Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Sabtu, 15 Agustus 2009

Kajian Potensi Kawasan Kars Kendeng Utara Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati


Oleh:

Petrasa Wacana*, Fredy Chandra*, Dikky Mesah**

AB Rodialfallah**, Rikky Raimon**

*Pusat Studi Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta
**Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta

Sari

Wilayah perbukitan pada kawasan Kendeng Utara merupakan kawasan kars yang terbentang luas dari Kabupaten Grobogan di bagian Selatan hingga Kabupaten Pati di bagian Utara Perbukitan Kendeng Utara. Geomorfolgi kawasan kars adalah perbukitan kars struktural dengan morfologi permukaan (eksokars) berupa bukit kerucut yang menjajar (conical hills) dan cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolena), sementara geomorfologi bawah permukaan (endokars) berupa adanya sistem gua-gua dan ornamennya serta sungai-sungai yang mengalir di bawah permukaan.

Pola aliran (sistem hidrologi) yang berkembang adalah pola pengaliran paralel yang dikontrol oleh struktur geologi dan proses pelarutan yang ada di kawasan tersebut. Penjajaran mata air kars pada bagian Utara dan Selatan perbukitan kars Sukolilo, muncul pada ketinggian kisaran 5 - 150 mdpl radius 1 - 2 km dari perbukitan kars Sukolilo. Untuk kawasan kars Grobogan, pemunculan mata air kars pada zona Utara berada pada kisaran ketinggian 425 - 450 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian antara 300 - 450 mdpl. Mata air dan sistem sungai bawah tanah di kawasan kars Kendeng Utara bersifat parennial.
Kawasan kars Sukolilo dan Grobogan merupakan kawasan penyimpan air bagi seluruh mata air kars yang ada di Pati dan Grobogan, sehingga Pemerintah Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati perlu menetapkan kawasan ini sebagai kawasan kars yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga risiko bencana kekeringan bagi lebih dari 8.000 KK dan 4.000 Ha lahan pertanian di kemudian hari dapat dihindari.


Kata kunci: kars, mata air, eksokars, endokars, conical hill, gua, risiko bencana

1. Latar Belakang
Bagian Selatan Kabupaten Pati memapar sebuah pegunungan, lebih dikenal sebagai Pegunungan Kendeng Utara. Pegunungan Kendeng Utara tersebut merupakan hamparan perbukitan batukapur yang telah mengalami proses-proses alamiah dalam batasan ruang dan waktu geologi. Produk dari dinamika bumi yang berlangsung dari masa lalu hingga saat ini telah menghasilkan suatu fenomena alam yang unik. Kita mengenalnya dengan istilah Bentang Alam Kars.

Fenomena bentang alam kars Kendeng Utara tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur kerucut, munculnya mata air-mata air pada rekahan batuan, mengalirnya sungai-sungai bawah tanah dengan lorong gua sebagai koridornya. Tidak jarang juga sering ditemukan lahan yang sangat kering di permukaan saat musim kemarau pada bagian bagian bukit karena memang sungai-sungai yang mengalir di permukaan sangat jarang.

Kars pada umumnya membentuk bentang alam yang ditandai oleh terdapatnya dekokan (closed depressions) dengan berbagai ukuran dan susunan, pengasatan (drainage) permukaan yang terganggu, serta gua-gua dan sistem pengasatan bawah tanah (Bambang Prastistho, 1995). Sedangkan menurut Esteban (1996) kars adalah suatu sistem kejadian eksodinamik yang melibatkan air, yang mengakibatkan struktur massa batuan mudah larut, berubah secara berkesinambungan. Karstifikasi terjadi pada tubuh batuan mulai dari permukaan, yakni bagian yang bersentuhan langsung dengan atmosfer, hingga kedalaman 200 - 250 meter (Milanovic, 1992). Proses ini pada kelanjutannya menghasilkan tata lingkungan yang secara umum kompleks dengan hidrogeologi dan geomorfologi unik. Selain karena pelarutan, bentang alam seperti kars dapat terjadi oleh proses pelapukan, hasil kerja hidrolik misalnya pengikisan, pergerakan tektonik, pencairan es dan evakuasi dari batuan beku (lava). Karena proses utama pembentukannya bukan pelarutan, maka bentang alam demikian disebut pseudokarst (Gillieson, 1996). Sementara itu kars yang terbentuk oleh pelarutan disebut truekarst.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo, menetapkan Kawasan Kars Kendeng Utara yang melingkupi Kabupaten Pati hingga Kabupaten Grobogan adalah sebagai kawasan kars tetapi kawasan ini belum ditetapkan mengenai klasifikasi wilayah kars berdasarkan peraturan pemerintah dalam ”Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars”. Dalam pengelolaan sebuah kawasan kars harus melakukan sebuah pengkajian dan survey terlebih dahulu. Apabila dalam penetapannya sebuah kawasan kars memiliki kriteria sebagai kawasan kars kelas 1 (Pasal 12) maka perlindungan terhadap kawasan kars harus menjadi perhatian utama dalam menentukan keberlanjutan ekologi di dalamnya. Status ini menjadikan kawasan ini berisiko untuk dikelola secara tidak tepat asas. Pengelolaan kawasan kars yang tidak berorientasi pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan akan memunculkan risiko bencana terhadap aset-aset kehidupan dan penghidupan. Berkenaan dengan hal tersebut maka informasi tentang keberadaan dan nilai kawasan kars tersebut perlu digali dan diinformasikan ke pelbagai pihak sehingga dapat dilakukan kebijakan dan praktek pembangunan yang baik di kawasan.

