Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Rabu, 24 Juni 2009

GEOHIDROLOGI MERAPI


Oleh : Sari Bahagiarti


Abstrak

Sangat banyak pihak yang merasa memiliki Gunung Merapi, tidak hanya masyarakat di sekitar Yogyakarta, Magelang, Klaten dan Boyolali, tetapi juga masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia. Hal ini semata-mata karena Gunung Merapi telah memberikan banyak hal kepada masyarakat Jawa Tengah dan masyarakat dunia, berupa ilmu pengetahuan, sumberdaya alam (hayati dan non hayati), pemandangan indah, serta sumber pendapatan. Sekarang Merapi tidak hanya sekedar sumberdaya alam, tetapi juga komoditas ekonomis. Dari sisi hidrologi, Merapi merupakan sebuah sistem yang telah memberikan air berkualitas tinggi kepada masyarakat di sekitarnya. Jika sistem ini terganggu, dikawatirkan kualitas maupun kuantitas air yang diberikan Merapi kepada kita akan terganggu pula. Oleh karena itu, Merapi sebagai sebuah sistem hidrogeologi yang dibutuhkan untuk hajat hidup orang banyak, perlu dikelola secara selaras dan serasi dengan alam, dipahami, diselami, tidak dilawan, dan tidak direka-yasa.


Kata kunci: Merapi, Sistem Hidrogeologi, Pengelolaan secara selaras dan serasi


1. Pendahuluan


Merapi memang sebuah gunung api yang unik. Selain memiliki daya tarik luar biasa tatkala keaktifan meningkat, ia juga menyimpan banyak potensi, baik bersifat positif maupun negatif. Daya tarik pemandangan adalah letupan-letupan kecilnya, semburan lemah gasnya, guguran lava pijarnya, serta wedus gembelnya yang menggelora. Dari sisi pariwisata Merapi adalah salah satu primadona, dari sisi vulkanologi, Merapi adalah sebuah laboratorium gratis, dari sisi geologi, Merapi adalah jendela ke pusat bumi, dari sisi hidrologi, Merapi adalah reservoar nan tak kunjung asat, dari sisi pertambangan, Merapi adalah pabrik bahan bangunan, dan dari sisi pertanian dan kehutanan, Merapi adalah lahan yang sangat menguntungkan.

Selain merupakan zat yang menyejukkan, Merapi juga sebuah ancaman. Ancaman itu tidak saja bersifat primer, yaitu langsung datang dari kegiatan vulkanismenya, tetapi juga ancaman yang bersifat sekunder, datang dari endapan piroklastika yang diguyur hujan menjadi lahar dingin, serta ancaman tersier. Ancaman tersier merupakan ancaman yang datang diakibatkan dari ketidak-tepatan cara mengelolanya. Ancaman itu adalah degradasi kualitas lingkungan.

Menurut para pakar, suatu proses alam yang mempunyai potensi merusak tidak akan menjadi bencana apabila kita dapat mengelolanya dengan baik. Satu konsep pengelolaan bencana yang ditawarkan dalam tulisan ini adalah berdasar kepada Selaras dan Serasi dengan Alam


2. Tentang Geologi

Gunung Merapi merupakan gunungapi strato komposit, paling aktif di Indonesia, dan di dunia. Setiap tahun berjuta meter kubik rempah vulkanik dikeluarkan berupa lava, piroklastika, gas dan uap air, serta lahar, yang kemudian memberikan kemakmuran bagi masyarakat di sekitarnya. Bahan rempah vulkanik ini diendapkan di sekeliling lubang kepundan dan pada akhirnya membangun tubuh gunung ini hingga menjadi besar dan membubung tinggi.

Merapi mengalami evolusi vulkanik yang menghasilkan batuan dengan karakteristik spesifik dalam setiap periodenya. Menurut Camus dkk (2000), periode kegiatan merapi dapat dibagi menjadi 4 yaitu: Periode Pre Merapi, Ancient Merapi, Middle Merapi, Recent Merapidan Modern Merapi. Pre Merapi menghasilkan lava, Ancient Merapi menghasilkan lava yang membentuk Gunung Bibi, auto breksia lava dan endapan lahar. Middle Merapi menghasilkan endapan lava Batulawang dan Gajahmungkur, lava andesitik yang tebal, dipisahkan oleh Sesar Kukusan Umur 2200 th - 14 000 th. Periode Recent Merapimenghasilkan endapan lava tipis, endapan awan panas, dan lahar, umurnya 1000 tahun hingga 2000 tahun Merapi Moderen mempunyai kegiatan yang sangat khas yang disebut Tipe merapi. Dicirikan dengan pertumbuhan kubah lava, guguran lava menghaslkan awan panas, dan endapan epiklastik lahar, umurnya lebih muda dari 1000 tahun (Setelah letusan 1006 M).


3. Sumberdaya Hidrogeologi

Merapi menangkap, menyimpan, dan mengalirkan air bersih bermutu tinggi di dalam batuannya dalam jumlah besar. Gunung ini memasok air ke daerah-daerah yang berada di bawahnya. Merapi adalah sebuah sistem hidrogeologi. Di atas permukaan, sungai-sungai yang berasal dari bagian atas menuruni lereng, membuat pola radier, mengalir ke bawah ke Kabupaten Magelang, Kabupaten Sleman, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali. Air dari Merapi yang mengalir di sungai-sungai ini sungguh sangat bersih. Hanya kemudian berangsur menjadi semakin kotor sejalan dengan perjalanannya menjauhi pusat asalnya, melalui komunitas kehidupan khususnya manusia.

Karena endapan Proto Merapi dan Merapi Kuno (Tua) berupa lava, maka dalam sistem hidrogeologi lereng Merapi bertindak sebagai batuan dasar kedap air. Endapan Merapi Pertengahan (Merapi Dewasa) bertindak sebagai akifer semi tertekan yang menghasilkan sumur-sumur artesian di daerah Sleman dan Muntilan (Sir MacDonald & Partners, 1984). Sifat akifer yang semi tertekan disebabkan oleh kondisi batuan yang sudah mulai mengalami diagenesis (pembatuan), adanya lava secara setempat-setempat (dari data bor), dan adanya lapisan paleo soil berupa lempung hitam kecoklatan setebal 10 cm hingga 60 cm, yang memisahkan antara endapan ini dengan Merapi Sekarang (Muda). Warna kecoklatan pada paleo soil diakibatkan oleh proses oksidasi. Ketebalan endapan Merapi Pertengahan berkisar antara 50 m - 100 m (Hendrayana, 1993). Endapan Merapi Sekarang (Muda) yang berada di lereng baratdaya sangat didominasi oleh endapan lahar, sangat kaya akan pasir lepas, secara umum belum mengalami diagenesis. Endapan ini membentuk akifer bebas, dengan ketebalan antara 10 m - 50 m, dan kedalaman muka airtanah antara 5 sd 20 m dari permukaan.

Garis-garis ekuipotensial sebagaimana tercermin dalam permukaan freatik maupun pisometrik airtanah mempunyai pola konsentris, sedangkan arah aliran adalah sentrifugal terhadap puncak kerucut Merapi (Kusumayudha, 1993). Untuk daerah lereng baratdaya, dengan sendirinya arah aliran airtanah adalah ke baratdaya pula.

Sistem hidrogeologi Merapi dibangun oleh endapan Merapi yang berupa endapan piroklastika kasar hingga halus (bongkah-bongkah, kerakal, kerikil, pasir, dan abu vulkanik), yang kadang-kadang disisipi lava. Bagian alas sistem akifer merupakan masif lava Merapi Tua. Gunung Merapi telah membangun sebagian wilayah DIY dari pasir vulkaniknya yang bersifat sangat permeabel, atau mampu menyerap, meluluskan air dengan cepat dan sempurna.

Batuan Merapi yang lebih didominasi piroklastika lepas seperti pasir, kerakal, kerikil, bolder, abu vulkanik bersifat sangat sarang dan lulus air. Oleh karena itu tubuh Merapi adalah penangkap air hujan nomor satu. Begitu maksimal air hujan yang ditangkap bila jatuh ke atasnya. Air hujan yang ia tangkap selanjutnya diresapkan ke dalam tanah/batuan untuk menjadi airtanah. Airtanah tersaring oleh butir-butir batuan Merapi hingga begitu jernih.

Apabila airtanah Merapi yang kemudian mengalir di bawah permukaan secara rembesan bergerak menuju kerendahan terpotong oleh topografi, rekahan, atau patahan, maka meluahlah ia sebagai mata air. Mata air Merapi dimanfaatkan sebagai sumber air minum dan air bersih oleh masyarakat di sekitarnya maupun masyarakat di luar itu. Sebagian air kemasan mengambil air Merapi ini.

Sistem akifer (lapisan pembawa air) Merapi tidak hanya satu lapis. Setidaknya diinterpretasikan ada tiga lapis akifer. Air pada akifer yang letaknya paling atas adalah yang dimanfaatkan oleh penduduk melalui sumur gali dangkal, air dari akifer di bawahnya untuk saat ini lebih banyak dimanfaatkan untuk industri dan usaha perhotelan, sedangkan air yang berasal dari akifer yang paling dalam, diperkirakan belum disentuh oleh siapapun.


Kualitas airtanah merapi termasuk prima, kandungan unsur padat terlarut (TDS)-nya kecil. Maksimum TDS airtanah Merapi 300 mg/l (Kusumayudha, 1992). Kandungan unsur-unsur penting yang berguna maupun yang tidak berguna, secara umum berada pada kisaran yang dianjurkan oleh DEPKES. Airtanah Merapi termasuk fasies kalsium-bikarbonat (jenis air paling baik untuk air minum). Hanya ada satu catatan, bahwa di tempat-tempat tertentu, kandungan unsur besi cukup tinggi, yaitu lebih dari 0,3 mg/l.



4. Manfaat

Para pihak yang telah memanfaatkan air dari Merapi adalah masyarakat yang tinggal di sebagian Kabupaten Magelang, Kabupaten Sleman, sebagian Kabupaten Klaten, dan sebagian Kabupaten Boyolali. Tidak hanya itu masyarakat kodya Yogyakarta dan Bantul diperkirakan masih merasakan air Merapi ini. Jadi Merapi adalah sebuah perangkap air yang memberi minum kepada banyak manusia bahkan yang tinggalnya puluhan km dari puncaknya.

Sebagai sumberhidrogeologi, Merapi merupakan reservoar dan mata air yang tak ada hentinya memasuok air ke daerah di sekelilingnya. Jika sistem hidrogeologi Merapi khususnya di bagian resapannya terganggu, maka dimungkinkan akan terjadi gangguan pula terhadap kuantitas dan kualitas air yang dihasilkannya. Sebagai sumber air bersih kehadiran Merapi dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya.



5. Konservasi

Sebagai sumber air, sistem hidrogeologi tidak boleh diganggu. Jika diganggu, akan terganggu pula azas manfaat yang lekat padanya. Kawasan yang berfungsi sebagai penangkap hujan sebaiknya tidak dikurangi baik kuantitas maupun kualitasnya. Secara kuantitas terjadi bila kawasan tersebut benar-benar telah berubah fungsi misalnya menjadi permukiman, perindustrian, dan sarana-prasarana fisik lainnya. Secara kualitas terjadi bila semula permeabilitasnya besar, kemudian mengecil karena porositasnya berkurang. Porositas dapat berkurang bila ruang antar butirnya mengecil atau tertutup sebagian. Ruang antara butir dapat mengecil karena sementasi, atau disintegrasi batuan karena pelapukan. Sementasi dapat terjadi sebagai dampak adanya proses pelarutan. Sedangkan pelapukan dapat terjadi karena cuaca, namun sering kali diperpesat oleh organisme, misalnya tumbuh-tumbuhan.

Mengelola Merapi tidak semudah mengelola rumah tangga. Di dalamnya melibatkan banyak komponen yang antara satu dengan lainnya sering berbeda cara dan berbenturan kepentingan. Jika kawasan resapan Merapi berkurang baik secara kuantitas maupun kualitas, dikhawatirkan jumlah air yang dapat ia berikan kepada masyarakat di sekitarnya akan berkurang pula. Untuk menjaga itu sebaiknya kawasan resapan ini tetap terjaga dan terpelihara keutuhannya. Kawasan yang paling besar daya serapnya terhadap air hujan adalah kawasan yang berupa padang batuan lepas di sekitar puncak gunung. Kawasan yang masih aktif dan selalu diperbarui oleh kegiatan Merapi ini hendapnya tetap berupa hamparan bongkah, kerakal, kerikil dan pasir yang sangat permeabel itu.

Konsep yang pernah dilontarkan di dalam SKH Kedaulatan Rakyat () yaitu selaras dan serasi dengan alamrasanya sangat tepat untuk mendukung konsep pengelolaan Merapi yang berkesinambungan berbasis kelestarian lingkungan. Yang jelas, konsep ini dapat diterapkan dalam semua metode pengelolaan bencana baik yang internal maupun yang eksternal.

Dalam konsep selaras dan serasi dengan alamhal-hal yang disyaratkan dapat diuraikan sebagai berikut: Selaras mempunyai makna searah dan setujuan, tidak bertentangan, sedangkan serasi dapat diartikan bahwa semua yang terlibat terasa cocok, perpaduannya menghasilkan komposisi yang indah. Dalam implementasinya, konsep ini menggariskan tindakan-tindakan yang tidak melawan alam, tidak merubah alam, tidak merekayasa alam, menyesuaikan diri dengan alam, mengikuti proses alam, dan ngemong alam. Dengan demikian niscaya alam tidak akan memusuhi kita.

6. Penutup

Kita seharusnya berterima kasih kepada Gunung Merapi yang telah membangun sebagian besar wilayah DIY, Magelang, Boyolali, dan Klaten dengan pasir vulkaniknya, yang membentuk tanah yang sangat permeabel, mampu menyerap, serta meluluskan air dengan cepat dan sempurna. Daya serap tanah Merapi jangan dikira tidak dapat berkurang. Hal ini dapat terjadi apabila bagian yang paling sensitif dalam meresapkan air hujan ditutupi oleh bangunan-bangunan, beton, jalan-jalan aspal, atau dirubah menjadi kawasan yang beralih fungsi. Jika daya serap tanah Merapi berkurang, maka akan berkurang pula airtanah yang akan diberikannya kepada kita. (Sari Bahagiarti, Fakultas Teknologi Minerl, UPN Veteran Yogyakarta)

Tidak ada komentar:

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran