| TINDAKAN KITA SAAT TERJADI GEMPABUMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Jika gempabumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan dimanapun anda berada. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
-
Archives
-
Blogroll
| TINDAKAN KITA SAAT TERJADI GEMPABUMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Jika gempabumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan dimanapun anda berada. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Penulis: Ummu Ziyad
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Rasa sedih tentu akan menyeruak dari dalam diri seorang muslim, jika melihat seorang saudaranya yang lain meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah. Begitu pula yang penulis rasakan ketika dalam suatu perjalanan, penulis menyaksikan sebagian besar penumpang bus yang penulis tumpangi meninggalkan shalat. Padahal waktu itu bulan Ramadhan dan sebagian besar pulang kampung untuk merayakan lebaran ‘Idul Fithri di rumah masing-masing. Puasa yang mereka tinggalkan saat perjalanan memang merupakan keringanan yang Allah berikan bagi orang yang bersafar. Tentu saja dengan ketentuan bahwa puasa yang ditinggalkan akan di-qadha ketika telah usai bulan Ramadhan tersebut. Namun, shalat bagi seorang muslim tetaplah wajib, begitupula bersuci sebagai salah satu syarat sahnya shalat juga merupakan kewajiban. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan keringanan dalam bentuk yang berbeda untuk masing-masing kewajiban tersebut.
Ketika shalat tidak mampu dilaksanakan secara berdiri, maka bisa dilakukan dengan duduk, dan jika tidak mampu maka bisa dilakukan dengan berbaring. Dalam keadaan safar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan bahwa untuk shalat-shalat wajib, orang yang dalam perjalanan tidak melakukannya di atas kendaraannya. Adapun untuk kendaraan-kendaraan yang tidak memungkinkan bagi seorang musafir untuk menghentikan kendaraannya (seperti kereta, kapal laut) atau bis yang tidak diketahui secara tepat pemberhentiannya, maka seseorang dapat shalat di dalam kendaraan tersebut, karena terpaksa. (Insya Allah akan datang artikel khusus tentang shalat bagi orang musafir).
Begitupula dengan bersuci. Ketika seseorang telah bersuci dan memakai khuf, maka dalam perjalanan dengan jangka waktu tiga hari, ia dapat berwudhu dengan cara mengusap khuf. Adapun jika ia tidak mendapat air atau terhalang untuk menggunakan air, maka Allah telah memberi keringanan berupa tayammum.
“Jika kamu tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih). Usaplah mukamu dan kedua tanganmu dengan tanah itu.” (Qs. al-Maa-idah [5]: 6)
Kesimpulannya, adalah keringanan untuk wudhu dan shalat bukanlah dalam bentuk boleh ditinggalkannya kewajiban wudhu dan shalat tersebut.
Kisah Munculnya Syari’at Tayammum
Kisah ini diceritakan oleh Aisyah istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu saat, ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu perjalanannya. Ketika mereka telah sampai di Baida’ atau Dzatul Jaisy (hendak memasuki kota Madinah), tiba-tiba Aisyah kehilangan kalung yang dipinjamnya dari Asma. Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dan berkenan mencarinya dan orang-orang pun ikut mencarinya. Waktu itu mereka berhenti di tempat yang tidak ada airnya dan mereka juga tidak membawa air.
Akhirnya (saat kalung Aisyah belum juga diemukan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di pangkuan Aisyah radhiallahu ‘anha. Saat itu orang-orang mengeluh kepada Abu Bakar ash-Shidiq, “Tidakkah engkau lihat apa yang dilakukan Aisyah? Ia telah menghentikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang banyak, padahal mereka tidak di tempat yang ada airnya dan tidak membawa air.”
Abu Bakar pun mendatangi Aisyah dan memarahinya. Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan, “Abu Bakar mencercaku dan mengatakan apa yang dikehendaki Allah untuk mengatakannya. Ia pun memukulku dengan keras seraya berkata,’Apa engkau menahan orang-orang ini karena kalung?!’ Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu terasa menyakitkanku. Aku tidak dapat berbuat sedikit pun karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di pangkuanku.”
Kemudian tibalah waktu shalat, dan mereka tidak menemukan air. Dalam satu riwayat, para sahabat akhirnya shalat tanpa wudhu. Hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Allah menurukan ayat tayammum (yaitu al-Maa-idah ayat 6). Usaid bin Hudhair berkata kepada Aisyah, “Semoga Allah membalas kebaikan bagimu. Demi Allah, tidaklah engkau mengalami perkara yang tidak engkau sukai, kecuali Allah memberikan untukmu (jalan keluarnya), dan (menjadikan) kebaikan bagi kaum muslimin di dalamnya.” (HR. Bukhari dari beberapa jalan periwayatan)
Dalil Syariat Tayammum
Ada banyak dalil yang menunjukkan disyari’atkannya tayammum. Salah satunya adalah hadits berikut,
Dari Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “(Pada suatu saat) aku junub, lalu tidak mendapatkan air. Kemudian aku berguling-guling di atas permukaan tanah lalu shalat. Setelah itu, ‘kusampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebenarnya cukuplah bagimu hanya (melakukan) begini,” yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepukkan kedua telapak tangannya pada permukaan tanah, kemudian meniup keduanya, lalui Beliau mengusapkan kedua tangannya pada wajah dan kedua telapak tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saat-Saat Bolehnya Bertayammum
Zat yang Digunakan untuk Tayammum
Imam Syafii, Imam Ahmad dan sebagian madzhab Dzohiri mengharuskan tayammum dengan menggunakan tanah asli yang berdebu. Namun menurut pendapat yang lebih kuat, tayammum boleh menggunakan semua jenis belahan bumi, tidak harus bertayammum dengan tanah asli yang berdebu, bahkan boleh dimana saja sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan tayammum dari dinding. (lihat Ashl Shifat Shalat an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2/784, dikutip dari majalah Al-Furqon).
Hal ini termasuk keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rasul lainnya sebagaimana dalam hadits yang dibawakan oleh Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku. Aku diberi kemenangan dengan ditanamkan rasa takut pada diri musuh dalam jarak sebulan perjalanan; seluruh bagian bumi dijadikan tempat sujud dan alat bersuci; siapapun di antara umatku yang menjumpai waktu shallat, maka shalatlah di mana ia berada….” (HR. Bukhari)
Dan dalam ayat Al-Qur’an juga disebutkan, “fatayammamu sha’iidan thayyiban” yang artinya, “Maka bertayammumlah dengan sha’iid yang bersih”. Ibnul Manzhur mengatakan dalam Lisanul Arab bahwa sha’id berarti tanah. Ia juga mengutip perkataan Abu Ishaq yang menyatakan bahwa sha’id adalah permukaan tanah, maka orang yang hendak tayammum cukup menepukkan kedua tangannya pada permukaan tanah dan tidak perlu mempermasalahkan apakah tanah pada permukaan tersebut terdapat debu atau tidak. (lihat Al-Wajiz)
Tata Cara Tayammum
Tiuplah debu yang ada padanya atau dikibaskan agar debunya berjatuhan. Hal ini dilakukan jika ternyata banyak debu yang menempel di kedua tangan sebagaimana difatwakan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.
Setelah Mendapatkan Air
Seseorang yang telah mendapatkan air dan tidak terhalang dari menggunakannya, tidak diperbolehkan melakukan tayammum. Namun bila sebelum menemukan air tersebut, ia melakukan tayammum dan shalat dengannya, maka ia tidak perlu mengulangi shalat yang telah dilakukannya meskipun waktu shalat tersebut masih ada. Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diceritakan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Pernah ada dua orang bepergian bersama. Ketika dalam perjalanan, datanglah waktu shalat, namun mereka tidak mendapatkan air. Mereka pun tayammum dengan tanah yang suci, lalu shalat. Setelah selesai shalat, mereka mendapatkan air, sedangkan waktu shalat masih ada. Salah seorang dari mereka berwudhu lalu mengulangi shalatnya, sedangkan yang satunya tidak mengulangi shalatnya. Setelah pulang, mereka datang dan menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kejadian yang mereka alami. Rasulullah berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya, ‘Kamu telah mengikuti sunnah dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.’ Sedangkan kepada yang mengulangi wudhu dan shalatnya beliau berkata, ‘Kamu mendapatkan dua pahala.’” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai, dishahihkan oleh syaikh al-Albani)
Syaikh Ibnu Baz menjelaskan maksud dari hadits ini adalah, orang yang tidak mengulangi shalatnya telah melakukan suatu yang benar karena telah mencukupkan dengan kemampuan yang ada (ketika tidak ada air). Adapun orang yang mengulangi shalatnya melakukan ijtihad. Dan maksud perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mendapat dua pahala adalah pahala dari shalatnya yang pertama dan yang kedua adalah dari ijtihadnya untuk mengulang shalatnya yang ia maksudkan untuk mengikuti sunnah Nabi.
Demikian tata cara tayammum yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.
Maraji’:
al-Wajiz, Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Pustaka As-Sunnah, cetakan kedua 2006
Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun VI Dzul Qo’dah 1427/Desember 2006 (63)
Ringkasan Shahih Bukhari (terj), tahkik syaikh Nashiruddin al-Albani, Pustaka Azzam, cetakan pertama 2002
Thaharah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Tuntunan Bersuci Lengkap, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Media Hidayah
***
Artikel muslimah.or.id
Telah sesuai sunnah-kah wudhu & shålat yang selama ini kita praktekkan? Mari kita kita simak dan mempelajari video sifat wudhu & shålat nabi berdasarkan hadits-hadits yang shåhih sesuai pemahaman salafush shåleh.
Telah sesuai sunnah-kah wudhu & shålat yang selama ini kita praktekkan? Mari kita kita simak dan mempelajari video sifat wudhu & shålat nabi berdasarkan hadits-hadits yang shåhih sesuai pemahaman salafush shåleh.
| Magnitude | 7.0 (magnitude — updated ) |
|---|---|
| Date-Time |
|
| Location | 8.223°S, 107.349°E |
| Depth | 49 km (updated) |
| Region | JAVA, INDONESIA |
| Distances |
|
| Location Uncertainty | Error estimate not available |
| Parameters | NST=011, Nph=011, Dmin=311.2 km, Rmss=0.78 sec, Gp= 94°, M-type=”moment” magnitude from initial P wave (tsuboi method) (Mi/Mwp), Version=1 |
| Source | |
| Event ID | at00187810 |
Menurut USGS kedalaman gempa 49 Km (updated), sedangkan BMG memperkirakan kedalaman gempa 30 Km (+/- 10Km). Kalau gempa ini diikuti longsoran bawah laut tentusaja tetap mampu memicu terjadinya tsunami. Semoga tidak ada tsunami yang mengikutinya.
Gempa ini terasa hingga di Jakarta, Purworejo, Yogyakarta … bahkan hingga Singapura !
Bagi yg merasakan goyangan gempa tentunya bisa secara nyata merasakan gerakan naik turun, geseran kiri -kanan juga goyang maju mundur. Looh ini beneran atau cuman perasaan sih ? Apalagi dengan denger suara gemuruh plus suara gemerincing kaca pecah berantakan juga jeritan kesakitan. Wah jelas itu bikin pusing.
Sakjane bagaimana to goyangan itu ?
Gempa memang berupa goyangan atau gerakan atau getaran. Frekuensi getaran gempa ini sekitar 10 Hz aartinya ada sepuluh kali goyangan tiap detik. Baik goyangan naik turun, kiri-kanan maupun maju mundur. lah kalo ketiganya dicampur-campur …. mumet !
Disebelah kiri ini adalah yg dimaksud dengan teori elastic rebound atau “teori pelentingan”, kalau aku bilang teori ketapel atau “plintheng”. Teori yang dijelaskan disebelah ini untuk gempa-gempa akibat patahan geser. Untuk patahan “megathust” pada penunjaman terlihat disebelah kanan. Keduanya secara mekanik sama saja. yang berbeda hanyalah arah dari gaya-gaya yg menekannya.
Goyangan-goyangan akibat terlepasnya energi yang terkumpul perlahan-lahan ketika akan melenting ini bisa dilihat disebelah atas ini. (sumber gambar : www.uwgb.edu/DutchS/EarthSC202Notes/quakes.htm)
Akibat pelentingan inilah maka akan muncul tiga jenis gelombang. Jadi memang ada beberapa jenis penjalaran gelombang itu dan ada tiga jenis getaran yg ditimbulkan yang dapat digambarkan dengan sederhana seperti diatas. Yaitu Gelombang Primer (P-wave), Gelombang Sekunder (S-Wave), dan yang ketiga disebut Surface wave (Gelombang Permukaan).
Gelombang Primer (P Wave) ini menjalar akibat adanya penekanan dan peregangan. Kalau dilihat di grafik sebelah terlihat bergetar menekan dan meregang. kalau anda menghadap ke kiri maka goyangan tersebut berarah kiri-kanan atau maju-mundur (tergantung dimana arah menghadapnya). Gelombang primer ini memiliki kecepatan rambat sekitar 8 km/detik. Gelombang inilah yg akan dirasakan lebih dahulu ketika gempa, karena dia akan datang lebih dulu dibanding penjalaran gelombang yang lain.
Gelombang Sekunder (S Wave) ini menjalar seperti gelombang air yang mengalun-alun. Menjalar naik-turun. Jadi gelombang ini melempar-lemparkan keatas kebawah ketika anda merasakan adanya gempa. Gelombang Sekunder ini memilki kecepatan penjalaran sekitar 4 Km/detik, tentunya akan dirasakan lebih lambat dari Gelombang Primer. Namun gelombang sekunder ini memiliki lebar goyangan (amplitudo) yg besar sehingga gelombang ini akan memilki kekuatan yg sangat besar dalam merontokkan bangunan, juga mengakibatkan longsoran tebing-tebing yang curam.
Yang ketiga gelombang akan menjalar dibagian permukaan saja. Gelombang ini disebut juga surface wave, namun ada juga yg menyebutnya “love wave” … serius nih namanya emang “love wave” …. padahal cinta kan ngga hanya dipermukaan ya. Tauk deh kenapa disebut “love wave”.
Ketiga gelombang ini tentunya akan dirasakan apabila anda merasakan gempa. Namun karena kecepatannya berbeda maka gelombang ini tidak datang bersamaan. Gelombang Primer akan datang lebih dulu, diikuti gelombang sekunder. Namun kalau jarak episenternya dekat tentunya kedua gelombang ini akan dirasakan hampir bersamaan. kalau jaraknya hanya 4 Km dari pusat gempa tentunya hanya selisih satu detik saja.
Nah bisa dibayangkan ketika semua penjalaran gelombang ini menimpa diri anda, ada yg naik-turun, maju-mundur, kiri-kanan. tentunya akan membuat pusing ya. Belum lagi kalau anda sambil mengamati sesuatu dari jauh sepertinya naik-turunnya (amplitudo) terlihat lebih besar besar. Juga yang sering terpengaruh adalah karena goyangan lampu dinding serta barang-barang lain yg seringkali dipakai mata untuk menunjukkan mana bidang horizontal (misal meja) dan mana vertikal (dinding), maka anda seolah-olah seperti masuk dalam rumah miring yang ada di Dufan (Ancol).
Yang pasti akan membuat pusing karena otak, mata serta kaki semua orientasinya terganggu. Ada beberapa yg menyatakan seperti “gabah diinteri”, itu tuh kayak jaman dahulu kalau petani memisahkan gabah seolah-olah bumi ini berputar ndak karuan.
Mengapa goyangan ini terasa lama dan merusak ?
Pak Irwan Meilano, seorang Doktor ilmu gempa yg sedang belajar di jepang curiga mengapa gempa sebesar di Jogja Mei 2006 lalu terasa hampir 50 detik. Menurut beliau biasanya kekuatan gempa yg memilki magnitude 6.3Mw hanya terasa 20-30 detik saja goyangannya, namun di Jogja ini bahkan terasa 50 detik atau lebih, dan meiliki kerusakan sangat tinggi. Pak Irwan memperkirakan adanya pantul-memantul dari gelombang ini sehingga kerusakan disekitar episentrum gempa sangat parah.
Secara sederhana saya gambarkan ulang seperti dibawah ini.
Gempa yg terjadi akibat kompleks Sesar Opak (Patahan Opak) ini berada didekat zona patahan yang merupakan endapan muda dari Merapi termasuk juga endapan dari Sungai Opak yg mengalir sepanjang Patahan Opak. Patahan memang biasanya merupakan zona lemah yg mudah ter-erosi dan dilewati saliran sungai, yang tentusaja juga merupakan tempat pengendapan endapan sungai nantinya. Dengan demikian, menurut saya, kemungkinan kerusakan gempa di Jogja kemarin merupakan sebuah konsentrasi kerusakan pada zona yg mengalami pemantulan getaran gempa berulang-ulang. Seperti yang saya tulis sebelumnya disini bahwa kerusakan ke arah barat lebih parah dari sebelah timur.
Jadi kalau ada yg sempet pusing karena gempa barangkali karena anda bergoyangnya cukup lama. Eh, kalau ndangdutan goyangnya bikin pusing juga nggak ?
Peta Gempa Pekan Ini Diupdate setiap saat
Untuk mengatasi issue kejadian bencana (gempa) yang merugikan. Dibawah ini ada sebuah peta kegempaan selama sepekan lalu untuk Dunia dan Australasia. Tengoklah sesekali, sehingga kamu tahu seperti apa dinamika bumi ini. Jangan ketakutan akan terjadi gempa, tetapi jangan lengah ketika gempa.
Coba hitung berapa gempa terjadi disekitar kita ! .
Versi USGS (US Geological Survey) diupdate setiap saat !
Waktu dalam UTC (Coordinated Universal Time), untuk WIB ditambah 7 Jam
Copyright © 2006-2008 muslim.or.id
Proudly powered by WordPress
Ilustrasi dan Desain Ulang oleh Penalette
Template Tema Dilectio oleh Design Disease diberikan oleh Smashingmagazine
Copyright © 2009 IRIS - Incorporated Research Institutions for Seismology
Submit
changes, questions, or comments related to this page.
![]() |
![]() |
|
Site Search
Most Popular
Google Maps
Satellite Images
US Geology & Maps
US Reference Maps
|
Geology and Earth Science
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||