Jadwal Sholat

Waktu Sholat untuk 6 Juta Kota Sedunia
Country:
Silahkan baca semoga ada manfaatnya, terima kasih. Semoga Bermanfaat

Rabu, 29 Juli 2009

Optimalkan Kecerdasan dan Prestasi Anak dengan Membatasi Konsumsi Makanan Jajanan"

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Q:Al-Ma’idah: 88)

Salah satu tujuan pembangunan kesehatan yakni meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ketika berbicara tentang SDM yang berkualitas, maka golongan usia yang paling menentukan dalam membentuk kecerdasan dan perilaku yakni pada Balita dan anak usia sekolah. Hal ini dikarenakan kemampuan dan kecerdasan anak dapat dioptimalkan pada masa keemasannya tersebut.

Untuk mengoptimalkan kecerdasan anak, dibutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang. Hasil riset survai menunjukkan bahwa saat ini masalah kesehatan dan kekurangan gizi masih mendera anak anak :
1. Pada anak sekolah (akhir Desember 2008), terdapat 56,4% anak dengan berat badan kurang, 35% memiliki tubuh pendek dan hampir 95% dari sampel yang diteliti mengkonsumsi makanan yang mengandung kalori di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan.
2. Hampir sebagian besar anak sekolah yang diteliti ternyata mengalami defisiensi micronutrient zinc dan dapat mengurangi daya imunitas.
3. 90% anak jajan di sekolah dan 40% karena anak tidak terbiasa sarapan pagi. Sebagian besar anak sekolah jarang sarapan pagi ketika pergi ke sekolah. Mereka mengandalkan jajanan di sekolah dengan kondisi keamanan dan kesehatannya yang belum terjamin serta pemenuhan kebutuhan gizi selama belajar di sekolah.
4. Jajanan anak sekolah 40,8% nya mengandung bakteri E.coli yang biasa terdapat pada usus besar manusia, 40% sampel jajanan mengandung pewarna dan 3% nya ditemukan bahan berbahaya seperti formalin dan sejenisnya.
(Siti Nurhidajah 2008)

Makanan jajanan yang biasa di konsumsi anak anak, bukan hanya kurang bergizi, namun juga mengandung bahan bahan tambahan (zat aditif) yang berbahaya. Zat aditif adalah zat yang ditambahkan ke dalam makanan atau pun minuman yang bertujuan memberikan rasa, warna yang menarik, dan supaya makanan atau pun minuman tersebut dapat bertahan lama. Zat aditif ini sama sekali tidak mengandung nilai gizi kepada yang mengkonsumsinya. Dalam jumlah yang tidak terlalu berlebihan zat aditif ini tidak berbahaya, akan tetapi jikalau telah melebihi dari standar yang normal maka sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Misalnya dalam jangka panjang akan menyebabkan kanker, gangguan fungsi ginjal, hati, menurunnya fungsi otak yang berakibat makin melemahnya daya ingat seseorang, dan efek-efek negatif lain yang dapat mengganggu kesehatan.

Bahan aditif terlarang yang sering terkandung dalam bahan makanan yaitu :
• Zat pewarna yang dilarang, antara lain auramine, metanil yellow, chrysoidine, rhodamin, burn umber. Zat pewarna yang dimaksud dipergunakan untuk pewarna industri tekstil dan lain-lain.
• Zat pengawet, seperti nitrofuran, asam benzoate, dan kloroform. Formalin dan boraks juga berada di antara pengawet yang dilarang karena bukan untuk digunakan pada makanan.
• Zat pemanis, sakharin dan siklamat.

Bahaya yang ditimbulakan oleh zat aditif tersebut yaitu :
• Zat pewarna seperti rhodamin, jika dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan kanker hati beberapa tahun mendatang.
• Vetsin atau mono sodium glutamate (MSG) yang dikonsumsi secara berlebihan bisa menyebabkan kanker. Dalam jangka pendek bisa juga menyebabkan pusing dan mual.
• Formalin dan boraks bisa membuat gangguan pencernaan, muntah-muntah, hingga depresi system saraf.
• Pencemaran timbal (Pb) pada makanan yang dijajakan di pinggir jalan tidak bisa diremehkan karena bisa mengakibatkan infertilitas, kelumpuhan, mual, dan muntah-muntah, sakit kepala, hingga kesulitan berpikir.
• Selain timbale, makanan jajanan yang tidak higienis sangat mungkin tercemar bakteri E.coli. Bakteri ini menyebabkan sakit perut, diare dan gangguan pencernaan lainnya.

Saat ini, dimana-mana dapat kita temui penjual makanan dan minuman untuk anak-anak sekolah yang sama sekali jauh dari kabersihan. Penampilan dari makanan dan minuman itu sendiri begitu mencolok sehingga menarik bagi anak-anak untuk membelinya, justru inilah yang perlu diwaspadai jangan sampai terlalu banyak zat pewarna dan zat pemanis yang dipergunakan. Seperti penjual es warna, minuman berwarna yang dikemas dalam botol aqua kecil yang tidak terdaftar di Balai POM Depkes RI, dan yang lainnya. Sudah banyak informasi, baik cetak mau pun elektronik bahwa di beberapa sekolah beberapa anak sering keracuna makanan mau pun minuman di sekolahnya. Yang direpotkan tentunya kembali kepada pihak sekolah dan orang tua anak-anak tersebut.

Beberapa tips untuk mengurangi anak mengkonsumsi makanan jajanan adalah sebagai berikut :
• Biasakan makan pagi. Hal ini efektif untuk mengurangi nafsu jajan pada anak dan remaja.
• Membawa bekal. Dengan membawa bekal, selain kebersihan terjaga, nutrisi juga dijamin seimbang.
• Sediakan kudapan/camilan sehat di rumah, bisa berupa buah, kue rendah kalori atau yoghurt.
• Variasi makanan di rumah. Menu yang berganti-ganti membuat kita tidak cepat bosan dan mencari pilihan lain di luar rumah, yang belum tentu memenuhi syarat gizi. Ini bisa diterapkan juga di kantin-kantin sekolah dengan menyediakan makanan yang sehat yang variatif dan bergizi, sehingga murid tidak membeli jajanan di luar sekolah.
• Jangan biasakan mengganti makanan dengan jajanan.
• Jangan terlalu sering makan di restoran fast food. Makanan yang ditawarkan umumnya mengandung garam yang tinggi dan penyedap rasa berlebih. Kandungan kalorinya juga lebih besar disbanding kandungan nutrisinya. Protein, mineral dan vitaminnya pun sangat rendah.

Catatan dari Psikolog :
Psikolog Universitas Indonesia, Mayke S. Tedjasaputra mengatakan, untuk mencegah anak terbiasa jajan, maka harus dimulai dari pola makan keluarga yang salah satu caranya dengan membuat "kudapan tandingan" yang tidak kalah enak dari jajanan. Sebagai upaya preventif ini, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat, namun orangtua harus mencontohi atau menjadi panutan anak untuk kebiasaan sehat ini.

Sementara, sebagai upaya kuratif, orangtua harus menata kegiatan makan, membuat penganan bersama anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Orangtua harus berani bertindak tegas melarang anak yang suka jajan karena kebiasaan ini bisa berpengaruh pada pola makan anak. Ia mengatakan, kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, padahal makanan yang dibelinya belum tentu bergizi dan sehat. Untuk mencegah kebiasaan itu, jangan biarkan anak meminta jajan, sekalipun mereka merengek-rengek memintanya. "Sampai menangis berguling-guling pun biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran," katanya. Namun, sesekali memang anak boleh diberi kesempatan untuk jajan, namun tetap harus diberi pengertian bahwa kebiasaan jajan tidak baik bagi kesehatan hidup mereka.

Orangtua juga perlu mengetahui bahwa kebiasaan jajan pada anak belum tentu karena mereka menginginkan jajanan, karena mereka kerap melakukan itu demi pengalaman menyenangkan, ekspresi perlawanannya terhadap orangtua, meniru dan menarik perhatian sang teman. Salah satu upaya mencegah atau mengurangi kebiasaan anak jajan di sekolah adalah dengan membatasi pemberian uang jajan atau membuat ketentuan bahwa mereka hanya dibolehkan jajan pada waktu atau hari tertentu saja.

Sementara untuk mencegah anak mengonsumsi jajanan kurang sehat dan higienis, mengutip Spesialis Gizi Klinik Departeman Radioterapi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Fiastuti Witjaksono, orangtua harus membiasakan anak untuk sarapan pagi. Sarapan pagi sangat penting karena merupakan persiapan asupan energi untuk beraktifitas dan menyerap pelajaran di sekolah. Bagi anak yang susah makan di rumah, orangtua harus bisa memberikan pengertian pada anak bahwa makanan itu memang demi kebutuhan tubuh si anak, bukan untuk memenuhi kepentingan orangtua.

Bergizi

Asupan nutrisi yang tepat akan membuat anak tumbuh optimal di mana setiap hari anak membutuhkan gizi seimbang berupa karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Asupan kandungan nutrisi itu harus mempertimbangkan porsi atau variasi makanan yang dikonsumsi. Konsumsi lemak misalnya, mencapai 30 persen dari total energi setiap hari dan diperlukan untuk menyerap vitamin penting seperti A, D, E, dan K secara maksimal.

Masalah gizi anak sebaiknya mendapatkan perhatian khusus, mengingat orangtua masih sering salah paham mengenai hal ini. Tiga masalah gizi, yakni kurang gizi, kelebihan gizi, dan salah gizi yang masing-masing memiliki indikasi dan akibat yang berbeda. Untuk menghindarinya, perlu komposisi seimbang antara karbohidrat (45-65 persen), protein (10-25 persen), lemak sedikitnya 30 persen, dan bermacam vitamin lain yang mutlak diberikan kepada anak agar pertumbuhannya optimal. Jika tidak seimbang, maka anak berada dalam risiko besar.

Perencanaan makan yang cerdas oleh orangtua akan menciptakan pola makan yang sehat, terkontrol, dan menyenangkan. Kuncinya terletak pada jumlah kalori sesuai kebutuhan, jadwal makan teratur, dan jenis makanan dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemak seimbang, di samping nutrien spesifik yang terpenuhi. Karena kekurangan gizi pada anak akan berpengaruh pada pertumbuhan fisik, perkembangan otak, perkembangan kepandaian, dan kematangan sosial.

Orangtua juga perlu mengetahui berapa derajat kebutuhan kalori anak. Menurut teori kesehatan, anak usia satu hingga tiga tahun membutuhkan 1.300 kalori per hari, usia empat hingga enam tahun membutuhkan 1.800 kalori per hari, dan umur tujuh hingga 10 tahun membutuhkan 2.000 kalori per hari. Anak harus dibiasakan makan tiga kali sehari dan ditambah makanan kecil untuk memenuhi kebutuhan kalori tersebut.

(Semoga artikel ini bermanfaat untuk membentuk generasi yang handal dan kuat, sehat lahir batin. Lebih baik mencegah daripada mengobati)..

Tidak ada komentar:

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan menunjuki jalan Kebenaran