2. Fisiografi & Geomorfologi
Pulau Jawa Secara fisiografi dibagi menjadi empat bagian utama (Van Bemmelen, 1949) yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur serta Selat dan Pulau Madura. Daerah Jawa Tengah terbentuk oleh dua pegunungan, yaitu Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan Serayu Selatan. Pegunungan Serayu Utara berbatasan dengan Pegunungan Bogor di Jawa Barat dan Pegunungan Kendeng di Jawa Timur. Sedangkan Pegunungan Serayu Selatan merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Berdasarkan fisiografi tersebut maka kawasan kars Grobogan dan kawasan kars Sukolilo Pati terletak pada pegunungan Kendeng (antiklinorium Rembang - Madura). Tepatnya pada Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan lipatan perbukitan dengan sumbu membujur dari arah Barat - Timur dan sayap lipatan berarah Utara - Selatan.

Morfologi kawasan kars Kendeng Utara secara regional merupakan komplek perbukitan kars yang terletak pada struktur perbukitan lipatan. Setelah perlipatan mengalami proses pelarutan, pada bagian puncak perbukitan kars di permukaan (eksokars) ditemukan morfologi bukit-bukit kerucut (conical hills), cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolina), lembah-lembah aliran sungai yang membentuk mulut gua (sinkhole), mata air dan telaga kars ditemukan pada bagian bawah. Morfologi bawah permukaan (endokars) kawasan kars tersebut terbentuk morfologi sistem perguan dan sungai bawah tanah. Pada bagian Utara dan Selatan batas akhir batuan kapur/batugamping merupakan dataran.

3. Geologi
Stratigrafi kawasan kars Kendeng Utara menurut Pringgoprawiro (1983) masuk ke dalam Formasi Wonocolo, Formasi Bulu, Formasi Ngrayong, Formasi Tawun dan Formasi Tuban. Formasi penyusun kawasan kars Kendeng Utara ini terbentuk pada masa Meosen Tengah - Meosen Atas, terbentuk 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi. Formasi Wonocolo disusun oleh napal pasiran dan napal lempungan yang kaya akan foram plankton terdapat sisipan kalkarenit dengan tebal lapisan 5 - 20 cm. Penyebarannya relatif Barat - Timur, mulai dari Sukolilo (di Barat) - Sedan - Wonosari - Kedungwaru - Metes Banyuasin - Mantingan - Bulu, Antiklin Ledok, Antiklin Kawengan, lanjut ke arah Manjung - Tawun, Jojogan - Klumpit, menipis ke arah Tuban di Timur. Tebal satuan ini 89 m - 600 m, berumur Miosen Akhir bagian bawah hingga Miosen Akhir bagian tengah (N15 - N16). Diendapkan pada lingkungan laut terbuka (neritik luar) - batial atas. Hubungan dengan Formasi Ledok di atasnya adalah selaras. Di bawahnya diendapkan Formasi Bulu disusun oleh (litologi) batu gamping masif yang mengandung koral, alga dan perlapisan batugamping yang juga mengandung foram laut berupa koral, orbitoid dan alga, sesekali diselangselingi oleh batupasir kuarsa bersifat karbonatan dan sisipan batulempung. Penyebarannya luas mulai dari Ngrejeg - Klumpit - Rengel hingga Purwodadi, dan menghilang di daerah Pati tertutup endapan alluvial. Ketebalan satuan ini 54 m - 248 m. Berdasarkan fosil kecil, umur Formasi Bulu adalah Miosen Akhir bagian bawah (N14 - N15). Diendapkan pada lingkungan neritik luar - batial atas. Hubungan dengan Formasi Wonocolo di atasnya adalah selaras. Pada bagian bawah Formasi Bulu ini terendapkan Formasi Ngrayong yang disusun oleh perselang-selingan batupasir kuarsa, batugamping pasiran dan batulempung. Pada batugamping pasiran disusun oleh alga dan cangkang binatang laut. Kemudian pada bagian lapisan formasi di bawahnya (lebih tua) adalah Formasi Tawun yang disusun oleh batulempung dengan sisipan batupasir kuarsa dan batupasir karbonatan, di beberapa tempat ditemui lapisan batulempung yang mengandung gipsum. Pada bagian terbawah diendapkan Formasi Tuban disusun oleh batulempung sisipan batugamping. Singkapan yang baik terdapat di K. Sirwula, Ds. Drajat dengan ketebalan 144 m - 665 m.

Struktur geologi yang berkembang di kawasan kars Kendeng Utara adalah struktur lipatan. Pada bagian Formasi Bulu yang menjadi kawasan kars merupakan bagian dari sinklin dengan arah sayap lipatan Utara - Selatan. Sumbu sinklin terdapat pada bagian puncak komplek perbukitan kars yang memanjang dari Beketel hingga wilayah Wirosari, perbatasan dengan Blora. Terdapat juga struktur patahan yang berarah relatif Timur Laut - Barat Daya. Struktur-struktur patahan tersebut terjadi akibat dari proses perlipatan Pegunungan Kendeng Utara ini. Kondisi struktur geologi demikian menyebabkan batugamping sebagai batuan dasar penyusun formasi kars Kendeng Utara memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan dan perkembangan sistem perguaan di kawasan kars setelah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi.

Peta Geologi Kendeng Utara

Gambar 1. Peta Geologi Kendeng Utara

4. Speleologi

Kawasan kars Grobogan merupakan kawasan kars yang berada di puncak ertinggi dari kawasan kars Perbukitan Kendeng Utara berada pada ketinggian 500 mdpl. Proses karstifikasi di kawasan kars Grobogan dan kawasan kars Sukolilo telah terjadi dari saat Perbukitan Kendeng Utara yang disusun oleh batugamping sebagai batuan dasarnya tersingkap. Kemudian proses pelarutan terjadi hingga saat ini. Bukti bahwa kawasan kars ini masih berlangsung dapat dilihat dari banyaknya sistem-sistem gua dan sungai bawah tanah yang masih aktif. Perkembangan dari proses tersebut telah menghasilkan lorong-lorong gua baik horizontal maupun vertikal.

Mulut-mulut gua di kawasan ini tersingkap dengan 2 tipe, yaitu tipe runtuhan dan pelarutan dari permukaan. Tipe runtuhan umumnya membentuk mulut gua vertikal, contohnya Gua Kembang Dusun Wates, Gua Lowo Misik, Gua Kalisampang, Gua Tangis, Gua Telo, Gua Ngancar, dan Sumur Jolot Dusun Kancil, Desa Sumber Mulyo, Pati. Tipe ini memiliki karakter banyak terdapat bongkahan batuan yang runtuh dari atap lorong, hal ini merupakan bukti bahwa sistem gua ini terbentuk pada jalur rekahan yang relatif lemah sehingga batuan dasarnya labil dan mudah lepas. Disamping itu juga akan ditemukan lorong-lorong yang berkelok-kelok seperti retakan batuan. Bukti lain kalau kontrol struktur mempengaruhi pembentukan gua dapat dilihat pada penjajaran ornamen gua di atap-atap yang terbentuk dari hasil pengendapan karbonat hasil pelarutan.

Selain kontrol struktur yang dominan di kawasan kars Kendeng Utara dalam pembentukan sistem perguaannya, proses pelarutan yang berasal dari air permukaan juga terdapat di kawasan ini. Dapat dijumpai di beberapa gua yang mulutnya terdapat di dasar-dasar lembah, seperti pada Gua Urang Dsn Guwo, Kemadoh Batur, Grobogan. Gua Bandung, Gua Serut, Gua Gondang dan Gua Banyu Desa Sukililo dan Gua Wareh Desa Kedungmulyo, Kecamatan Sukolilo serta Gua Pancur di Kecamatan Kayen, Pati. Pada musim hujan mulut-mulut gua tersebut merupakan jalur sungai periodik yang masuk ke dalam gua dan juga sebagai sungai utama yang keluar dari dalam gua. Pada umumnya gua-gua horizontal di kawasan ini berkembang mengikuti pola perlapisan batuan dasarnya dengan kemiringan lapisan ke arah Utara sehingga akumulasi sungai-sungai permukaan akan terpusat pada daerah-daerah bawah yang keluar melalui mata air ataupun mulut-mulut gua.

Sistem Gua Urang dan Jemblong Kembang

Gambar 2. Sistem Gua Urang dan Jemblong Kembang, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan

Keterdapatan gua-gua di kawasan kars Kendeng Utara tersebar dari Barat sampai ke Timur, penjajaran gua-gua mengikuti pola-pola patahan, rekahan, dan pola perlapisan. Pola perkembangan lorong-lorong gua dikontrol oleh adanya struktur geologi yang ditunjukkan dengan kenampakan lorong memanjang terbentuk akibat pelarutan melalui rekahan-rekahan dan bidang-bidang patahan serta perkembangan dari pelarutan pada bidang-bidang perlapisan batuan yang terpengaruh oleh adanya rekahan-rekahan yang mengikuti pola perlapisan batuan.

Peta Sistem Gua


Gambar 3. Peta Sistem Gua Urang dan Jemblong Kembang, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan

5. Hidrologi Kars
Pola hidrologi kawasan kars Kendeng Utara secara regional adalah pola aliran paralel dimana terdapat penjajaran mata air dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di kawasan kars Sukolilo Pati dan kawasan kars Grobogan dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan tersebut atau karst spring dengan tipe mata air kars rekahan (fracture springs). Terbentuknya mata air rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat proses pengangkatan dan perlipatan.

Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh. Pada zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 - 100 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 - 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh, Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa perbukitan kawasan kars Kendeng Utara berfungsi sebagai kawasan resapan air (recharge area), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui mata air-mata air yang bermunculan di bagian pemukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar kawasan kars Pati dan Grobogan.

Dalam kawasan kars Kendeng Utara ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Sukolilo Pati (Kendeng Utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat parenial artinya terus mengalir dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu berubah. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1.009 lt/dtk, dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7.882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo, dari 18 sumber air yang ada di Kecamatan Tawangharjo mencapai debit 462,796 lt/dtk dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 5.000 KK yang ada di Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Perhitungan ini akan lebih meningkat drastis pada saat musim hujan.

Peta Sebaran Gua dan Sumber Air

Gambar 4. Peta Penyebaran Gua dan Sumber Air di Kawasan Kars

Kendeng Utara

6. Fungsi Kawasan
Kawasan kars Sukolilo memiliki fungsi utama sebagai fungsi hidrologis, yang berguna bagi kelangsungan sistem ekosistem yang ada di kawasan kars. Banyaknya outlet-outlet mata air yang keluar menunjukkan bahwa kawasan kars Sukolilo merupakan kawasan kars aktif yang telah dan sedang mengalami proses karstifikasi. Keberadaan air yang melewati sungai-sungai bawah permukaan dan sumber-sumber air sangat memberikan peranan penting terhadap setiap aset-aset kehidupan dan penghidupan yang ada di kawasan kars baik oleh biota-biota yang ada di dalam gua, flora dan fauna yang ada di permukaan dan manusia sebagai komponen utama yang berperan penting dalam suatu ekosistem. Perbukitan batugamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan kars.

Fisik dan struktur geologi perbukitan ini, dengan sempurna telah menyimpan dan memelihara air dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal. Sehingga dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat di musim kemarau sampai datangnya musim hujan berikutnya. “Kemampuan bukit kars dan mintakat epikars pada umumnya telah mampu menyimpan tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan, sehingga sebagian besar sungai bawah tanah dan mata air mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik” (Haryono, Eko, 2001).

Mata air epikars, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam hal:

  1. Kualitas air. Air yang keluar dari mata air epikars sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan.
  2. Debit yang stabil. Mata air yang keluar dari mintakat epikars dapat mengalir setelah 2 - 3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil.
  3. Mudah untuk dikelola. Mata air epikars umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa.

Kawasan kars ini menjadi sebuah tandon air alam raksasa bagi semua mata air yang terletak di kedua kabupaten tersebut. Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan kars terdapat sebagai sungai bawah permukaan, mata air, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah (resurgence). Kawasan kars disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setelah dataran alluvial, volkan dan pantai.

Sumber Lawang

Gambar 5. Sumber Lawang Sebagai Mata Air Terbesar yang Ada

di Kawasan Kars Kendeng Utara

Selain potensi sumberdaya air, sebagian gua di kawasan kars Kendeng Utara merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular. “Kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama” kata Sigit Wiantoro (Peneliti Kelelawar dari LIPI, dalam Wijanarko 2008).

7. Pemanfaatan Sumberdaya Air
Hampir seluruh masyarakat di kawasan kars Kendeng Utara meliputi Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Kabupaten Pati dan Kecamatan Brati, Tawangharjo, Tanggungharjo, Wirosari, Ngaringan, Kedungjati, Grobogan, Kradenan, dan Pulokulon, Kabupaten Grobogan memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari kawasan kars Sukolilo dan kars Grobogan, karena 90% suplai air berasal dari kawasan kars Kendeng Utara. Hampir setiap dusun yang berada di Desa Sukolilo (19 mata air), Desa Gadudero (3 mata air), Desa Tompe Gunung (21 mata air), Desa Kayen (4 mata air), Desa Kudumulyo (1 mata air), Desa Mlawat (1 mata air), Desa Baleadi (3 mata air), Desa Sumbersuko (24 mata air) yang ada di Kecamatan Sukolilo memiliki sumber-sumber mata air yang memiliki debit aliran bervariasi dari 1 liter/detik hingga 178,90 liter/detik dan yang berada di Desa Dokoro (12 mata air), Desa Kemadoh Batur (15 mata air), Kabupaten Grobogan memiliki sumber air dengan debit 6 liter/detik hingga 64 liter/detik. Sumber air yang terbesar adalah Sumber lawang yang terletak di Dusun Tengahan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo dengan debit aliran di musim kemarau 178,90 liter/detik. Sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air lebih dari 2.000 KK di Kecamatan Sukolilo, karena sumber ini merupakan sumber utama yang aliran permukaannya bergabung dengan beberapa sumber air yang ada di sekitarnya sehingga menjadi sungai permukaan yang memiliki aliran terbesar dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, MCK, ternak, kebutuhan dasar sehari-hari dan sebagai saluran irigasi untuk lebih dari 4.000 hektar areal persawahan di Desa Sukolilo. Selain itu juga Sumber Lawang juga telah dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di Dusun Tengahan.

Dari beberapa mata air yang ada di Kecamatan Sukolilo, debit aliran terkecil yaitu 0,06 liter/detik yaitu Sumber Ngowak di Dusun Tompe Gunung, Desa Tompe Gunung, Kecamatan Sukolilo. Debit ini belum termasuk dengan aliran pipa yang sudah dimanfaatkan pada sumber ini. Dari sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air bagi 40 KK yang ada di sekitar Dusun Tompe Gunung. Setiap sumber air yang ada di kawasan kars Sukolilo mampu memenuhi rata-rata kebutuhan air masyarakat lebih dari 200 KK di setiap dusun atau desa. Pemanfaatan air per hari untuk 1 orang sekitar 15 - 20 liter, dapat dihitung jika 1 KK memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari bisa mencapai 100 liter. Hal ini dapat menunjukkan bahwa sumberdaya air yang ada di kawasan kars Sukolilo melebihi kapasitas kebutuhan air masyarakat, dan yang lainnya juga dimanfaatkan sebagian besar untuk lahan-lahan pertanian dan peternakan.

8. Bahaya dan Risiko Bencana
Ancaman kekeringan di kawasan kars sering terjadi setiap tahunnya terutama pada daerah Grobogan yang meliputi 9 Kecamatan: Kecamatan Brati, Tawangharjo, Tanggungharjo, Wirosari, Ngaringan, Kedungjati, Grobogan, Kradenan, dan Pulokulon. Hal ini diakibatkan oleh sifat-sifat fisik kawasan batugamping dimana air lebih cenderung masuk ke bawah permukaan melalui gua-gua, lubang-lubang vertikal (sinkhole) dan sungai-sungai bawah permukaan, sehingga masyarakat memanfaatkan sumber-sumber air yang ada untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesalahan pengelolaan kawasan dapat berdampak pada terganggunya sistem hidrologi. Hal ini dapat berdampak pada terjadinya bencana kekeringan dan bencana ekologis lainnya.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No 24 tentang Penanggulangan Bencana, pasal 1, ayat 1). Bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas komponen ancaman (hazard) yang berupa fenomena alam dan atau buatan di satu pihak, dengan kerentanan (vulnerability) komunitas di pihak lain. Bencana terjadi apabila komunitas mempunyai tingkat kemampuan yang lebih rendah dibanding dengan tingkat ancaman yang mungkin terjadi padanya. Ancaman menjadi bencana apabila komunitas rentan, atau memiliki kapasitas lebih rendah dari tingkat bahaya tersebut. Setiap individu, komunitas maupun unit sosial yang lebih besar mengembangkan kapasitas sistem penyesuaian dalam merespon ancaman (Paripurno, 2002). Respon itu bersifat jangka pendek yang disebut mekanisme penyesuaian (coping mechanism) atau yang lebih jangka panjang yang dikenal sebagai mekanisme adaptasi (adaptatif mechanism). Mekanisme dalam menghadapi perubahan dalam jangka pendek terutama bertujuan untuk mengakses kebutuhan hidup dasar: keamanan, sandang, pangan, sedangkan jangka panjang bertujuan untuk memperkuat sumber-sumber kehidupannya (Paripurno, 2002).

Ancaman kekeringan merupakan siklus tahunan bagi beberapa wilayah yang ada di kawasan kars Kendeng Utara terutama di kawasan kars Grobogan sebagai kawasan tertinggi yang ada di wilayah ini. Pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko bencana dapat memberikan input positif kepada keberlanjutan kawasan kars sehingga dapat mengurangi risiko terhadap aset-aset yang ada, bila pembangunan tidak dalam perspektif risiko bencana akan memberikan input yang negatif yang dapat mengakibatkan terancamnya keberlanjutan suatu kawasan baik secara ekologis maupun secara fisik terutama pada aset-aset kehidupan yang ada di kawasan kars seperti sumber-sumber mata air yang ada, hal ini dapat mengancam lebih dari 13.000 KK dan lebih dari 4.000 hektar lahan pertanian dan perkebunan yang memanfaatkan sumber-sumber mata air yang ada sehingga dapat berisiko tinggi bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan dalam jangka waktu yang panjang dan dapat menimbulkan terjadinya bencana.

9. Pengelolaan Kawasan
Pengelolaan lingkungan terhadap risiko bencana berhubungan dengan pengelolaan partisipatif atas semua aset-aset kehidupan dan penghidupan di kawasan kars, antara lain (1) Aset alam: sumberdaya alam, air, lahan, dan lingkungan; (2) Aset fisik: infrastruktur, jalan, sarana dan prasarana dan sebagainya; (3) Aset ekonomi: pertanian, peternakan, harta benda; (4) Aset manusia: pola pikir, sumberdaya manusia, pengetahuan dan sebagainya; (5) Aset sosial-budaya: tatanan sosial, kearifan lingkungan, budaya dan tradisi, kepercayaan, gotong royong dan kelembagaan lokal. Dalam pengelolaan kawasan kars harus diperhatikan secara utuh untuk menjaga sistem yang ada di permukaan ataupun yang ada di bawah permukaan. Untuk menjaga aset-aset yang ada di kawasan kars harus dilakukan perlindungan kawasan terhadap sistem hidrologis yang ada, sebagai pengontrol, menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan proses karstifikasi kawasan kars. Keberlanjutan kawasan kars merupakan titipan bagi anak cucu di masa yang akan datang untuk itu perlu adanya kekuatan hukum yang dapat mengatur dan melindungi kawasan kars.

Pengelolaan kawasan kars harus diimplementasikan oleh setiap pihak terutama pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di kawasan secara partisipatif. Peningkatan populasi di masa yang akan datang akan memberikan tekanan-tekanan pada ekosistem kawasan kars dan akan berdampak pada degradasi lingkungan. Strategi pengelolaan kawasan kars pada dasarnya merupakan upaya-upaya pelestarian terhadap fungsi-fungsi ekosistem dalam lingkungan kars dan pengendalian fungsi ekologis yang dapat mendorong suatu keseimbangan, keserasian dan keberlanjutan kawasan dengan melibatkan semua pihak.

Keterpaduan antar wilayah-wilayah yang berada di kawasan kars Kendeng Utara meliputi Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati, Kabupaten Blora untuk mencapai tujuan yang sama dalam mengurangi kerentanan-kerentanan yang dapat menimbulkan risiko bencana. Pengelolaan lingkungan harus bersifat holistik yang mencakup aspek-aspek biotik, abiotik, ekonomi dan sosial-budaya. Perencanaan tata ruang harus mampu mengoptimalkan potensi kawasan kars sehingga dapat mengakomodasikan dinamika pembangunan yang berkelanjutan dan berperspektif pada pengurangan risiko bencana. Peran strategis dalam pengelolaan kawasan kars berbasis masyarakat dengan menjadikan masyarakat yang berada di kawasan ini sebagai aktor utama yang memegang peranan besar terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga perlindungan hukum suatu kawasan dapat menjadi jaminan bagi suatu kawasan yang dapat menguntungkan semua pihak.

10. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dapat ditarik kesimpulan :

  1. Wilayah perbukitan pada kawasan Kendeng Utara merupakan kawasan kars dengan proses karstifikasi aktif.
  2. Geomorfolgi kawasan kars Kendeng Utara adalah Perbukitan Kars Struktural dengan morfologi permukaan (eksokars) berupa bukit kerucut yang menjajar (conical hills), tebing patahan yang memanjang, lembah-lembah hasil pelarutan (dolina) dan mata air kars (karst spring). Morfologi bawah permukaan (endokars) ditemukan sistem perguaan struktural dan sungai bawah tanah yang berkembang mengikuti pola rekahan
  3. Mata air dan sistem sungai bawah tanah di kawasan kars Sukolilo dan Grobogan (Kendeng Utara) bersifat parennial (mengalir sepanjang musim).
  4. Perbukitan kawasan kars Kendeng Utara berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air-mata air yang mengalir di pemukiman, baik di bagian Utara maupun bagian Selatan kawasan ini.
  5. Lebih dari 8.000 KK di seputar kawasan Pati khususnya Kecamatan Sukolilo dan 5.000 KK di seputaran kawasan Grobogan khususnya Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari sangat bergantung pada mata air-mata air dan sungai-sungai bawah tanah yang keluar melalui gua-gua yang terdapat di kawasan kars Kendeng Utara sebagai sumber penghidupan mereka.
  6. Banyaknya sumber-sumber air yang keluar melalui rekahan batuan dan sungai bawah permukaan sangat berperan penting untuk kesuburan tanah dan produktivitas lahan-lahan pertanian yang ada di bagian bawah atau dataran dan lahan-lahan perkebunan serta hutan yang ada di bagian-bagian atas sebagai sumber aset kehidupan dan penghidupan masyarakat.
  7. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya air di kawasan kars Sukolilo masih menggunakan metode konvensional, namun pemanfaatanya mampu mencukupi kebutuhan dasar akan air bersih kawasan tersebut.
  8. Fungsi hidrologi di kawasan kars Kendeng Utara merupakan pengontrol utama sistem ekologi yang meliputi hubungan antara komponen-komponen abiotik (tanah, batuan, sungai, air dll), biotik (biota-biota gua serta flora dan fauna yang ada di kawasan kars), dan culture (lingkungan sosial, masyarakat, kebudayaan dan adat istiadat) yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya membentuk suatu ekosistem dimana kars sebagai kontrol utamanya.

11. Rekomendasi

  1. Berdasarkan hasil kajian dari fakta-fakta lapangan mengenai potensi dan kerberlangsungan fungsi utama kawasan, maka kawasan kars Pati – kawasan kars Grobogan masih berlangsung proses karstifikasi dan masuk dalam klasifikasi Kawasan Kars Kelas 1 menurut Kepmen ESDM No. 1456/K/20/MEM/2000 pasal 12.
  2. Pemerintahan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati perlu menetapkan klasifikasi mengingat fungsi perbukitan kars tersebut adalah daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air yang muncul di seluruh permukiman di kawasan Kars Grobogan dan Sukolilo. Sesuai dengan KEPMEN ESDM No. 1456/K/20/MEM/2000 , BAB VI mengenai PEMANFAATAN DAN PERLINDUNGAN KAWASAN KARS, Pasal 14: (1) Di dalam Kawasan Kars Kelas I tidak boleh ada kegiatan pertambangan. (2) Di dalam Kawasan Kars Kelas I dapat dilakukan kegiatan lain, asal tidak berpotensi mengganggu proses karstifikasi, merusak bentuk-bentuk kars di bawah dan di atas permukaan, serta merusak fungsi kawasan kars.
  3. Kawasan kars Sukolilo dapat dikembangkan menjadi aset wisata alam dengan konsep ekowisata yang bersifat konservatif.
  4. Perlu dilakukan eksplorasi bawah pemukaan untuk memetakan sistem-sistem perguaan dan sistem-sistem sungai bawah permukaan di kawasan kars Sukolilo seperti yang sudah dilakukan di kawasan kars Grobogan untuk menemukan hubungan sistem-sistem utama kawasan kars Kendeng Utara.
  5. Perlu adanya penelitian tentang keanekaragaman hayati yang ada di kawasan kars Kendeng Utara.

Referensi
Anonim, 2008, Laporan Pengkajian Partisipatif Dinamika Masyarakat Pengguna Air Kars, Kars Kendeng Utara, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta.
Anonim, 2008, Laporan Hidrologi Kars dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Kawasan Sukolilo, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dan Paguyuban Kadang Sikep.
Anonim, 2008, Laporan Ekspedisi Kars Sukolilo: Pemetaan Gua dan Sistem Hidrologi Bawah Permukaan, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta.
Anonim, 2007, Laporan Survey Speleologi, Hidrologi Kars dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Kecamatan Tawangharjo dan Kecamatan Wirosari, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta.
Anonim, 2007, Pengelolaan Ekosistem Kars Gunung Sewu, Makalah dalam Lokakarya Pengelolaan Ekosistem Kars Gunung Sewu. Kementrian Negara Lingkungan Hidup.
Anonim, 2006, Laporan Ekspedisi Grobogan: Pemetaan Gua dan Sistem Hidrologi Bawah Permukaan, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta & Masyarakat Peduli Kars Grobogan.
Anonim, 2001, Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar Tambakromo dan Sukolilo Skala 1 : 25.000, Bakosurtanal 2001.
Anonim, Citra Satelit Jawa Tengah.
Anonim, 2000, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars.

Acintyacunyata Speleological Club (ASC), 1989, Gua, Air dan Permasalahannya, ASC, DI Yogyakarta.
Acintyacunyata Speleological Club, 1995, Acintyacunyata Speleological Club News, Edisi Khusus Lima Puluh Tahun Indonesia Merdeka, ASC, DI Yogyakarta.
Acintyacunyata Speleological Club, 2005, Buku Pendidikan dan Pelatihan Speleology Dasar, ASC, Yogyakarta.
Bemmelen, RWV, 1970, The Geology of Indonesia, Vol IA General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, Second Edition, Martinus Nilhoff, The Haque, Netherlands.
Bougli, A, 1980, Karst Hidrology and Physical Speleology, Springer – Verlag, Berlin Heidelberg, New York.
Davis, Jan, and Lambert, Robert, 2003, Engineering In Emergencies, Chapter 4: Assessment and Planning, IT Publication Ltd., London.
Hermawan, Yandi, 1989, Hidrologi Untuk Insiyur, Penerbit Erlangga, Jakarta, Indonesia.
Hirnawan, Febri, 2007, Riset Bergulirlah Proses Ilmiah, Unpad Press, Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Haryono, 2001, Nilai Hidrologis Bukit Kars, Makalah dalam Seminar Nasional Eko Hidrolik, Teknik Sipil Universitas Gadjahmada.
Jonkowski. Jerzy, 2001, Geol 9111 Groundwater Environments, UNSW Groundwater Centre, University of New South Wales, New South Wales.
Kusumaningrat, Hikmat, dan Kusumaningrat, Purnama, 2007, Jurnalistik Teori dan Praktek, Remaja Rosdakarya, Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Kadar, D, Sudijono, 1994, Geologi Lembar Rembang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Mandel, S, 1981, Groundwater Resources: Investigation and Development, Academic Press, New York.
Moore, GW, and Nicholas, G,1978, Speleology, The Study of Caves, Zephyrus Press. Inc., USA.
Poulson, TL, and White, WB, 1969, The Cave Environment, Science Volume 165.
Paripurno, 2002, Community Based Disaster Management in The Merapi Prone Area: A Realistic Demand? Proceeding of Symposium on Natural Resources and Environment Management, UPN "Veteran" Yogyakarta.
Paripurno dkk, 2008, Kajian Potensi Kars Kawasan Sukolilo – Pati, Jawa Tengah, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dan Paguyuban Kadang Sikep.
Rahardjo, W, Sukandarrumidi, Rosidi, HMD, 1995, Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa.
Uhlig, H, 1980, Man and Tropical Karst in Southeast Asia, Geo-ecological differentiation, Land use and Rural Development Potential in Indonesia and Other Regions, Geo-Jurnal, Wiesbaden, Germany.
Wijanarko, 2007, Selamatkan Kars Grobogan dan Pati Jawa Tengah, Artikel dalam Kompas Rabu, 23 April 2008.

Tidak ada komentar:

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran