zaman ini dipetik dari buku yang telah di susun oleh Abu Ali Al Banjari An Nadwi (Ahmad Fahmi Zamzam) untuk renungan kita bersama.
Insya'allah dengan berkat keinsafan kita, dapat kita mengambil iktibar dengan kejadian masa kini, mudah-mudahan ia membawa petunjuk kepada orang-orang yang bertakwa.

ditulis kembali oleh. H.Adek Ambar Krydanto

BID'AH BID'AH DI BULAN RAMADHAN

BID'AH BID'AH DI BULAN RAMADHAN




Oleh : Abu Ihsan Al-Atsari

Satu hal yang menodai bulan Ramadhan adalah bermunculannya amalan-amalan bid'ah yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Karena sudah turun temurun dilakukan merekapun menganggap baik bid'ah tersebut. Itulah sebabnya setan lebih menyukai bid'ah daripada maksiat. Khususnya di bulan Ramadhan ini, salah satu cara setan untuk menghalangi kebaikan di bulan ini adalah menebar amalan-amalan bid'ah. Para pelaku bid'ah itu merasa mereka lebih dekat kepada Allah, padahal mereka semakin jauh dari-Nya. Yang sangat menyedihkan adalah amalan-amalan bid'ah ini justru menjamur di bulan Ramadhan!
Dalam kajian kali ini kami coba membahas beberapa amalan bid'ah yang sering dilakukan oleh kaum muslimin. Semoga mereka dapat meninggalkan dan bertaubat darinya. Kami mencupliknya dari kitab Mu'jamul Bida' oleh Raa-id bin Shabri bin Abi 'Alfah dan kitab Al-Bida' Al-Hauliyah oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad At-Tuwairijiy serta beberapa referensi lainnya.

1. Bid'ah Punggahan.
Yakni makan-makan atau kenduri di masjid atau surau satu hari menjelang Ramadhan. Di beberapa tempat masyarakat berbondong-bondong membawa makanan beraneka ragam untuk kenduri di masjid menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kenduri seperti ini disebut punggahan. Hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah, para Sahabat maupun Salafus Shalih.

2. Bid'ah pesta ru'yah.
Yaitu berkeliling kota atau desa menyambut malam pertama bulan Ramadhan sebagaimana biasa dilakukan oleh pengikut-pengikut tarikat dan orang awam. Silakan lihat kitab Al-Ibdaa' fi Madhaar Al-Ibtidaa' karangan Syeikh Ali Mahfuzh.

3. Bid'ah hisab.
Yakni menentukan awal Ramadhan dengan perhitungan hisab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa telah menegaskan bahwa cara seperti itu adalah bid'ah dalam agama. Silakan lihat Majmu' Fatawa (XXV/179-183).

4. Mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.
Perbuatan seperti itu merupakan kedurhakaan terhadap Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam. Rasulullah melarang mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi yang bertepatan dengan hari puasanya. Silakan lihat kitab Al-Ibdaa' fi Madhaar Al-Ibtidaa' karangan Syeikh Ali Mahfuzh.

5. Menyewa Qori untuk menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan.
Perbuatan ini termasuk bid'ah makruh, silakan lihat kitab As-Sunan wal Mubtada'aat (161) dan kitab Bida' Al-Qurra' karangan Muhammad Musa (42).

6. Bid'ah adanya waktu Imsak sebelum Azan Shubuh di bulan Ramadhan.
Bagaimana mungkin manusia mengharamkan apa2 yang dihalalkan Allh SWT, dimana Allah SWT melalui Rasulnya menghalalkan manusia untuk makan dan minum sampai terdengar azan shubuh, namun ada sebagian orang yang mengharamkannya 10-15 menit sebelum azan shubuh.
Silakan lihat kitab Tamaamul Minnah karangan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (415).

7. Bid'ah Tashir.
Yakni membangunkan orang untuk sahur dengan berteriak: Sahur....sahur. Perbuatan seperti ini tidak ada contohnya di zaman Rasulullah dan tidak pula diperintahkan oleh beliau. Dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat dan tabi'in.
Di negeri Mesir, para muadzdzin menyerukan lewat menara masjid: Sahur... sahur... makan.... minum...., kemudian membaca firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)
Di negeri Syam lebih parah lagi, mereka membangunkan sahur dengan membunyikan alat musik, bernyanyi, menari dan bermain.
Tidak ketinggalan di Indonesia, berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang awam. Ada yang keliling kampung sambil teriak-teriak: Sahur....sahur. Di sebagian daerah dengan membunyikan musik lewat mikrofon masjid atau dengan membunyikan tape dan membawanya keliling kampung, ada yang membunyikan mercon atau meriam bambu, dan lain sebagainya.
Semua itu adalah perbuatan bid'ah.

8. Bid'ah shalat Tarawih setelah shalat Maghrib.
Bid'ah ini umumnya dilakukan oleh kaum Rafidhah (Syi’ah). Sebab mereka mengingkari shalat tarawih bahkan membencinya. Menurut mereka shalat tarawih itu bid'ah yang diada-adakan oleh Umar Radhiyallahu ánhu.

9. Bid'ah shalat Al-Qadar.
Yakni mengerjakan shalat dua rakaat berjama'ah setelah shalat tarawih, kemudian di penghujung malam mereka mengerjakan shalat seratus rakaat di malam yang mereka yakini sebagai malam Lailatul Qadar, karena itulah mereka menamakannya shalat Al-Qadar.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakannya sebagai amalan bid'ah berdasarkan kesepatakan para ulama. Silakan lihat dalam kitab Majmu' Fatawa (XXIII/122).

10. Bid'ah mengumpulkan ayat-ayat berisi doa dan membacanya di rakaat terakhir shalat tarawih setelah membaca surat An-Naas. Silakan lihat kitab Al-Baa'its karangan Abu Syaamah (halaman 84).

11. Bid'ah perayaan malam khatam Al-Qurán.
Yakni berdoa dengan suara keras secara berjama'ah atau sendiri-sendiri setelah mengkhatamkan Al-Qurán.

12. Bid'ah perayaan Nuzul Al-Qurán.
Perayaan ini dilakukan setiap tanggal tujuh belas Ramadhan. Perayaan ini dan perayaan-perayaan lain sejenisnya seperti maulid nabi, isra' mi'raj dan tahun baru Islam merupakan perbuatan bid'ah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat sepeninggal beliau.

13. Bid'ah perayaan mengenang perang Badar.
Salah satu perayaan bid'ah yang diada-adakan oleh manusia adalah peringatan perang Badar pada malam ke tujuh belas Ramadhan. Orang-orang awam dan yang mengaku pintar berkumpul di masjid pada malam itu. Perayaan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qurán kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kisah perang Badar.

14. Menunda azan Maghrib di bulan Ramadhan dengan alasan untuk kehati-hatian.
Hal ini bertentangan dengan petunjuk nabi yang memerintahkan umatnya agar segera berbuka begitu bulatan matahari telah tenggelam di ufuk barat.

15. Berziarah kubur menjelang Ramadhan dan sesudahnya.
Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang membumbuinya dengan perbuatan-perbuatan bid'ah atau bahkan syirik. Berziarah kubur memang dianjurkan untuk mengingat Akhirat, namun mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu merupakan bid'ah dalam agama. Rasulullah tidak menganjurkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur.

16. Menyalakan lilin di depan rumah dan kembang api pada malam dua puluh tujuh Ramadhan.
Sebagian orang melakukannya dengan keyakinan bahwa para malaikat akan menyinggahi rumah yang dipasangi lilin. Perbuatan seperti itu jelas bid'ah dan mirip seperti perbuatan orang-orang Nasrani merayakan natal atau tahun baru, wal iyadzu billah minad dhalal.

17. Bid'ah Megengan.
Yakni kenduri di rumah-rumah yang dilakukan pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Bid'ah ini banyak dilakukan di kampung-kampung di pulau Jawa.

18. Bid'ah Wadaa' Ramadhan.
Salah satu bid'ah yang diada-adakan di bulan Ramadhan adalah bid'ah wadaa' (perpisahan) Ramadhan. Yakni lima malam atau tiga malam terakhir di bulan Ramadhan para muadzdzin dan wakil-wakilnya berkumpul, setelah imam mengucapkan salam pada shalat witir, mereka melantunkan syair-syair berisi kesedihan mereka dengan kepergian bulan Ramadhan. Syair ini dilantunkan secara bergantian tanpa putus dengan suara keras. Tujuannya untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa malam ini adalah malam perpisahan bulan Ramadhan.

19. Bid'ah takbiran bersama2 dengan lafazh2 bid’ah dan memukul Beduq di malam 'Iedul Fithri.
Menurut sunnah nabi, takbiran dilakukan sendiri2 dengan boleh mengeraskan suara.

20. Bid'ah dzikir berjama'ah dengan suara keras disela-sela shalat tarawih.
Silakan lihat kitab Al-Madkhal karangan Ibnul Haaj (II/293-294).

21. Ucapan muadzdzin sebelum memulai shalat tarawih atau disela-sela shalat tarawih: "Shalaatut taraawih rahimakumullah". Lalu para berjamaah menyahut dengan teriakan2 nggak jelas.
22. Melafalkan niat: "Nawaitu shauma ghadin...." untuk berpuasa yang biasa dibaca setelah sahur.
Tidak ada satupun riwayat dari sahabat maupun tabi'in yang menyebutkan bahwa mereka melafalkan niat puasa seperti ini.

23. Bid'ah Tahwiithah.
Yaitu doa di akhir jum'at di bulan Ramadhan yang diucapkan oleh khatib di atas mimbar.

24. Bid'ah memilih-milih masjid untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan, hingga terkadang harus bersafar karenanya. Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk shalat di masjid yang terdekat dengan kita dan melarang memilih-milih masjid.

25. Bid'ah Hafizhah.
Yakni surat sakti yang ditulis oleh khatib di akhir jum'at pada bulan Ramadhan, sebagian orang jahil meyakini surat sakti ini dapat menjaga mereka dari bahaya kebakaran, banjir, pencurian dan musibah lainnya.

26. Membaca surat Al-An'am (pada rakaat terakhir shalat tarawih di malam kedua puluh tujuh Ramadhan).

27. Bid'ah shalat khatam Al-Qurán pada bulan Ramadhan dengan melakukan seluruh sujud tilawah dalam satu rakaat.

28. Mengada-adakan gerakan ataupun ucapan dalam shalat tarawih yang tidak ada tuntunannya dalam sunnah. Sebagai contoh ucapan sebagian orang di beberapa negeri Islam: "Shallu yaa Hadhdhaar 'Alan Nabi" atau ucapan: "Ash-Shalaatul Qiyam Atsabakumullah". Demikian pula takbir dan tahlil setiap selesai dua rakaat, membaca shalawat nabi, menyuarakan tabligh (penyampaian suara) diantara mereka dengan suara keras. Dan perbuatan-perbuatan bid'ah, sesat dan mungkar lainnya yang mesti ditinggalkan karena sangat mengganggu orang yang sedang beribadah di rumah Allah.

29. Meniru-niru bacaan para qari'.
Hampir mirip dengan kesalahan di atas adalah meniru-niru bacaan sejumlah qari' sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang sekarang. Kadang memaksakan diri meniru bacaannya. Sehingga yang menjadi tujuannya hanyalah mengelokkan suara, menarik perhatian orang kepadanya, mengatur alat pengeras suara dan sound system untuk menarik jama'ah shalat.

30. Membaca doa khatam al-qurán dalam shalat tarawih.
Sebagian imam ada yang berlebihan dalam masalah ini. Mereka sengaja menyusun doa-doa dengan irama tertentu, mengikuti sajak, berusaha menangis atau memaksakan diri menangis dan khusyuk serta merubah-rubah suara dengan cara yang tidak pantas menjadi contoh dalam membaca Al-Qurán.

Demikianlah beberapa bid'ah yang dapat kami rangkum dalam kesempatan kali ini. Sebenarnya masih banyak lagi bentuk-bentuk bid'ah lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu di sini. Hendaknya kaum muslimin dapat menghindari amalan-amalan bid'ah tersebut agar bulan Ramadhan yang suci ini tidak ternodai dengannya.
_____________________
[Disampaikan oleh Abu Ihsan Al-Atsary pada acara Kajian Islam dengan Tema Bedah Bid’ah Seputar Ramadhan pada hari Rabu 13 Oktober 2004 di Mushalla FISIP USU.]

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/34497


MAKSIAT...


Suatu ketika, ada seseorang yang menjumpai Ibrahim bin Adham ra. Ia kemudian berkata sembari meminta nasehat kepadanya, “Wahai Abu Ishaq, aku ini gemar sekali berbuat maksiat. Aku ingin berhenti, tetapi sering tidak bisa. Karena itu, tolonglah aku. Berilah aku nasehat agar aku tidak bermaksiat lagi.”

Ibrahim bin Adham ra menjawab, “Bagiku tak masalah engkau gemar berbuat maksiat, asalkan engkau memenuhi dulu lima syarat.”

Heran campur bingung, lelaki itu bertanya, “Apa saja lima syarat itu, wahai Abu Ishaq, sehingga saya dapat bebas berbuat maksiat?”

“Syarat pertama,” kata Ibrahim bin Adham, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau makan dari rezeki-Nya.”

“Lalu, saya mau makan apa? Semua yang saya makan adalah rezeki dari Allah.”

“Kalau begitu, pantaskah engkau memakan rezeki dari Allah, sedangkan engkau suka melanggar perintah-Nya?” jawab Ibrahim.

“Baiklah. Apa syarat yang kedua?”

“Kalau engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.”

“Kalau bukan di bumi, aku harus tinggal di mana? Bumi dan langit ini semuanya milik Allah.”

“Kalau begitu, layakkah engkau makan dari rezeki Allah dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan engkau gemar menentang aturan-Nya?”

Orang itu terdiam. Namun, ia kemudian bertanya lagi,”Baiklah. Terus, apa syarat yang ketiga?”

“Jika engkau tetap makan dari rezeki Allah dan tetap tinggal di bumi milik-Nya, namun engkau pun tetap ingin bermaksiat kepada-Nya, silakan saja, asal engkau lakukan itu di tempat yang tidak dilihat oleh-Nya.”

“Wahai Abu Ishaq,” kata lelaki itu, “Mana mungkin saya bersembunyi di tempat yang tidak dilihat-Nya, sementara Dia adalah Dzat Yang Mahaawas?”

“Jika demikian, lalu mengapa engkau tetap bermaksiat kepada-Nya?” tegas Ibrahim lagi.

“Baiklah. Sekarang, apa syarat yang keempat?”

“Kalau Malaikat Maut datang menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, maka katakan saja kepadanya, “Nanti saja, jangan cabut nyawaku dulu. Beri dulu aku kesempatan untuk bertobat dan beramal salih.”

“Wahai Abu Ishaq, mana mungkin?”

“Kalau engkau sadar bahwa kematian tidak bisa ditunda, lalu mengapa engkau tetap tak mengindahkan perintah dan larangan-Nya?”

“Baiklah. Sekarang, apa syarat yang kelima?”

“Apakah engkau sudah tahu nasibmu nanti di akhirat, masuk surga atau masuk neraka?” Ibrahim balik bertanya.

“Tentu saja saya tidak tahu.”

“Kalau engkau tidak tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau neraka, hal itu seharusnya sudah cukup untuk menghentikan dirimu dari kegemaranmu berbuat maksiat kepada-Nya.”

Orang itu pun menangis. Ia kemudian berkata, “Wahai Abu Ishaq, cukup. Jangan Anda teruskan lagi. Mulai hari ini, aku akan bertobat dengan sebenar-benarnya kepada Allah. Aku berjanji, mulai hari ini aku tidak akan bermaksiat lagi.”

Demikianlah, sejak nasihat itu, lelaki itu berubah menjadi orang yang shalih dan berusaha menjauhi segala kemaksiatan kepada Allah.

Sepenggal kisah di atas seharusnya sudah cukup memberikan ibrah bagi kita, betapa tidak pantasnya seorang manusia, apalagi Mukmin, banyak bermaksiat kepada Allah dan melanggar perintah-Nya. Memang, sebagaimana kata Nabi saw, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Namun, sengaja berbuat maksiat kepada Allah, apalagi gemar melanggar perintah-Nya, bukanlah sikap sejati seorang Mukmin.

Namun, begitulah manusia, sering lupa diri, bahkan sering tak tahu diri. Ia diberi kesempatan tinggal di bumi ini oleh Allah, diberi rezeki oleh Allah, namun ia sering melupakan, bahkan menentang perintah-Nya. Ia senantiasa diawasi oleh Allah, selalu diintai oleh Malaikat Maut, tetapi tak pernah menyadarinya. Banyak manusia yang bukan saja gemar bermaksiat kepada Allah, namun bahkan bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya.

Hari-hari ini kita menyaksikan, betapa banyak orang yang tidak mau diatur dengan syariat Allah, bahkan dengan sombong menantang syariat-Nya. Mereka berlagak seolah-olah merekalah pemilik dunia ini. Mereka merasa berhak untuk mengatur dunia ini sesuai dengan kehendak hawa nafsu mereka. Padahal, di antara mereka banyak yang mengaku Muslim.

Kita melihat, banyak Muslim yang rajin salat, namun gemar pula bermaksiat, shaum di bulan Ramadhan tetapi tetap melakukan keharaman di luar Ramadhan, berhaji berkali-kali tetapi dengan biaya dari hasil korupsi, gemar berdzikir namun tetap tak mau “mikir”, suka bersedekah dan rajin berumrah tetapi tak mau peduli pada syariah, mengaku mencintai Nabi namun sering berperilaku yang tidak Islami, mengaku bermoral tapi paha dan pusar sering diobral, mengaku khawatir dengan kepribadian generasi muda tetapi membiarkan para Kapitalis menjerumuskan mereka ke dalam kubangan narkoba dan asusila, bersimpuh dan bersujud setiap waktu tetapi mendzalimi rakyat tak pernah jemu, mengklaim pelayan masyarakat namun yang sering dibela para konglomerat jahat, katanya “Lanjutkan” dan “Bersama kita bisa” sementara mengatakan “Tidak” kepada Amerika pun tak kuasa, mencita-citakan masyarakat yang bermartabat namun membiarkan para wanita mengobral aurat, menghendaki masyarakat yang berbudi pekerti tetapi tak pernah henti menyuguhi mereka dengan pornografi-pornoaksi, mengaku pengemban dakwah namun tak pernah berusaha memperjuangkan syariah dan Khilafah, meyakini kedaulatan ada di tangan syariah namun justru demokrasilah yang dibela dengan susah payah, mengaku berjuang untuk sesuatu yang syar’i namun enggan mencontoh manhaj dakwah yang dicontohkan Nabi, mengklaim bagian dari masyarakat yang beradab tetapi sering bertindak biadab, menangkapi para pejuang syariah namun tak pernah mau menyentuh para penjarah, bertekad ingin keluar dari berbagai krisis namun mendengar kata syariah saja “miris”, mengaku anggaran Negara “kering” namun sumber-sumber kekayaan alam terus diserahkan kepada pihak asing, mengaku bangsa merdeka tetapi membiarkan diri diperlakukan semena-mena, mengklaim membenci penjajah namun bermental layaknya bangsa terjajah. Na’udzubillah !!!

Ngak Susah Amat Nyari bahagia Itu...!!!!


RENUNGAN AYAT DAN HADIST

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah:11)
“Barangsiapa yang Allah akan berikan kebaikan kepada seseorang, maka Allah memberi kefahaman dalam ilmu agama.”(HR. Bukhari Muslim)
”Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuka baginya satu jalan dari jalan-jalan Syurga.” (Hadits hasan)


WEJANGAN MUADZ

Muadz bin Jabal pernah mengatakan “Pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu karena Allah adalah kebaikan dan menuntut ilmu adalah ibadah, pengkajiannya adalah tasbih, penyidikannya terhadap ilmu adalah jihad, pengajarannya adalah sedekah, dan pemberian kepada ahlinya adalah pendekatan diri kepada Allah. Ilmu adalah penghibur dikala kesepian, teman diwaktu sendirian, dan petunjuk dikala senang dan susah. Ia adalah pembantu dan teman yang baik, dan penerang jalan ke syurga (kebahagiaan abadi dunia dan akhirat kelak).”
Siapa Muadz Bin Jabal ini? Ia seorang pemuda, yang masuk Islam ketika berumur 18 tahun kemudian Nabi Saw mengakatnya menjadi seorang penguasa sekaligus pengajar ke Negara Yaman ketika ia berusia 24 tahun. Hebat bukan???
Dan pastinya betul “wejangan” Muadz itu, ilmu itu adalah penghibur bagi para pencarinya, alias sumber bahagia dan ketentram jiwa.
Ibnu Hazm seorang pakar fikih dan usul fikih menyimpulkan:
Ilmu pengetahuan Islam itu memiliki manfaat yang banyak bagi kehidupan manusia. Antara lain :

1. Menghilangkan keresahan
2. Menghindarkan bujukan Syetan
3. Mengikis suntuk, resah, gundah gulana
4. Menghilangkan kesedihan

Coba rasakan..! setelah selesai pengajian, belajar Qu’ran, ngaji hadist, mbuka fikih dll pastilah..seerrrrr ada kenikmatan dalam batin.
Oh iyah jelas donk….kita mempelajari ilmu milik Allah, membuka buku yang berasal dari allah, sekaligus mengkaji dan membahas ilmu milik Allah!! Sedangkan bahagia, tentram hati, plong nya hati berasal dari Allah juga!!! Jadi wajarkan para pencari dan pengkaji Ilmu Islam akan bahagia dan tentram!!! Apakah akan sukses juga?? Wah itu mah Insya Allah, kisah sukses story berikutnya.


THANKING YOU

Subhanalah… Masya Allah, meskipun dari awal saya sudah tahu ajakan pengajian itu pastinya kurang “greget” artinya akan datang sedikit, tapi ada yang luar biasa saya rasakan. Ada seseorang yang datang dari Bekasi khusus mengikuti pengajian ini pake motor!!! Belum lagi Pak Asra Medi dari Jakarta Timur yang datang pagi banget, dan Drg. Jane, Drg. Santi, Aa Ilman yang memboyong semua keluarganya.
Saya hanya berdoa saja melihat kegembiraan ini, Insya Allah, Allah akan menganti dengan yang lebih baik lagi, Allah akan menganti dengan kebahagiaan dan ketentraman batin. Isnya Allah bahagia akan datang penuh hormat kepada kalian semua dan itu pasti.
Terima kasih karena sebab kalian, rumah saya penuh berkah, penuh doa dari malaikat. Terima kasih untuk Pak Asra Medi, Mba Andhika, Mas Febry, Mas Chandra, Drg. Hilma, Drg. Jane dan keluarga, Drg. Santi dan Aa Ilman dan kedua anaknya yang lucu, dan teman lainnya.

Semoga bermanfaat
Wa alaikum salam Wr Wb

Kang Ackmanz

Ayat-Ayat Rezeki


Prakata

Terdapat sekurangnya 10 macam kiat pembuka pintu rezeki dan tidak salah kiranya jika kita mencoba meraihnya. Sedangkan dalil penunjukannya baik berupa ayat Al-Qur’an maupun dari hadist-hadist Nabawi.
Sengaja saya hanya mencantumkan dalil saja tanpa memberi penjelasan lebih jauh dan selanjutnya teman-teman sendiri yang harus sibuk mencarinya, jika ingin mengetahui lebih jauh, baik membaca, bertanya kepada ustadz terdekat, datang ke majelis taklim dan lain sebagainya. Apakah salah kita mencari rezeki dengan cara seperti yang ditunjukan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi? Tidak! Silahkan saja karena Al-Qur’an milik kita, dan pencarian rezeki ini ditunjukan oleh Allah dan Nabi Saw.
Kiat memperolehnya antara lain:

1. Istighfar dan Taubat

Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Hasan al-Bashri salah seorang pemuka di kalangan tabi’in selalu menganjurkan banyak istighfar kepada siapa saja yang datang kepadanya ketika mengadu tentang gagal panen, sulit rezeki, sulit mendapatkan keturunan, dan sawah ladang yang tidak produktif. (Tafsir Qurthubi)

2. Takwa

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96)

3. Tawwakal

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapa, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibn Mubarak, Hakim, Musnad asy-Syihab. Sanadny disahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani)

4. Taat dan Beribadah Sebaik-baiknya

“Sesungguhnya Allah berfirman, “ Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-KU, niscaya Aku penuhi di dalam dada dengan kekayaan dan semua kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan (tidak taat) Aku penuhi dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebuthanmu (tidak ada hasilnya semua usaha).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dari Abu Hurairah. Al-Albani mensahihkannya)

5. Melaksanakan Haji dan Umrah

Pertanyaan ini sering ditujukan pada saya baik para jamaah yang saya bimbing ketika haji atau umrah, “Apakah haji dan umrah ini akan mendatangkan rezeki?"
Inilah dalilnya:

“Lanjutkan haji dan umrah karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa. Sebagaimana api dapat menghilangkan karat, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji mabrur kecuali surga.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Syeikh Ahmad Syakir mengatakan sanadnya sahih, Al-Albani mengatakan hasan sahih sedangkan Syeikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hasan)

6. Silaturahmi

“Siapa saja yang suka agar rezekinya luas, dipanjangkan umurrnya, maka hendaklah ia menperbanyak silaturahmi.” (HR. Bukhari)

Maksud dari dipanjangkan umur dalam hadist ini adalah berkah umur menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Barri.

“Belajarlan tentang nasab (garis keturunan) sehingga kalian bias menyambung silaturhami. Karena sungguh silaturahmi itu adalah (salah satu cara) menimbulkan kasih saying antara keluarga, (sebab) luasnya rezeki dan bertambah usia (berkah umur).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim. Syaikh Ahmad Syakir dan Al-Albani mensahihkannya)


7. Sedekah dan Infak

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba: 39)

“Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan: Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku memberi rezeki kepada kamu.” (HR. Muslim

8. Membiayai Pelajar Yang Sedang Menuntut Ilmu Islam

“ Dahulu ada dua orang bersuadara pada masa Rasulullah Saw. Salah seorangnya pernah datang kepada Nabi Saw (untuk belajar ilmu agama), sedangkan saudara yang lainya bekerja, Lalu saudara yang bekerja itu pernah mengadu (mengadukan bahwa saudaranya itu tidak mau membatunya dalam kerjaannya) kepada Nabi, dan beliau bersabda,” Mudah-mudahan engkau diberi rezeki sebab itu.” (HR. Tirmidzi, dan Hakim. Syaikh Albani mensahihkannya)

9. Menolong dan Membantu Orang Miskin

Dalam sahih Bukhari dikisahkan bahwa Sa’ad merasa dirinya memiliki kelebihan dari pada yang lain. Kemudian Rasulllah Saw bersabda:
“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki lantaran orang-orang miskin?”

“Carilah keridhaanku melalui orang-orang miskin diantara kalian. Karena sungguh kalian diberi rezeki dan ditolong karena sebab orang miskin diantara kalian.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, dan Hakim. Disahikan oleh Albani

10. Hijrah Di Jalan Allah

Makna hijrah selain dari kata asalnya mencakup banyak arti. Diantaranya menurut Rasyid Ridha adalah menolong sesama Muslim agar tidak terjerat oleh hasutan agama lain agar masuk ke agama mereka. Dan tentunya bantuan ini sangat berharga bila berbentuk dana untuk pendidikan mereka, makanan, obat-obatan dan lainnya.

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)

Semoga bermanfaat

Kang Ackmanz

Memberi Kualitas Pada Hati... Hidup Akan Berkualitas!!


Renungan Ayat

Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11)

Sekapur Sirih
Disini kita tidak akan membahas pentingnya pengenalan computer, belajar adobe photoshop, Corel Draw, Windows dll Namun yang kita bahas adalah kewajiban mempelajari ilmu agama.
Mengapa begitu penting! Karena dengan ilmu agama akan memberi arti lain dalam hidup, akan memberi setuhan tersendiri, dan akan memberi kualitas hidup yang lebih baik.
Mengapa begitu!, coba saja kita renungkan sebuah hadist yang sangat gamblang menyebutkan:

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, maka Dia akan memberi kemudahan memahami agama (Islam).” (HR. Bukhari)

Apa makna lain dari hadist ini! Berarti orang yang tidak mau belajar Islam, orang yang merasa tidak penting mengetahui Islam, orang yang malas bahkan tidak peduli dengan ilmu Islam dsb berarti bukan orang yang akan diberi kebaikan oleh Sang Pemilik Dunia ini.

Apa Arti Kebalikannya??
Apa dengan arti “tidak diberi kebaikan” berarti, “Ahh nggak apa, kan pasti diberi kebaikan lain.” Mohon maaf! Pengertian itu salah! Karena jika tidak diberi kebaikan, berarti hidup kita nelangsa, rugi besar, banyak kesulitan, pedih rasanya, tidak tahu arah ketika berjalan, bingung menentukan arah, sulit menembus keyakinan, sangat pedih ketika jatuh, dunia terasa tidak adil, diri merasa paling rugi, putus harapan dsb dsb
Mengapa bisa demikian! Karena dia tidak bisa memberikan yang terbaik bagi hatinya, dia tidak mampu memberikan kualitas pada akal dan hatinya.
Apa dengan mempelajari ilmu agama saya akan sukses, hidup tenang? Semua masalah teratasi? Karir bagus? Rumah tangga tentram?...bukan begitu maksudnya!! Kalau begitu bagaimana donk!! Dunia ini kita pandang sama, kebahagiaan dan kepedihan selalu datang silih berganti dan itu adalah sunatullah! Satu karma yang tidak bisa kita elakan. Ketika kita memilki kualitas diri dengan ilmu Islam, tentu saja kita bisa menghadapi dunia ini dengan tegar dan mampu memberikan solusi terbaik dalam setiap permasalahan yang dihadapi!!
Memang tragis sekali ilmu Islam itu, dia tersisihkan dan tampaknya tidak punya tempat lagi, bahkan juga sudah tidak dipedulikan.Sejak kecil, dari mulai TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 ilmu agama yang diberikan di sekolah hanya satu mata pelajaran saja. Apakah ini cukup!!
Coba lihat saja, jika seorang anak bolos misalnya, saya yakin pasti gurunya akan telepon orang tuanya, dan orang tuanya pasti marah bukan main. Bahkan mungkin sampai mengacam anaknya kalau sekali lagi bolos, akan diambil play station nya atau uang jajan-nya dikurangi. Atau yang lebih ekstrim dikurung di kamarnya, atau jatah liburannya ke Disneyland Hongkong tahun ini terancam batal. Atau juga begini si ortu cari guru bahasa Inggris, kesana kemari karena malu anaknya yang baru 3 th belum bisa cas cis cus bahasa inggris, sedang anak temannya sudah pandai. Bahkan sudah bisa dikit-dikit main biola, organ. Atau begini, si anak ini malas belajar metode Kumon, kemudian diancam ortunya,
“Kalau kamu malas. mau jadi apa nanti??
Dan berbagai cerita menarik lainnya. Tapi bagaimana kalau anak itu nggak bisa baca Al-Quran, atau katakalah diri kita ini nggak tahu apa-apa tentang Islam.Padahal film-film terbaru di 21 cineplex kapanpun waktunya pasti tidak akan terlewat, hanging out di starbuck dengan fasilitas WIFI berjam-jam pun ok ..Cuman kenapa kalau pergi ke masjid, ke toko buku sebentar cari buku-buku Islam, atau beli kaset ceramah, atau browsing di Starbuck nyari-nyari artikel Islam pastinya sangat mudah sekali dan apa kata dunia kalau kita tidak berkualitas dalam Islam!!
Jangan salahkan dunia jika kita sedih, susah, nelangsa, putus asa, tidak tentu arah, bingung dan lainnya. Karena kita tidak memberi kualitas pada hati dan akal kita.
Dan ternyata orang yang mau belajar agama itu adalah orang yang akan diangkat derajatnya oleh Allah.

Semoga bermanfaat
Kang Ackmanz

Amrodhul Qulub (Seri Pengenalan Penyakit Hati) Bag. I

Renungan Ayat
Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur.(HR.Bukhari dan Muslim)

Janganlah kamu sibuk mencari keburukan orang lain, justru kamu lalai (meneliti) keburukan pada dirimu, sesungguhnya itu dua keburukan.” (Al-Qahthani)

Amrodhul Qulub: Penyakit-penyakit yang berjangkit dalam hati atau jiwa

Apa Itu Ghibah?
Apa itu Ghibah (gossip/nerumpi/mengunjing
)? Yaitu, membicarakan keadaan seseorang yang sekiranya keburukan itu sampai ke telinga orang yang dibicarakannya, ia tidak suka. Meskipun yang berghibah itu tidak bermaksud memburukannya. Baik tentang jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam, di antaranya membeberkan aib (keburukan/cacat/kekurangan), menirukan gerak tertentu dari orang yang dijelekan dengan maksud mengolok-ngolok dsb
Jadi yang disebut ghibah/ngerumpi/ngegosip adalah obrolan yang menyangkut diri seseorang, dan obrolan itu jika di dengar oleh orang yang bersangkutan ia marah atau tersinggung. Jadi bisa jadi obrolan ini dianggap biasa-biasa saja saja tanpa maksud apa-apa , tapi orang itu bisa jadi marah!!
Ghibah pun bukan berarti benar atau tidaknya apa yang dibicarakan tapi menyangkut buruknya mulut. Artinya meskipun yang diucapkan itu fakta sebenarnya tapi dengan cara membeberkannya kepada orang lain itulah ghibah. Yang seharusnya aib atau cacat saudara kita itu harus kita sembunyikan karena ada rasa sayang dalam hati. ASeperti halnya orang tua yang selalu menyembunyikan aib anaknya atau sebaliknya, ataupun suami istri yang selalu menjaga rahasia keburukan masing-masing.

Apa dosa Ghibah?
Ghîbah adalah haram hukumnya dan jelas sekali dalilnya baik yang terdapat dalam Al-Qur’an, hadist Nabi dan kesepakatan kaum muslimin sendiri. Allah Swt berfirman:

“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui..” (QS. An-Nisa: 148)

“Celakaanlah bagi pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Hujurat:12)

i“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawaban.”(QS. Al-Isra: 17)

Dalam hadist Nabi saw disebutkan:

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah cari keburukannya, niscaya Allah akan membeberkan rahasianya meskipun di rumahnya sendiri.” (H.R. Tirmidzi dan lainnya)

Dan masih banyak dalil yang menunjukan bahwa ghibah ini sangat terlarang. Setidaknya yang harus kita waspadai bahwa pahala yang telah susah payah kita tabung selama ini, akhirnya berpindah ke orang yang kita bicarakan. Akhirnya tabungan kita selama ini ludes tidak tersisa alias bangkrut.

Beberapa Sebab Yang Dapat Menimbulkan Ghîbah

  • Meluapkan kemarahannya atau kebencian kepada seseorang

  • Memandang dirinya jauh lebih baik dari orang lain (sombong)

  • Sering berkumpul dengan kalangan tukang gosip

  • Keheranan melihat perbuatan dosa yang dilakukan orang lain

  • Bermaksud menghina orang lain

  • Sebagai pemberitahuan bahwa seseorang telah melakukan dosa

  • Hasud dan menunjukan rasa sayang dan kerendahan hatinya di hadapan orang-orang seperti mengatakan,” Sedih sekali melihat kemiskinan orang itu.”

  • Karena lelucon, guyonan, senda gurau, menceritakan kejadian lucu yang terjadi pada seseorang dengan menceritakan keburukan orang itu agar pendengar tertawa atau tersenyum mendengarnya

  • Menghapuskan prasangka buruk orang yang ditujukan pada dirinya


  • Apa Yang Paling Berbahaya?
    Orang yang tidak pernah shalat, tidak mau belajar Islam, tidak mau taubat, tidak menyesal dengan dosa, sudah tidak tahu lagi mana yang benar, dosa menjadi hobinya sehari-hari, sering datang ke Paranormal, percaya ramalan-ramalan, yah mau gimana ! Pastinya sudah tidak aneh lagi kalau berghibah.
    Cuman yang berbahaya adalah ketika kita tidak menyadari telah ber-ghibah meskipun ucapan/obrolan ini dalam koridor ketaatan atau ibadah. Seakan-akan ada kebenaran untuk menceritakan orang atau untuk menunjukan bagi yang mendengarnya bahwa ia seorang yang taat atau sangat Islami. Beberapa contoh:

  • Aduh, kenapa yah dekat ke masjid tapi nggak pernah ke masjid? (ucapan ini diucapkan oleh orang yang sering berjamaah di masjid)

  • Duh kasian yah, tuh di TV banyak sekali tanyangan infotaiment…wah jadi nggak halal tu kerjaanya…habis ngomongin orang melulu

  • Ketika mendengar seruan untuk selalu membaca Al-Qur’an..Duh kasian banget orang yang nggak pernah ngaji..mau dibawa kemana hidupnya!

  • Mana sih pemimpin yang taat dan Islami itu..mau dibawa ke mana bangsa ini!!

  • Sekarang ini sudah banyak dajjal…seharusnya orang-orang itu kembali donk ke agama!!
    Memang sekarang tuh dah banyak Thagut (kejahatan/keburukan) banyak orang tua yang nggak ngedidik anak-anaknya dengan agama siiihh..!!!

  • Saya berterima kasih pada ustadz..agar mereka yang selalu tenggelam di dunia segera sadar dan kembali kepada jalan Allah..!!!

  • Sayang sekali yah..Kalau orang Islam di Indonesia itu mau zakat dan sedekah pasti nggak akan ada kemiskinan deh…

  • Banyak tuh yang shalat tapi tetap aja belum sadar…!

  • Wah keluarganya nggak tahu agama sihh…

  • Wah ceramahnya kepanjangan….nggak jelas apa isinya..Coba kalau gini gitu…!


  • Membuka Peluang Dosa Lain
    Setelah ghibah, dipastikan akan timbul suu zhan (buruk sangka) setelah itu timbul hasud, kemudian pasti akan terjangkit namimah. Setelah itu timbul penyakit hati lainnya.
    Jadi enaknya begini, kalau kita mendengar ceramah agama, pengajian, atau apapun, jangan melihat keadaan orang lain. Tunjukanlah bahwa nasihat atau anjuran itu untuk kita sendiri. Ketika kita mendengar ceramah untuk selalu belajar Al-Qur’an, dan selalu membacanya, merenungkan artinya, tadabbur, berusaha belajar ilmu Al-Qur’an, langsung katakan pada diri sendiri:
    “Ya Allah, aku bertaubat, selama ini aku lalai, aku lupa akan Al-Qur’an yang pastinya menjadi pelita dalam dunia akhiratku. Sedangkan orang lain sudah banyak yang mengerti Qur’an sedangkan aku baru sadar sekarang”
    Hati menjadi enakan! Pasti dia akan sedih melihat dirinya, pastinya juga dia kan berusaha terus belajar dan belajar Al-Qur’an. Pastilah dia akan bertaubat, dia akan berusaha menjadi lebih baik lagi dari yang kemarin. Dan pastinya dia akan besyukur,
    “Ya Allah, Alhamdulilah, Kau telah membuka hatiku untuk belajar Al-Qur’an.”

    Berfikirlah ikir Dulu Sebelum Berkata Atau Menulis
    “ Iya tuh banyak banget orang yang sudah lupa Al-Qur’an.” atau kata seperti ini
    “Gimana tuh di TV banyak ngegosip!! Gimana hukumnya??
    Coba kita renungkan, apa bermanfaat atau mendatangkan pahala bicara seperti ini? Apa dengan tiba-tiba Allah kirim SMS bahwa kita mendapat pahala karena bicara seperti ini? yang menunjukan kita lebih unggul dan lebih taat? dengan anggapa orang lain sudah lupa pada Al-Qur’an atau banyak orang senang nonton gosip? Ternyata dengan begitu kita telah terjatuh dalam ghibah dan sekaligus suuz zhan.
    Mungkin saja yang kita anggap sudah lupa Al-Qur’an itu ternyata sudah hafal Al-Qur’an…mau bagaimana kita?

    Kesimpulan
  • Jangan pedulikan urusan orang lain dan urus dan cari aib diri sendiri dan pasti kita akan sibuk dan bahkan tidak ingat akan aib orang lain

  • Berbaik sangka terhadap prilaku orang lain, salah satu timbulnya ghibah karena ada anggapan buruk terhadap kehidupan orang lain

  • Carilah ilmu Islam, kajilah tentang penyakit hati dan hal ini sama pentingnya seperti ibadah, belajar Islam dan ketaatan lainnya

  • Jangan pernah terpikir di akal dengan banyak pertanyaan: Kalau orang ini gimana, kalau orang yang gitu gimana??? Cari dan cari saja kelemahan, aib dan cacat pribadi

  • Kita tidak akan pernah tahu bagaimana hati orang Islam, jadi jangan sampai berprasangka apapun karena pastinya salah

  • Jangan menjustifikasi bahwa kata kita adalah nasihat atau saling berwasiat dalam kebaikan/Tawasau Bil Haq ataupun berdalih dengan dalil: Sampaikan walaupun hanya satu ayat. Tapi ternyata ucapanya hanya ghibah, celaan dan ejekan, bahkan mempermalukan/membuka cacat orang lain. Kalau begitu syiar agama adalah alat yang dipakai untuk melakukan dosa dan maksiat kepada Allah.

  • Kalau tidak tahu apa ini berbuah pahala atau tidak maka lebih baik diam, tidak berkata apa-apa dan jangan menulis apapun. Bukankah berdoa akan lebih baik??

  • Pilih apa yang terkandung dalam ucapan kita: ghibah? Namimah? Suus zhan? Takabur? Tajasus? Dan lainnya. Jika tidak terkandung seperti itu, maka kita siap memberi nasihat yang baik dan manfaat



  • Kang Ackmanz

    Bersambung (Tulisan selanjutnya….Ghibah Yang Halal)
    islam Pictures, Images and Photos

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





    Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran