Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Senin, 06 Juli 2009

MENGELOLA EMOSI

Penulis: Dr. Setiawan Budi Utomo

Salah satu emosi yang cenderung bersifat destruktif dalam diri manusia adalah rasa marah.

Rasulullah saw mengajarkan kita sebagai seorang muslim untuk mengendalikan emosi, termasuk rasa marah. Banyak hadis yang menunjukkan betapa tercelanya mengumbar marah. Rasulullah saw bersabda kepada seseorang yang berkata kepada beliau, ” Berilah aku nasihat!” Maka beliau bersabda, “ Janganlah engkau suka marah.” Beliau mengulanginya hingga beberapa kali (Riwayat Al Bukhary, At Tirmidzy, Ahmad dan Al Baghawi.) Dampak kemarahan yang tidak terkendali, digambarkan oleh sebuah nasihat sebagai berikut: “Jauhilah amarah, karena ia bisa merusak iman, sebagaimana racun merusak madu. Amarah adalah musuh akal.”

Rasa marah yang dimaksud di atas adalah rasa marah yang tidak terkendali, bukan kemarahan yang timbul akibat dilanggarnya hukum-hukum Allah swt atau kehormatan Allah swt, Rasulullah saw dan Al Islam.

Menghilangkan amarah

Menahan atau mengendalikan rasa marah membutuhkan tekad dan usaha yang kuat. Itu sebabnya, Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya bersabda: “ Orang yang kuat itu bukanlah karena bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang dapat menguasai diri saat marah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban.)

Ibnu Qudamah dalam bukunya, Minhajul Qashidin, mengungkapkan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan rasa marah.

Pertama, memikirkan berbagai ayat atau hadis yang menyebutkan tentang keutamaan bersabar dan menahan marah. Hal ini pernah terjadi pada Umar bin Khattab ra sebagaimana diriwayatkan oleh Al Bukhary, dari hadis Ibnu Abbas ra.

Suatu ketika, seorang laki-laki meminta izin untuk bertemu dengan Umar bin Khattab. Setelah diizinkan untuk bertemu, dia berkata,” Wahai Ibnu Khattab, demi Allah, engkau tidak memberi kami yang banyak, dan tidak memberi keputusan kepada kami dengan cara yang adil.”

Umar marah besar mendengarnya, bahkan ia hampir saja memukulnya. Al Hurr bin Qais segera berkata,” Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman kepada Nabi Sallahu Alaihi wa sallam, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (QS. Al A’raf ayat 199)’. Dia adalah termasuk orang-orang yang bodoh.” Mendengar hal itu, Umar pun mengurungkan niatnya. Ia kemudian merenungkan ayat Allah tersebut.

Kedua, hendaknya, orang yang marah menakut-nakuti dirinya dengan siksa Allah. Misalnya, Ibnu Qudamah mencontohkan, dia bisa berkata, “ Kekuasaan Allah atas diriku lebih besar daripada kekuasaanku terhadap orang ini. Andaikata aku mengumbar amarahku, maka aku tidak akan aman jika Allah mengumbar amarahNya kepadaku pada hari kiamat. Padahal aku sangat membutuhkan ampunan.”

Ketiga, memperingatkan dirinya tentang akibat permusuhan, dengki dan amarah yang tidak terkendali. Akibat yang bukan hanya akan dirasakannya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

Keempat, membayangkan keburukan wajah yang timbul akibat marah. Wajah seseorang yang marah tentulah tidak enak dipandang orang. Kalau rasa marah menimbulkan keburukan pada wajah, tentu ia juga akan menimbulkan keburukan pada hati manusia.

Kelima, melakukan amal atau perbuatan yang disunnahkan oleh Rasulullah saw untuk menghilangkan marah. Pada saat merasa marah, Rasulullah saw mengajarkan kita untuk tetap tenang, berlindung kepada Allah swt dari godaan setan, serta mengubah posisi tubuh. Jika dalam keadaan berdiri, hendaknya ia duduk. Jika dalam posisi duduk, hendaknya berbaring.

Dalam hadis yang lain, kita juga diajarkan untuk berwudhu’. Diriwayatkan oleh Abu Wa’il, ia berkata,” Suatu kali, kami berada bersama Urwah bin Muhammad. Lalu muncul seseorang yang berbicara dengannya sehingga membuatnya marah besar. Urwah kemudian bangkit dan berwudhu’. Kemudian ia kembali lagi sambil berkata,” ayahku mengabarkan kepadaku, dari kakekku, Athiyah (seorang sahabat), dia berkata, Rasulullah saw bersabda,” Sesungguhnya amarah itu berasal dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang diantara kalian marah, hendaknya berwudhu’. (hadis riwayat Abu daud, Ahmad dan al Baghawi.)

Kecerdasan emosi

Allah swt dan RasulNya menjanjikan kepada orang yang mampu mengendalikan amarahnya dengan pahala dan surga. Sebelum mendapatkan pahala atau surga, insyaallah, orang-orang yang mampu mengendalikan amarahnya akan menikmati hasil perbuatannya berupa tingkat kecerdasan emosi yang tinggi.

Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dan mengelola emosinya. Kecerdasan emosi, dipercaya sangat berpengaruh bagi kemajuan dan kesuksesan hidup seseorang. Bahkan, sebagian orang meyakini, kecerdasan emosi mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam mempengaruhi kesuksesan hidup seseorang ketimbang kecerdasan intelektual semata.

Orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi cenderung memiliki kemampuan untuk memotivasi diri, tidak mudah frustasi serta mampu mengedalikan stres. Kemampuan mengelola emosi membuat seseorang memiliki ketrampilan dan kecakapan dalam membina hubungan dengan orang lain. Seperti, kemampuan untuk bekerja sama dan bersikap toleran kepada orang lain.

Kualitas pemimpin

Kecerdasan emosi juga merupakan salah satu kualifikasi yang semestinya dimiliki seorang pemimpin. Menurut Aribowo P dan Roy S (2001), seorang pemimpin setidaknya harus memiliki enam ketrampilan untuk dapat memimpin orang lain.

Mengenali emosi diri

Ketrampilan ini meliputi kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang kita rasakan dan menangkap pesan yang disampaikan. Hal ini penting agar kita tidak kehilangan kendali atas perasaan kita sendiri.

Mengelola emosi diri sendiri

Termasuk di dalamnya adalah; menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita; mengetahui pesan yang disampaikan oleh emosi dan meyakinkan diri kita bahwa kita pernah berhasil menangani emosi sejenis sebelumnya; bergembira mengambil tindakan untuk menanganinya.

Memotivasi diri sendiri

Emosi dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan untuk memberi perhatian dan memotivasi diri sendiri. Kendali emosional dalam menahan diri terhadap kepuasan yang berlebihan terhadap hasil pekerjaan dan kemampuan mengendalikan dorongan hati sangat menentukan keberhasilan seseorang.

Mengenali emosi orang lain

Mengenali emosi orang lain membuat kita menjadi pribadi yang empatik dan mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Atau yang disebut oleh Steven Covey, penulis buku 7 habits sebagai komunikasi empatik.

Mengelola emosi orang lain

Kemampuan untuk mengelola emosi orang lain merupakan pilar yang kokoh dalam membina hubungan dengan orang lain. Karena sebagian besar hubungan antar manusia dibangun atas dasar emosi yang muncul dalam interaksi dengan orang lain.

Memotivasi orang lain.

Ketrampilan ini merupakan bentuk lain dari kemampuan memberikan inspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untukmencapai tujuan yang diinginkan.

Itulah antara lain kebaikan yang dapat diraih oleh orang-orang yang mampu mengikuti sunnah Rasulullah saw. Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya,amin. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran